Hi, guest ! welcome to Yahoo!. | About Us | Contact | Register | Sign In
Showing posts with label Artikel. Show all posts
Showing posts with label Artikel. Show all posts

Thursday, October 13, 2016

Cak Nun: Yang Bilang Gubernur Itu Pemimpin Siapa?


Bungtoms.com -- Meski Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) telah meminta maaf secara terbuka, kontroversi soal surat Al-Maidah 51 belum tamat. Pasalnya, penanganan pelaporan dari sejumlah ormas tentang dugaan penghinaan Agama di Bareskrim tetap berlanjut, kata Kadiv Humas Polri Irjen Boy Rafli Amar di Mabes Polri (10/10).

Seperti diketahui, surat Al-Maidah ayat 51 yang disebut Ahok diyakini sebagian orang sebagai ayat penolakan terhadap pemimpin kafir.  Namun menurut Prof. Quraish Shihab, tafsir ayat itu tidak sesederhana itu. Tafsir kata ‘awliya’ dalam ayat itu saja tidak sebatas pemimpin.

Berbicara soal pemimpin kafir, di kesempatan berbeda, budayawan senior Emha Aiun Najib tidak setuju jika kafir dan Muslimnya seseorang dinilai seperti benda mati.

“Status Muslim dan kafir itu dinamis (pada setiap orang), tidak bisa dinilai dengan ukuran statis,” kata pria yang akrab disapa Cak Nun ini sembari menegaskan bahwa pendapatnya tidak ada kaitannya dengan Gubernur Ahok.



Pandangan alternatif pria kelahiran Jombang ini mengingatkan juga pada hadist Nabi Saw yang bersabda: “Tidak termasuk orang yang beriman, siapa saja yang kenyang sedangkan tetangganya dalam keadaan lapar.” (HR. Bukhari)

Selain itu, lanjut Cak Nun, Muslim atau kafir tidak berdiri sendiri. Kafir kepada siapa? Jika ia kafir dalam arti membangkang atau ingkar pada perintah Iblis, berarti sejatinya ia beriman pada Allah. Sebaliknya, jika ia berserah diri pada rayuan Iblis maka ia sejatinya orang yang ‘Muslim’ pada Iblis.
“Hukum tidak mengadili manusia, tapi yang diadili adalah perbuatannya,” kata penulis buku ‘Slilit Sang Kiayi’ ini menjelaskan filosofi hukum.

Karena itu, menghakimi seseorang  bahwa ia Muslim dan kafir bukan dilihat dari identitasnya, tapi perbuatannya. Jadi orang yang sekarang disebut Muslim bisa kafir kapan saja.

“Toh Anda tidak bersyukur aja tergolong kufur ko,” katanya sambil menjelaskan ragam tingkatan kufur.

Jika kita ditinjau dari hadist-hadist Nabi, kekafiran itu identik dengan moral seseorang. Bukhari misalnya meriwayatkan, “Tidaklah beriman seorang pezina ketika ia sedang berzina. Tidaklah beriman seorang peminum khamar ketika ia sedang meminum khamar. Tidaklah beriman seorang pencuri ketika ia sedang mencuri.”

Cak Nun juga menyampaikan kritik soal dikotomi pemimpin kafir tapi adil dan pemimpin Muslim tapi dzalim. Pertama, keduanya bukanlah kriteria pemimpin.  Muslim tapi dzalim tidak memenuhi kriteria kepemimpinan, sedemikian sehingga tidak bisa disebut pemimpin.

“Ini bertentangan satu sama lain. Ini kesalahan substantif dalam berfikir”

Cak Nun lalu mempertanyakan bagaimana mungkin ada Muslim tapi disebut dzalim. Baginya, jika dikaji makna substantifnya, kalau dzalim pasti bukan Muslim. “Gula ko pahit?,” katanya memberikan analogi.

Tidak berbeda dengan pernyataan tentang kafir itu adil. Kekufuran itu, kata Cak Nun, bahkan merupakan puncak ketidakadilan. Kepada Tuhan saja ia tidak bersikap adil, bagaimana ia bisa disebut adil secara horizontal. Karena itu, dikotomi kesalehan individual dan kesalehan sosial juga terlalu dangkal. Bagi Cak Nun, jika perilakunya merusak di ranah sosial, sejatinya tidak layak disebut saleh meski secara lahir terlihat saleh. Karena orang saleh (secara individu) akan saleh secara sosial.

Penjelasan ini sejatinya mencerminkan hubungan identik antara keimanan dan empati sosial. Misalnya, dalam sebuah hadist, Nabi Saw bersabda: “Tak beriman seseorang dari kalian hingga dia menginginkan kebaikan bagi saudaranya sebagaimana dia menginginkan kebaikan bagi dirinya sendiri.”

Selanjutnya, kata Cak Nun, “Yang bilang gubernur itu pemimpin itu siapa?”  Gubernur, bagi pria asal Jombang ini,  bukanlah pemimpin tapi petugas. Gubernur sebagaimana pejabat lainnya ialah orang yang dibayar oleh rakyat untuk bekerja mengurus transportasi publik, kemacetan, banjir dan hal-hal semacamnya.

“Itu pembantu rumah tangga dalam skala provinsi. Ko’ disebut pemimpin,” katanya mengajak kembali menggali konsep hakiki ‘pemimpin’ dalam Islam.


Sumber: IslamIndonesia.id

Selengkapnya »
10/13/2016 11:56:00 AM | 0 komentar

Friday, November 13, 2015

Efisiensi Energi Listrik Menggunakan Batu Alam


Merupakan suatu hal yang tidak bisa terpisahkan antara kehidupan manusia era modern dengan kebutuhan akan energi listrik. Seiring berkembangnya waktu dan berkembangnya teknologi serta pembangunan di Indonesia yang semakin pesat dimana konsumsi listrik yang meningkat terus menerus menyebabkan kekhawatiran tersendiri akan ketersediaan energi listrik yang sampai saat ini masih menggunakan bahan baku fosil sebagai bahan baku utama. Pelaksanaan penyediaan energi listrik oleh PT. PLN selaku lembaga resmi yang ditunjuk pemerintah belum dapat memenuhi kebutuhan masyarakat Indonesia akan energi listrik. 
Ditinjau dari letak geografis Indonesia yang terdiri dari ribuan pulau dan tidak meratanya pusat pendistribusian energi listrik tentu menyebabkan desa – desa tertinggal dan terpencil belum bisa terjamah listrik. Kenyataan ini berbanding terbalik dengan keadaan masyarakat di perkotaan yang kehidupannya selalu berkaitan dengan penggunaan energi listrik.
Karena hal inilah perlu dipikirkan bagaimana cara meminimalisir penggunaan energi listrik. Salah satu inovasi yang bisa dikembangkan untuk efisiensi penggunaan energi listrik adalah dengan membuat rumah ramah lingkungan. Apa yang anda maksud dengan rumah ramah lingkungan ? Rumah ramah lingkungan yang kami maksud adalah rumah yang bisa memberikan hawa dingin di dalam ruangan dan bisa menurunkan suhu di luar rumah. Selain itu rumah ini akan membantu untuk efisiensi penggunaan listrik rumah tangga. Bagaimana keterkaitan itu bisa terjadi akan kami bahas nanti. Sebelumnya kami akan menunjukkan terlebih dahulu konsumsi energi listrik pada rumah tinggal :

  1. Memasak nasi 10%
  2. Lampu 5%
  3. Pemanas air 1%-4%
  4. AC (Air Conditioner) 38%
  5. Kipas 3%
  6. Kulkas 2%
  7. Komputer 10%
  8. Televisi 2%
  9. Radio 1%
  10. Sanyo 6%
  11. Mesin cuci 9%
  12. Setrika 9%

Dari data di atas terlihat bahwa penggunaan AC adalah beban terbesar dalam penggunaan listrik. Pada dasarnya dinding rumah yang tidak difinishing atau belum dicat sama sekali akan menyebabkan hawa panas baik di dalam maupun luar rumah termasuk pemilihan warna yang beragam juga ikut mempengaruhi suhu disekitar rumah. Cat dinding berwara putih lebih tepat digunakan daripada warna yang lain (Prianto,2010). Selain pemilihan warna cat dinding yang berpengaruh terhadap suhu disekitar rumah, pemakaian batu alam sebagai fasad rumah tinggal juga ikut berpengaruh. Bahkan pengaruhnya lebih signifikan.
Sebenarnya pemakaian batu alam sebagai fasad rumah tinggal merupakan salah satu usaha menurunkan suhu baik pada eksterior maupun interior rumah. Apalagi saat ini jumlah penyedia berbagai batu alam semakin meningkat dan sangat mudah dijumpai. Jenis batu yang bisa atau sering digunakan adalah batu alam palimanan, batu alam candi, batu alam andesit, dan batu alam keramik. 
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Eddy Prianto, penurunan suhu di dalam ruangan sangat signifikan terjadi pada dinding berlapis batu alam, terutama batu alam palimanan dan batu alam candi. Dinding dengan plesteran atau belum dicat akan mengalami peningkatan suhu pada interiornya, untuk dinding dengan pengecatan (warna putih) adalah relatif sama, serta untuk dinding dengan fasad batu alam akan mengalami penurunan suhu hingga 8%. Keadaan yang disebutkan sebelumnya merupakan suhu dinding pada bagian interiornya, sedangkan suhu permukaan dinding bagian luar adalah sebagai berikut :
1)      Dinding plesteran meningkat 45% dari suhu eksteriornya
2)      Dinding dengan pengecatan masih relatif sama, sedangkan
3)      Dinding batu alam hanya meningkat 8% dari suhu eksteriornya
Dilihat dari keterangan diatas, bisa kita ketahui bahwa dinding dengan penggunaan batu alam lebih ramah lingkungan dan bisa mengurangi dampak Global Warming.
Lalu apa kaitan penurunan suhu ini dengan hemat penggunaan listrik secara TOTAL ? Ya, pada pembahasan awal sudah disebutkan bahwa beban listrik rumah tinggal paling besar adalah pada penggunaan AC (Air Conditioner). Fungsi AC adalah untuk menyejukkan atau mendinginkan sebuah ruangan. Jadi bisa dikaitkan bukan antara penurunan suhu interior dengan hemat listrik secara TOTAL? Ketika penggunaan AC bisa diminimalisir maka energi listrik yang digunakan bisa lebih hemat. Dari berbagai referensi yang ditemukan, kenaikan beban suhu 2  akan menambah beban listrik sebesar 30 watt/jam. Jadi dengan perhitungan tertentu, perbedaan suhu 2  saja harus menambah 10% dari biaya tagihan kebutuhan pokok.
Kesimpulannya adalah dinding yang difinishing dengan batu alam akan membuat efisiensi pemakaian listrik meningkat. Alhasil hematlistrik secara TOTAL bisa dilaksanakan. Bukan hanya akan hemat listrik secara TOTAL tetapi juga akan mengurangi terjadinya penipisan lapisan ozon yang berhubungan dengan berkurangnya dampak pemanasan global (Global Warming). 
Hal yang bisa dilakukan terkait dengan efisiensi pemakaian listrik pada rumah tinggal adalah setelah matahari terbenam dilakukan “pengusiran” hawa panas dengan energi alamiah atau elektrik berdaya rendah seperti kipas angin, karena pada sekitar pukul 16.00 – 19.00 suhu interior rumah akan lebih tinggi dibanding suhu eksteriornya. Bahkan dinding fasad rumah yang telah dilapisi batu alam masih perlu dilengkapi sun shading atau tritisan untuk mengantisipasi terpaan panas antara pukul 12.00 – 16.00, karena saat itulahh didapati fenomena kenaikan suhu permukaan dinding lapis batu alam. 
Pemakaian batu alam sebagai diding fasad ini tidak hanya berlaku untuk rumah tinggal saja tapi bisa juga diterapkan pada gedung – gedung yang pastinya menggunakan AC di setiap ruangannya. Bisa dibayangkan perubahan besar yang akan terjadi dengan satu cara ini. 
Sumber yang bisa anda pelajari lebih lanjut mengenai dinding fasad rumah dengan lapisan batu alam ini adalah pada jurnal dengan penulis Eddy Prianto dan judulnya adalah “Efek Warna Dinding Terhadap Pemakaian Energi Listrik Dalam Rumah Tangga” dan juga “Efek Penggunaan Batu Alam Pada Fasad Rumah Tinggal Terhadap Pemakaian Energi Listrik”.

Artikel ini sebagai kontribusi di situs : si-nergi.id

Selengkapnya »
11/13/2015 03:56:00 PM | 0 komentar

Thursday, November 12, 2015

Penantian Teknologi Dalam Negeri Kaya Energi


Energi merupakan penyuplai tenaga. Saat membahas tentang energi kita tidak bisa terlepas dari hukum termodinamika. Energi tidak dapat diciptakan dan dimusnahkan namun dapat diubah dari suatu bentuk energi menjadi bentuk lainnya.
Alam semesta dan kehidupan kita merupakan kesatuan energi. Batubara, minyak bumi, matahari, makhluk hidup, makanan, minuman; semua benda tidak ada yang tidak memiliki energi potensial. Berjalan, menulis, berbicara, mendengkur, sembahyang; semua aktivitas kita erat kaitannya dengan energi kinetik. Berpikir sekalipun berkaitan dengan energi, ada proses termodinamika yang terjadi, dimana nilai kalori dalam tubuh kita digunakan oleh neuron atau sel-sel saraf untuk mengantarkan impuls. Energi secara kuantitatif dapat disebutkan besaran atau nilai kandungannya dengan menggunakan satuan Joule, kalori, WH (watt hour), eV (elektron volt) & Btu (British thermal unit).
Dimana sumber yang memiliki nilai energi yang besar? Kandungan energi per satuan massa atau volume setiap materi berbeda-beda, perbandingan ini disebut energi konten. Belum tentu materi dengan massa atau volume yang lebih besar memiliki nilai energi yang lebih besar dibanding materi dengan massa atau volume yang lebih kecil. Semisal 1 ton batubara (energi konten rata-rata= 32 GJ) kandungan energinya lebih kecil dibandingkan 1 gr uranium-235 (energi konten = 74GJ) [www.afdc.energy.gov].
Untuk penggunaan suatu sumber energi, berbagai aspek perlu dipertimbangkan. Penggunaan U-235 sebagai bahan bakar nuklir misalnya, kemampuan pemenuhan teknologi penyerta dan aspek sosio masih menjadi kendala di Indonesia. Indonesia masih signifikan dominan menggunakan minyak dan gas alam serta batu bara untuk bahan bakar dan bahan dasar listrik karena penggunaan minyak bumi dan gas alam serta batubara secara massive telah berlangsung lama, industri penyerta yang menyokongnya telah relative banyak dan maju.
Sebagai sebuah negara tropis, Indonesia diberkahi dengan intensistas penyinaran matahari yang besar. Matahari adalah sumber energi yang tidak akan habis (sustainable energy) selama kehidupan tata surya berlangsung. Berdasarkan data yang ditampilkan dalam websitewww.esdm.go.id, kuantitas penyinaran rata-rata Indonesia sebesar 4.8kWh/m2 per hari, yang berarti seluruh wilayah Indonesia dengan luas 1.9 juta kmdalam sehari menerima energi yang dibawa foton dari matahari sekitar 9.2 TWh yang telah termasuk energi termal dan energi fotovoltaik yang bisa diubah menjadi listrik. Penggunaan energi surya sangat betergantungan dengan iklim dan musim. Walaupun potensi energi matahari sangat besar, namun penggunaannya di Indonesia belum mencapai 1% untuk fotovoltaiknya. Sinyal positif mengenai rencana ekspansi ke penggunaan energi matahari mulai terdengar dari kaum modal seperti Total E&P Indonesie serta instansi pemerintah; Pertamina yang akan bekerjasama dengan Akuo Energy dari Perancis.
Sejalan dengan potensi energi surya atau matahari, potensi energi angin Indonesia pun terbilang tidak sedikit, dalam setahun energi tersebut berkisar 73 GW [Armi Susandi, Meteorologi ITB, 2006]. Energi angin merupakan energi yang bersih emisi dibandingkan minyak dan gas apalagi batubara.
Indonesia merupakan pusat energi dunia masa depan. Indonesia dijuluki ring of fire karena potensi panas bumi terbesar di dunia, 40% atau sekitar 27.140 MW, kapasitas terpasang baru sekitar 4% dari potensi yang dimiliki [pge.pertamina.com]. Kekayaan potensi panas bumi ini dikarenakan letaknya di pertemuan lempeng-lempeng aktif. Panas bumi relatif ramah lingkungan.
Pada saat penggunaan suatu sumber energi, terjadilah proses pembakaran. Sebelum suatu sumber energi dapat digunakan alias eksploitasi ke sumber tersebut, melibatkan pula proses pembakaran. Disaat terjadinya pembakaran ada panas buang dan emisi yang dihasilkan. Pengefisienan kerja atau meminimalisir panas buang dan emisi masih menjadi bahasan kaum akademisi dan praktisi.
Indonesia yang kaya sumber energi perlu didukung teknologi yang efisien untuk membuat semua potensi tersebut teroptimalkan secara total. Disaat bahan bakar teralihkan dengan listrik, apalagi saat ini produsen otomotif sudah merencanakan kendaraan listrik secara masal, kita harus telah siap dengan penyuplai tenaga yang secara keseluruhan sistem lebih bersih dan minim panas buang.

Artikel ini sebagai kontribusi di situs : si-nergi.id

Selengkapnya »
11/12/2015 11:09:00 AM | 0 komentar

Wednesday, November 11, 2015

Menghemat Energi, Kenapa Enggak ?

Energi  adalah suatu kemampuan untuk melakukan usaha. Energi tidak dapat diciptakan dan dimusnahkan, namun dapat berubah dari satu bentuk ke bentuk yang lain (Hukum kekekalan energi). Energi merupakan hal yang sangat penting bagi kehidupan. Dengan energi semua kerja akan terlaksana, tanpa adanya energi tidak akan ada kerja atau usaha.
Akhir-akhir ini,kita sering mendapati adanya pemadaman listrik bergilir. Bahkan, di suatu daerah di Nusa Tenggara Timur pernah terjadi dua kali pemadaman listrik dalam sehari. Tak main-main pemadamannya terjadi selama 4-5 jam. Bahkan pernah terjadi hingga hampir 10 jam. Kekesalanpun kita rasakan,semua aktifitas yang memerlukan tenaga listrik jadi terganggu,mencaci maki sumber pembangkit listrik.
Pemadaman listrik itu terjadi karena semakin berkurangnya sumber energi di alam. Apalagi,sebagian besar pembangkit listrik itu berasal dari bahan bakar fosil yang tidak dapat diperbarui. Setiap hari dieksploitasi dikeruk habis-habisan tanpa memperdulikan kondisi alam,dan meninggalkan sumber energi itu untuk anak cucu kita. Lalu, bagaimanakah cara kita untuk mengatasi itu semua ? salah satu jalan yang dapat kita tempuh adalah dengan menghemat listrik. Menghemat listrik dapat dimulai dari hal-hal kecil, namun efeknya sangat besar. Bayangkan,jika 10% warga DKI saja melakukan penghematan listrik satu jam saja, energi listrik yang dihemat bisa dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan listrik di 900 desa. Jika hal itu dijadikan suatu kebiasaan hidup bukan hanya warga DKI tapi seluruh warga dunia ini berapa banyak bahan bakar yang dapat dihemat? Dan dengan kita menjadikan itu sebagai gaya hidup maka kita mulai belajar menyayangi bumi.
Namun, hemat energi alternatif dan penggunaan energi ini tidak akan terlaksana tanpa adanya kerjasama yang baik dari berbagai pihak baik dari lembaga pemerintah sebagai pihak penyelenggara yang membuat program dan memfasilitasi, para pelaku industri serta masyarakat yang dilakukan dengan aksi nyata.
Selain itu, cara yang bisa kita tempuh untuk menghemat energi adalah menggunakan energi alternatif menggunakan sumber daya alam yang dapat diperbarui atau bahkan yang tidak akan habis. Misalnya penggunaan sumber energi listrik lain yakni dari sel surya. Sebuah sekolah di Jakarta telah memulai hal itu,menggunakan panel surya sebagai sumber energi alternatif pengganti sumber energi fosil. Mr. Matthias Raab, selaku perwakilan Deutsche Energie-Agentur GmbH (dena)- German Energy Agency mengatakan bahwa Indonesia mempunyai potensi sangat besar untuk menerapkan teknologi. Penggunaan teknologi sel surya dapat diterapkan hampir di setiap tempat dimana listrik digunakan seperti sekolah, rumah, tempat usaha ataupun pertanian, peternakan semua dapat menerapkan energi surya. Namun, energi surya ini belum banyak diterapkan di Indonesia karena biaya yang harus dikeluarkan untuk menginstal energi panel surya ini lebih mahal dari tarif dasar listrik PLN,tapi manfaatnya begitu besar.
Untuk menghemat sumber minyak bumi kita dapat mengaplikasikan energi biomasa atau bisa juga memakai kendaraan menggunakan energi surya.energi biomasa merupakan energi yang berasal dari tumbuhan atau zat-zat biologis. Energi biomassa ini merupakan energi yang dapat diperbarui,sehingga bisa menjadi energi substitusi untuk menghemat bahan bakar fosil. Tanaman yang biasa digunakan sebagai energi biomassa adalah kelapa sawit,jarak,kedelai. Biji jarak dapat digunakan sebagai minyak pengganti minyak tanah. Selain itu,biji jarak juga dapat menggerakkan alat-alat bermesin diesel misalnya alat-alat pertanian,sehingga petani tidak perlu memakai solar untuk menggerakkan mesin diesel mereka. Namun, kendala yang dialami untuk jenis bahan bakar biji jarak adalah bahan baku yang masih sangat rendah, karena perkebunan jarak ini baru dikembangkan.
Cara lain untuk menghemat energi adalah
1) Mematikan lampu, kran air, komputer,mencabut charger handphone  jika sudah tidak diperlukan.
2) Menggunakan lampu neon yang lebih hemat energi daripada lampu bohlam.
3) Mendisain rumah yang ramah lingkungan dan punya banyak fentilasi untuk meminimalisir penggunaan listrik pada siang hari
4) Menggunaan kendaraan umum
Dan masih banyak lagi hal-hal kecil yang bisa kita lakukan untuk menghemat energi. Hal-hal kecil itu jika kita lakukan secara kontinyu maka akan berakibat besar dan bisa menghemat sumber energi dan menyisakannya untuk generasi selanjutnya. 

Artikel ini sebagai kontribusi di situs : si-nergi.id

Selengkapnya »
11/11/2015 09:22:00 AM | 0 komentar

Monday, November 9, 2015

Penggunaan Energi yang Efisien Untuk Negeri

Penggunaan bahan baku batu bara, minyak alam, dan gas masih menjadi pilihan utama sumber energi yang digunakan di dunia. 
Energi yang dihasilkan dari bahan baku tersebut secara umum sangat baik untuk kebutuhan tenaga listrik di industri. Kini, tenaga listrik merupakan kebutuhan mendasar bagi masyarakat modern. Peralatan dan perlengkapan untuk proses produksi dalam aktivitas industri modern pada umumnya digerakkan oleh listrik. 
Ketersediaannya dalam jumlah banyak dan mutu yang baik merupakan syarat bagi perkembangan dunia industri dan peningkatan taraf kehidupan masyarakat yang lebih baik. Hampir semua sektor kehidupan membutuhkan suplai energi listrik seperti sektor industri, niaga, angkutan, pemerintah, dan pelayanan umum. Sumber listrik yang digunakan pun harus berkualitas sehingga tidak menimbulkan gangguan saat pemakaian. 
Hal ini sangat penting karena adanya kesalahan terhadap distribusi listrik dapat menyebabkan pemadaman sehingga berbagai industri mengalami kerugian finansial. Misalnya, ketika terjadi pemadaman listrik sesaat (hanya sekitar satu jam) di beberapa kota besar Amerika Serikat (New York yang paling parah, serta beberapa bagian Michigan, Ohio, Connecticut dan Pennsylvania) pada tahun 2001 mengakibatkan kerugian sebesar US$ 30 juta perhari karena kejadian tersebut. Sedikitnya 54 industri perakitan dan pembuatan mobil terhenti dan pabrik-pabrik berhenti beroperasi sampai satu hari setelah kejadian. Sekitar 50 juta orang berada dalam kegelapan dan ratusan jadwal penerbangan dibatalkan serta semua akses internet diberbagai kota terputus.
Solusi untuk mengganti cadangan energi tersebut dengan alternatif baru sebagai bahan baku listrik dikhawatirkan masih belum siap untuk dilakukan saat ini. Selain itu, masih perlu trial and error mengenai kestabilan dari arus listrik yang dihasilkan oleh alternatif baru tersebut. Salah satu cara yang dapat dilakukan saat ini adalah mengefisiensikan energi yang digunakan. Efisiensi adalah ukuran fisik kemampuan setiap peralatan yang ada untuk  mengubah bahan mentah energi menjadi jenis pekerjaan yang bermanfaat. 
Peningkatan efisiensi bertujuan agar setiap unit energi menghasilkan kerja yang lebih besar. Tinggi rendahnya efisiensi dapat dipakai untuk menentukan baik buruknya sistem kerja suatu sistem. Mesin dengan efisiensi tinggi akan mengonsumsi energi dan menghasilkan kerja yang tinggi.  
Cara tersebut dapat ditempuh untuk mengurangi pemakaian energi tanpa harus mengorbankan tingkat kenyamanan hidup maupun pertumbuhan ekonomi suatu negara. Tuntutan peningkatan penyediaan energi dapat diatasi dengan peningkatan efisiensi dalam penggunaan energi yang sudah ada.
Salah satu cara dalam meningkatkan efisiensi adalah teknik kogenerasi, yaitu suatu sistem yang didesain sedemikian rupa sehingga panas buang yang biasa dilepas ke lingkungan oleh pembangkit konvensional dapat didaur ulang/dimanfaatkan oleh pembangkit kogenerasi untuk proses lainnya. 
Menurut Akhadi M (2009), Pusat Listrik Tenaga Gas (PLTG) siklus terbuka yang mengoperasikan turbin gas biasanya memiliki efisiensi termal sebesar 25-30%, sedangkan PLTG modern dengan suhu operasional 1100 ÂșC efisiensinya mencapai 35%. PLTU konvensional yang mengoperasikan turbin uap dan boiler memiliki efisiensi termal sebesar 40% dan juga Pusat Listrik Tenaga Diesel (PLTD) yang mengoperasikan motor diesel sebagai penggerak mula memiliki efisiensi termal sebesar 40%. Angka-angka tersebut merupakan efisiensi tertinggi yang dapat dicapai oleh pembangkit konvensional.
Dari data tersebut dapat diketahui bahwa ada sekitar 60-70% sisa energi yang terbuang percuma ke lingkungan. Selain bentuk kerugian ekonomi, hal tersebut juga dapat menjadi sumber polusi termal yang sangat serius. Peningkatan efisiensi penggunaan energi dalam sistem kogenerasi diperoleh dari pemanfaatan sisa energi yang terbuang oleh pembangkit energi utama untuk menghasilkan uap panas oleh pembangkit lainnya. 
Oleh karena itu, sistem kogenerasi akan sangat bermanfaat terutama bagi industri yang membutuhkan tenaga listrik dan uap panas untuk mendukung proses-proses di dalam industri. Teknik ini juga dapat mengurangi tingkat emisi gas buang per unit energi termal yang dihasilkan hingga mencapai nilai yang sangat rendah. Beberapa proyek kogenerasi yang saat ini sudah beroperasi di Amerika Serikat dapat mencegah emisi CO2 sebanyak 80 juta ton setiap tahunnya.
Berikut gambaran penggunaan teknik kogenerasi:
Jika ada pembangkit listrik yang diberi masukkan energi 100 maka hanya 40% energi tersebut yang diubah menjadi listrik, berarti ada energi yang terbuang sebesar 60. Lalu, jika ada pembangkit lainnya diberi masukkan energi 50 maka 90% energi tersebut akan diubah menjadi panas yang berarti ada energi yang terbuang sebesar 5. 
Jika dua pembangkit tersebut beroperasi secara terpisah maka dari total energi sebesar 150 (100+50) hanya menghasilkan tenaga sebesar 85 (40 energi listrik dan 45 energi panas). Terlihat bahwa ada sekitar 65 bagian energi yang hilang secara percuma. Jika kedua sistem pembangkit tersebut digabung menjadi satu dan bekerja menggunakan teknik kogenerasi maka dari total masukan 100 dapat dihasilkan 40 energi listrik dan 45 energi panas serta hanya sekitar 15 bagian energi yang hilang.
Perkembangan metode yang tepat guna pada bahan bakar minyak dan gas akan selalu meningkat tiap tahunnya demi memenuhi kebutuhan industri. Metode efisiensi energi ini pun bukan satu-satunya cara yang dapat menyelesaikan masalah energi di dunia, namun merupakan salah satu cara meminimalkan penggunaan energi yang tidak terbarukan secara tepat dan bijak untuk saat ini. 
Di masa yang akan datang tidak menutup kemungkinan, jika penelitian tentang energi alternatif dikembangkan secara profesional dapat menggantikan bahan baku energi yang ada saat ini dengan kualitas yang sama bahkan lebih sehingga penggunaan energi tak terbarukan pun dapat terganti dengan sendirinya.
Artikel ini sebagai kontribusi di situs : si-nergi.id

Selengkapnya »
11/09/2015 03:14:00 PM | 0 komentar

Thursday, November 5, 2015

PGN dan Pemanfaatan Energi Gas Sebagai Energi Alternatif

Pemanfaatan gas alam yang dikelola oleh BUMN Gas PT. Perusahaan Gas Negara (PGN) baik pada sektor transportasi, industri maupun rumah tangga dapat mengurangi tingginya impor bahan bakar minyak yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia saat ini, belum lagi nilai tukar rupiah yang terus melonjak sehingga berdampak pada pemasukan pemerintah dan perekonomian masyarakat Indonesia, sehingga sangat perlu dilakukan pemanfaatan energi gas yang sangat berlimpah di indonesia yang belum begitu dirasakan oleh masyarakat Indonesia sampai saat ini.
PGN mengoperasikan jalur pipa distribusi gas sepanjang lebih dari 3.750 km, menyuplai gas bumi ke pembangkit listrik; industri; usaha komersial termasuk restoran, hotel dan rumah sakit; serta rumah tangga di wilayah-wilayah yang paling padat penduduknya di Indonesia. PGN mendapatkan keuntungan dari penjualan gas kepada konsumen.
 Berbicara masalah tentang energi sangat baik bila diikuti dengan lingkungan, karena energi sesaat setelah penggunaannya dapat berdampak langsung pada masyarakat sekitar dan lingkungan sehingga perlu dilakukan kajian yang benar dan baik. Selain harga gas yang murah, kadar gas racun yang keluar akibat setelah proses pembakaran lebih rendah dari pada bahan bakar minyak sehingga merupakan bahan bakar yang bersih dan ramah lingkungan.  
Upaya pemanfaatan energi gas PGN sebagai pengganti bahan bakar minyak dengan bahan bakar gas berperan besar untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor, bahkan telah ditemukan energi gas alternative lainnya yang berasal dari batu bara, endapan batuan shale yang dapat menghasilkan gas alam, jika sudah tidak bergantung dengan bahan bakar impor kemudian industri Indonesia semakin mandiri dan kuat begitu juga nilai tukar uang rupiah ikut kuat.
Tujuan energi nasional juga harus sesuai dan berpihak kepada masyarakat Indonesia, belajar dari ekspor bahan bakar minyak kemudian berbalik impor dan menjadi ketergantungan sampai saat ini, sekarang juga masih ekspor bahan bakar gas, namun suatu saat tidak menutup kemungkinan Indonesia akan berbalik impor karena sumur-sumur gas telah habis ditambah lagi jika pipa-pipa penyalur masih juga belum tersedia semakin terpuruklah Indonesia.
Pemerintah dan masyarakat bersama-sama menyatukan pemahaman untuk menggunakan energi seperti apa yang dibutuhkan Indonesia untuk mandiri dan tidak bergantung terhadap bahan bakar minyak, pemerintah juga memberikan kebijakan agar untuk beralih terhadap penggunaan bahan bakar gas yang disalurkan langsung melalui pipa-pipa penyalur yang telah disediakan.
Tujuan energi nasional juga tidak hanya berpihak pada masyarakat Indonesia melainkan juga lingkungan di sekitar, karena lingkungan juga ikut campur dalam menjaga keseimbangan di masa depan dan menjaga lingkungan tetap bersih dan indah.
 Artikel ini Disumbangkan untuk situs : http://www.energibaik.com/

Selengkapnya »
11/05/2015 02:43:00 PM | 0 komentar