Hi, guest ! welcome to Yahoo!. | About Us | Contact | Register | Sign In
Showing posts with label Budaya. Show all posts
Showing posts with label Budaya. Show all posts

Tuesday, January 12, 2016

Suku ini Diyakini Sebagai Salah Satu Suku Tertua di Sumatera


Suku kerinci dikenal sebagai salahsatu suku tertua yang mendiami Pulau Sumatera. Oleh karena itu Suku Kerinci memiliki peradaban dan kebudayaan sejak dulu yang menyebabkan suku ini memiliki berbagai kekhasan budaya. Salah satunya adalah penggunaan bahasa Kerinci. Meskipun masih tergolong ke dalam rumpun bahasa Melayu, bahasa kerinci diperkirakan telah hidup lebih tua karena telah ada sebelum pengaruh Arab masuk dan mempengaruhi kebidayaan Melayu. Ini dibuktikan dengan ditemukannnya beberapa naskah kuno yang ditulis dengan Bahasa Kerinci Kuno. Tulisan ini dikenal dengan Aksara Incung, tulisan ini sudah digunakan oleh masyarakat Suku Kerinci sejak berabad-abad yang lalu. Penggunaan tulisan ini juga menyebar ke wilayah lampung dan rejang.

Gunung Kerinci (foto Kerincinews.com)
Aksara Incung mulai dipergunakan secara luas mungkin pada abad ke-4 Masehi. Pada awalanya, Aksara incung ditulis dengan sejenis benda runcing yang guratannya mirip dengan tulisan paku aksara babilonia kuno. Bentuk grafis aksara Incung didientifikasi hampir mirip dengan aksara daerah Sumatera lainnya seperti Batak, Rejang, dan Lampung. Walaupun begitu banyak juga ditemui perbedaan yang mendasar sehingga aksara ini tidak bisa dikatakan sama dengan aksara-aksara yang dipakai oleh suku lain. Kesamaan yang terjadi dimungkinkan karena mereka scara geografis mendiami wilayah pulau sumatera lalu seiring dengan perkemabangan, aksara tersebut mengalami corak khas yang menyesuaikan dengan kondisi dan pusat induk kultur suku-suku tersebut.

Salah satu peninggalan suku tertua di Sumatera di atas wahana tanduk (foto Kemenag.go.id)
Hasil penelitian mencatat terdapat 271 naskah kuno di bumi Kerinci dan 158 di antaranya ditulis dengan aksara incung yang diabadikan di berbagai media seperti di tanduk, ruas buluh, tulang, kulit kayu dan tapak gajah. Hanya saja, pada naskah tersebut tidak ditemukan petunjuk angka untuk bilangan. Bisa disimpulkan bahwa aksara Incung tidak mengenal aksara bilangan atau angka sehingga menyebabkan tidak didapati penanggalan maupun tanggal penulisannya.
Lahirnya aksara Incung pada Masyarakat Kerinci Kuno bisa jadi didasari oleh pemikiran akan pentingnya pendokumentasian berbagai peristiwa kehidupan, kemasyarakatan dan sejarah melalui karya tulis. Bukti-bukti sejarah aksara Incung ini terdapat pada naskah-naskah kuno Kerinci. Ada dari naskah-naskah tersebut terdapat pendahuluan kata-kata berbunyi Basamilah Mujur Batuwah Jari Tangan Aku Mangarang Surat Incung Jawa Palimbang pada Bambu dua ruas tulisan Incung pusaka Depati Satio Mandaro di Desa Dusun Dilir Rawang dan Ah Basamilah Akung Mangarang Parapatah Surat Incung Jawa Palimbang pada Bambu dua ruas tulisan Incung pusaka Rajo Sulah Desa Siulak Mukai.
Rumah larik (foto kemenag.go.id)
Dalam perkembangannya, masuknya pengaruh agama Islam ke Nusantara yang juga masuk ke wilayah Kerinci mengakibatkan penulisan naskah-naskah beralih ke aksara Arab dan bahasa Melayu. Pengaruh islam dalam karya sastra dapat dilihat pada cerita tentang Nabi Adam, Nabi Muhammad SAW, cerita tentang ajaran dan kepercayaan Islam serta cerita mistik dan tasauf. Walaupun begitu, masuknya pengaruh Islam tidak mengahpuskan atau mengabaikna keberadaan aksara Incung tetapi menulis naskah-naskah
Incung dengan memasukkan unsur-unsur ajaran Islam atau memperkaya karya sastra Incung dengan nuansa Islam.

Walaupun masyarakat kerinci masih tergolong rumpun bangsa Melayu baik secara kesukuan ataupun kebahasaan. Akan tetapi, sebagai Suku yang memiliki kebudayaan dari peradaban tua melayu, bahasa kerinci dan aksara Incung jelas berbeda dengan bahasa Melayu pada umumnya. Hal ini sesuai dengan latar belakang bahwa induk suku Kerinci berasal dari Proto Melayu sehingga proses perjalanan sejarah orang Kerinci baik pemakaian aksara maupun fonetis bahasanya banyak mendapat pengaruh lingkungan alam dan budaya lokal Kerinci. Karena itulah, kebudayaan local Kerinci yang hamper terlupakan ini harus memperoleh perhatian khusus agar tidak punah.

Sumber Rujukan:
  1. Alimin, Depati. 2012. Asal Mula Aksara Incung. http://anggabhandel009.blogspot.com/2012/01/asal-mula-aksara-incung.html (diaksesJanuari 2013)
  2. Salwinsyah. 2012. Aksara pada Incung Kerinci, Milik Negeri Jiran?. http://www.jambiekspres.co.id/berita-3300-aksara-incung-kerinci-milik-negeri-jiran.html (diakses 2012 )
  3. Sikumbang, Depati.. 2012. Aksara Incung itu Ada. (http://depati-sikumbang.blogspot.com/2012/05/aksara-incung-itu-ada.html (diakses 2012)
  4. Yudono, Jodhi. 2012. Mahasiswa Bandung Berlatih Aksara Incung. http://oase.kompas.com/read/2012/11/20/22124439/Mahasiswa.Bandung.Berlatih.Aksara.Incung (diakses 2012)
  5. 2008. Asal Mula Aksara Incung. (http://incung.blogspot.com/2008/11/asal-mula-aksara-incung.html (diakses Januari 2013)

Selengkapnya »
1/12/2016 11:47:00 AM | 0 komentar

Monday, January 4, 2016

Perang Khas Manggarai, Penentu Kesuburan Lahan


Pukulan pertama pada tameng salah seorang prajurit menandakan permainan dimulai. Begitulah tradisi yang dilakukan oleh para pelestari Seni Perang Caci yang khas Manggarai Nusa Tenggara Timur.
Tabuh-tabuhan mengiri sejak para wisatawan yang datang ke lokasi penyambutan oleh para tetua adat Manggarai. Sebelum ‘perang’ dimulai, para pendatang disuguhkan sedikit makanan dan minuman penyambut dan dijelaskan sekilas tentang adat Manggarai.
Di luar, tampak para prajurit bersiap-siap dengan senjata dan perisai koret (bambu kecil sepanjang 2 meter diikat menjadi satu) nya masing-masing. Muka yang tertutup kain sappu (kain destar) lengkap dengan semacam topeng pelindung tempurung kepala digunakan.
‘Lawan’ di hadapannya mengayun-ayunkan wadoq (pecut) dan bersiap-siap seirama dengan iringan tabuhan gendang dan gong yang dipukul para mama tak jauh dari pintu masuk pekarangan. Giring-giring dan lonceng yang dipasang di pinggangnya mengeluarkan bunyi-bunyian yang terus membuat penonton waspada. Suaranya semakin nyaring seiring dirinya bersiap untuk memecut.
Tidak lama kemudian wadoq dipecutkan tepat ke arah perisai lawannya yang sudah bersiap dalam posisi bertahan. Begitu seterusnya bergantian hingga tetabuhan berhenti. Itulah perang caci, penyambutan yang disuguhkan bagi para wisatawan yang datang ke Labuhan Bajo.
Meski dalam prosesnya Caci menampilkan fase-fase peperangan secara lengkap seperti perang, perundingan dan perdamaian, pertarungan Caci sejatinya tidak lagi dilakukan untuk peperangan secara murni namun lebih sebagai seni perang yang ditujukan untuk hiburan dan tradisi. Inilah seni beladiri yang dijumpai hampir di seluruh kawasan di Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur.
Seperti dikutip dari CNN Indonesia, Caci berasal dari kata “ca” (satu) dan “ci” (satu) dalam bahasa Manggarai, sehingga arti caci adalah “satu lawan satu”. Sebagai atraksi, caci menggabungkan tarian, nyanyian, dan kemampuan teknis khusus dalam menyerang lawan secara artistik.
Atraksi ini selalu dimulai dengan penjelasan dari seorang tetua tentang sportivitas, pengorbanan, dan solidaritas yang membangun filosofi caci, kemudian dilanjutkan dengan menyerahkan wadoq ke perwakilan tamu yang ingin melakukan pecutan pertama.
Dalam seni ini terdapat dua pihak caci, penyerang dan penantang. Penyerang hanya boleh memukul tubuh lawan di bagian pinggang ke atas, termasuk muka. Itu sebabnya penantang membebat kepalanya hingga menyisakan segaris untuk mata, mencegah luka yang berbahaya. Sebab, menurut kepercayaan kalau sampai kena muka artinya si pemain mendapat sial besar.
Bukan hanya sebagai seni beladiri, dahulu caci juga sempat dimainkan sebagai tradisi membuka lahan berpindah. Jika pemain terluka akibat pecut, tandanya tanah yang dipijak subur dan akan memberi panen melimpah. Namun seiring perkembangan zaman, caci dimainkan kapan saja untuk berbagai perayaan, seperti menyambut tamu, pesta panen, pemberkatan rumah baru, hingga perayaan Kemerdekaan RI.
Salah satu kampung yang menampilkan caci adalah Kampung Cecer, Desa Liang Ndara, Kecamatan Mbeliling, Kabupaten Manggarai Barat, NTT, kira-kira 20 kilometer ke arah timur dari Labuan Bajo. Desa ini berada di ketinggian 900 meter di atas permukaan laut, berudara sejuk dan pemandangan indah. Panggung pertunjukan cacinya terbilang cukup indah sebab bertepi tebing dengan latar belakang birunya langit dan hijau perbukitan.
Terdapat Tiga atribut utama dalam caci, yakni perisai melambangkan ibu, penangkis melambangkan ayah, dan pecut lambang percobaan hidup.
Rupayanya, juga terdapat pantangan utama bagi para prajurit caci, yakni semalam sebelum tampil dilarang menyentuh istri. Jika aturan ini dilarang, dipercaya si pemain akan mengalami sial dalam bentuk mendapat luka berat di badan atau malah di muka.
Dua bersaudara juga dilarang berpasangan dalam satu permainan caci dengan tujuan mencegah hubungan persaudaraan mereka rusak.
Selain di Kampung Cecer, caci ditampilkan juga di Kampung Melo, Desa Liang Ndara, Manggarai Barat; Desa Tado, Manggarai Barat; Ruteng, Kabupaten Manggarai; dan di Kecamatan Riung, Kabupaten Ngada.
Penampilan para prajurit caci memang sedap dipandang. Artribut-atribut pakaiannya bahkan memiliki banyak nilai filosofi mulai dari kekuatan untuk diri sendiri hingga penghormatan pada alam. Berikut atribut pemain caci, seni bela diri khas Manggarai:
1. Todah, perisai dari kulit kerbau yang dilingkari rotan, melambangkan ibu.
2. Koret, penangkis dari beberapa bambu kecil sepanjang 2 meter yang diikat jadi satu, melambangkan ayah.
3. Wadoq, pecut dari rotan dan kulit kerbau, lambang percobaan dalam hidup.
4. Panggal, semacam topeng dari kulit kerbau, melambangkan lima dasar kepercayaan orang Manggarai yang tercakup dalam sudut-sudutnya.

Lima dasar itu adalah pah (pintu gerbang) yang menandakan tamu diterima dengan baik, rumah sebagai tempat perlindungan, air sebagai sumber kehidupan, compang (altar) sebagai pusat persatuan, dan uma (kebun) sebagai tempat kesejahteraan.
5. Sappu, destar batik Jawa yang dirancang khusus untuk Manggarai. Segiempat putih di pucuk kepala bermakna masih ada di atas kita yang harus dihormati.
6. Tugerapah yang menjuntai di dagu bermakna masih ada di sekitar kita yang harus dijaga, dipelihara, dan dilindungi. Makhluk hidup di dalam maupun di atas tanah punya hak yang sama untuk hidup.
7. Lalong Ndeki, terbuat dari rotan, diselipkan di pinggang belakang,melambangkan kekuatan seorang pemain caci. Sebagai pemain caci dia harus punya keyakinan kalau dia kuat.
8. Pejojong, seperti buntut topi, adalah pusat kesabaran pemain caci.
9. Nggorong, giring-giring yang berbunyi kala pemain menggerakkan kakinya.
10. Kain songke yang mengandung beberapa warna, termasuk tiga warna dasar khas Manggarai: putih lambang keikhlasan dan ketulusan, merah lambang keberanian, dan hitam lambang kerja keras.

Selengkapnya »
1/04/2016 11:37:00 PM | 0 komentar

Wednesday, December 23, 2015

Duel Dalam Satu Sarung

Terletak sebelah utara Bantaeng tepatnya daerah Tompobulu yang biasa kita kenal dengan Banyorang.
Dahulu kala ada kebiasaan atau adat masyarakat Banyorang yang biasa di sebut dengan "sitobo' lalang' lipa" kebiasaan ini dilakukan untuk memilih siapa yang paling kuat dan berhak memimpin rakyat Banyorang.
Maka muncullah seorang yang sangat santun dalam setiap kelakuannya.
Beliau bernama "Kr. Baso Kimbannong"
Beliau juga manusia yang sangat cerdik.
Karena kecerdikannya itu maka beliau memimpin rakyat Banyorang............
Singkat cerita : 
Waktu itu di mulailah kegiatan tersebut dimana beliau salah satu dari petarung "sitobo' Lalang' Lipa"

Maka masuklah kedua petarung ke dalam liang yang bentuknya melingkar seperti sumur, mereka memakai satu sarung berdua dan di lengkapi dengan senjata tajam tradisional yang biasa di sebut dengan Badik.
Tak lama kemudian mereka berdua di naikkan ternyata hasilnya seri, mereka berdua sama-sama terluka.
Selanjutnya petarung yang kedua yang paling di tunggu dan paling seru sepanjang acara ini.
lawan dari Kr. BAso Kimbannong turun ke liang yang berbentuk lingkaran tak lama kemudian beliaupun datang dan langsung ikut turun, pertarungan tersebut yang lebih serunya lagi aturan tambahan pun di adakan yaitu tiap saat dapat berhenti untuk istirahat.
Sudah dua kali istirahat namun belum ada yang menjadi pemenang, namun pada akhirnya Kr. Baso Kimbannong meminta untuk istirahat yang ke tiga kalinya, masyarakat yang menyaksikan kaget mendengar permintaan beliau tersebut.tanpa basa basi beliau tiba-tiba meninggalkan arena pertarungan...
Tak lama kemudian beliaupun datang dengan senyuman ciri khasnya sambil memegang beberapa bekas tusukan badik lawannya.
Turunlah mereka berdua hanya berselang beberapa menit lawan dari Kr. Baso Kimbannong terkapar dan beliaupun bergegas naik, masyarakat sekitar bertanya-tanya ada apa dengan lawan beliau yang tiba-tiba tersungkur ternyata beliau menggunakan badik yang lebih pendek dan warangka (sarung badik) lebih panjang.


Memang kelihatannya badik mereka sama tapi isinya beda ada yang panjang dan ada yang pendek, jadi pada saat menancapkan badik tersebut beliau lebih cepat lima kali tusukan di banding lawannya yg baru mencabut badiknya yang panjang, itulah salah satu kecerdikan beliau dan terjawab sudah siap yang akan memimpin rakyat Banyorang, beliau pun memimpin dengan niat yang tulus dan yang namanya kehidupan pasti ada kematian dan satu lagi keinginan beliau sebelum meninggal, yaitu: 
Saya mau di kuburkan berdiri bersama badik saya agar saya bisa berkelahi dengan Mungkar. 
Entah itu gurauan ataupun serius keluarga tetap melaksanakan keinginan beliau.

Sampai saat ini makam belaiu masih di jaga oleh orang -orang yang setia hingga akhir.........
Duel dalam satu sarung itu atau dalam istilah bahasa Makassar, disebut ”sitobo lalang lipa", merupakan simbolik dari akar budaya kita, yang berkaitan dengan substansi yang bernama siri na pacce itu.
Siri berkaitan dengan dimensi kehormatan martabat untuk terus ditegakkan , kemudian pacce itu merupakan dimensi kemanusiaan.
Artinya, walaupun kita dalam keadaan mencabut badik dalam menegakkan harga diri, maka pada saat yang sama, dimensi kemanusiaan juga harus ditegakkan
Duel dalam satu sarung bagi orang Bugis Makassar dengan saling dilengkapi dengan benda tajam khas Bugis Makassar yang di sebut Kawali/ Badik, bukanlah sifat arogansi, kejam atau saling menganiaya, tetapi di pahami semacam nilai empati, nilai penghargaan kepada eksistensi rupa tau / penghargaan nilai kemanusiaan, substansi keadaan ini adalah perihal tarik menarik antara penegakan harga diri berhadapan dengan penegakan dimensi kemanusiaan, keharuan terhadap orang lain pun muncul.
Di sinilah bagaimana manusia Sulawesi Selatan, khususnya Bugis-Makassar, mengalah dan mengelola eksistensinya (keberadaannya) untuk bisa mengambil jalan kearifan untuk dapat mengambil suatu langkah.
Ini spesifik budaya Bugis-Makassar, ketika konflik tidak bisa lagi dihindari, maka harga diri harus ditegakkan dengan cara saling meniadakan nyawa.
Di saat seperti itu konflik berdarah mengacu kepada orientasi sebuah ujian kemuliaan manusia.
Dari sinilah bertolak duel satu sarung itu.
Sebenarnya, duel satu sarung yang berlatar siri dan pacce ini banyak disalah pahami, disalah tafsirkan oleh banyak generasi baru kita.
Kearifan-kearifan diletakkan oleh orang-orang tua kita, leluhur-leluhur kita dalam duel maut tersebut.
Banyak ditafsirkan salah, siri dan pacce bahkan diidentikkan sebagai hasrat untuk membunuh.
Menganggap menegakkan siri tidak lain harus diselesaikan di ujung badik.
Padahal duel di sini bisa dimaknai lebih luas dan dalam: duel spiritual, duel kultural, duel kemanusiaan untuk menegakkan harga diri dan martabat sebagai hamba Allah. 
Jadi implementasinya dari kearifan itu tadi, kita membela diri atau menegakkan kehormatan sebagai eksistensi hamba yang mulia.

Jadi, kemuliaan manusia itu yang harus dibela jadi jangan sampai ada yang saling menzalimi antar sesama manusia.
Kalau tak ada realitas, di masa-masa lalu, duel satu sarung hubungannya dengan penyelesaian sebuah konflik yang tidak bisa lain kecuali harus mencabut badik dengan masuk dalam sarung untuk berduel adalah suatu simbolik, pengukuh atas kemuliaan seseorang sebagai manusia.
Nah, hubungannya dengan itu, lalu apa yang disebut duel?
Duel sering diasosiasikan sebagai pertarungan fisik.
Duel identik dengan pertempuran fisik.
Padahal di sini, yang lebih subtansial, adalah spirit dari duel itu sendiri, bahwa di balik itu ada kemuliaan yang ditegakkan.
Proses penegakan kemuliaan itu juga harus mulia dalam prosesnya bukan hanya target yang mulia tetapi juga proses ke arah itu.
Untuk menyimpulkan duel satu sarung, sarung harus diartikan sebagai simbol persatuan dan kebersamaan.
Berada dalam satu sarung berarti kita dalam satu habitat bersama.
Jadi sarung yang mengikat kita bukanlah ikatan serupa rantai yang sifatnya menjerat, tetapi suatu ikatan kebersamaan di antara manusia.
Ini spesifik budaya Bugis-Makassar, ketika konflik tidak bisa lagi dihindari, maka harga diri harus ditegakkan dengan cara saling meniadakan nyawa.
Di saat seperti itu konflik berdarah mengacu kepada orientasi sebuah ujian kemuliaan manusia.
Jadi sarung bukan diartikan sebagai ruang sempit untuk bunuh diri, lebih-lebih bukan untuk belenggu diri.
Di antara orang berduel ini di dalam kebencian itulah yang biasa disalahpahami oleh kita semua ini.
Bagaimana menegakkan siri dan pacce dengan simbolik bertarung dalam satu sarung, dalam arti kata kita diikat oleh kebersamaan sebagai sesama manusia, mengapa mesti ada konflik yang harus berdarah-darah?
Inilah, ya, menurut saya di sinilah subtansi kebudayaan orang Sulawesi Selatan di dalam menegakkan siri, dan pacce itu, nah di dalam ikatan dengan orientasi kekinian dalam menghadapi dunia modern, kebanyakan pragmatis, berorientasi pada kebendaan, konsumerisme begitupun dalam hal berpolitik, selalu memakai ‘main kayu’.
Jadi penegakan siri dan pacce melalui peragaan simbolik bertarung dalam satu sarung harus kita artikan satu ikatan antar sesama manusia.
Di dalam berkonflikpun kita tidak bisa menampikkan atau membenci musuh kita.
Kita tidak bisa mengeksploitasi lawan itu secara binatang, secara kebencian, itulah eksistensi dari kearifan budaya Bugis- Makassar.
Bagaimana rupa istilah Sipakatau itu dijabarkan dalam perilaku sehari-hari, termasuk dalam perilaku budaya pada saat gawat yang bernama konflik.
Di dalam konflikpun kita harus memanusiakan manusia.
Kalau kita bawa hal itu ke dalam dunia moderen seperti saat ini bagaimana kita mengulangi apa yang dikatakan oleh pakar-pakar budaya dunia seperti “Kita tidak bisa menciptakan masa kini atau masa depan tanpa adanya sejarah atau masa lalu”.
Jadi sejarah merupakan guru atau panitia yang memberikan kita kearifan-kearifan.
Jadi untuk membuat keberadaban baru, perlu ada sikap kultural untuk “Discover The New In The Old”.
Menemukan sesuatu yang baru, melalui proses masuk ke dalam budaya-budaya tua.
( dikutip dari budayawan SulSel Rahman Arge )

Selengkapnya »
12/23/2015 11:36:00 AM | 0 komentar

Wednesday, December 9, 2015

Kitab Batara Guru


Kitab ini berisi seluruh rahasia Allah tentang terjadinya bumi dan manusia beserta kodrat kehidupan dan kebijakan manusia yang tercermin pada Batara Guru yang mempunyai lambang hitam.

: ” Wahai engkau Batara Guru engkaulah tempat bertanya, pengambilan hukum, keterangan, ramalan dari yang paling atas, dari Bukit Siunggas ke Bukit Parsambilan, dari embun yang tujuh-lapis, dari langit ke-tujuh, dari lembah Sitandiang menuju pohon Pakis yang tiga, dari hutan Pungu ke hutan tempat keramat dari Gua Sibada-Bada, dari pohon kayu Simanualang, dari ujung dahan, dari ujung bumi, dari batu Garagajulu itulah tempat penyucianmu, dari rotan terbalik, dari tikar bambu duri, dari simpangan empat, dari rotan terbalik ke bintang yang bercabang ke Batu Sigiling-giling, dari pohon Kayu Junjung Buhit, dari pohon Hariara yang tumbuh di langit itulah jalanmu ke Benua Atas dan Benua Tengah. Jika kau turun ke Benua Tengah mengambil dan mengantar keperluan manusia maka lakukan dari Batu Siukkap-Ukkapon ke batu yang dilangkahi yang datar tapak gadingnya. Itulah jalanmu mengambil dan mengantar kepada manusia, sebab engkaulah yang mempunya Telungkup, punya perahu besar berikat kepala kain yang diputar, punya Gajak Hitam, punya Burung Manggarjati (raja burung yang dapat berbicara). Dibukit Taman Aren, dibawah taman Sirih, jika suatu hari nanti manusia datang kepadamu berikanlah mereka kehidupan sebab engkaulah yang membuka pendengaran manusia, mengetahui kata-kata yang salah dan benar, juga membuka telinga manusia yang punya baju hitam dan kuda hitam”.

Adapun isi dari Kitab Batara Guru adalah :

Pada awal permulaan zaman dahulu kala, tersebut nama Tuan Buki Nabolon, Raja Pinang Habo yang tidak pernah mati,tidak pernah tua, tidak laki-laki dan tidak perempuan bersandar dikayu Sikkam Mabarbar di Benua Holing.

Pada saat itu Kayu Sikkam Mabarbar berulat, kemudian ulat tersebut jatuh ke dalam laut, dan menjadi asal mulanya ikan beserta segala yang hidup didalam air.
Seiring dengan waktu yang tidak diketahui kayu tersebut berulat lagi lalu ulatnya jatuh ke daratan dan menjadi asal mulanya jangkrik, lipan, hala, dll.

Kejadian tersebut terulang kembali, ulat dari Kayu Sikkam Mabarbar jatuh ke hutan belantara dan menjadi awal mulanya harimau, singa, gajah, babi hutan, dll.
Seterusnya ulat tadi jatuh ke tanah datar merupakan awal mula dari kerbau, kuda, lembu, kambing, dll.

Akhirnya ulat kayu tersebut jatuh dari langit menjadi tiga ekor burung besar dan mempunyai nama Manuk Patia Raja yang sangat besar, Manuk Hulambu Jati dan Manuk Mandoang-doang. Kemudian Ompunta Raja Mulajadi Nabolon bersabda kepada Siboru Deak Parujar beserta anaknya tentang ke tiga ayam tadi :

– ” Apabila suatu hari nanti dari keturunanmu melihat paruhnya maka segera buat sebuah persembahan berupa Babi Simeneng-Eneng agar segala tanaman yang kamu tanam membuahkan hasil.

– Apabila dia menampakkkan perutnya, maka segera buat sebuah persembahan berupa ayam putih agar tidak terjadi mara bahaya.

– Apabila dia menampakkan kupingnya, maka segera buat sebuah persembahan berupa kambing putih agar tidak terjadi wabah penyakit.

– Apabila dia menampakkan jenggernya, maka segera buat persembahan berupa kuda merah agar tidak terjadi kelaparan.

– Apabila dia menampakkan ekornya, maka segera buat persembahan berupa kerbau agar tidak sampai niat jahat dari kekuatan roh dan manusia.

– Apabila dia menampakkan bulunya, maka segera buat persembahan berupa lembu agar tidak terjadi kegelapan.

– Apabila dia menampakkan badannya, maka segera buat persembahan berupa kerbau yang mempunyai empat pusaran agar manusia sehat dan mempunyai rejeki melimpah.”

Maka pada akhirnya dari pernyataan diatas, ketentuan tersebut akan menjadi rutinitas manusia kepada penghuni Benua Atas.

2. KODRAT MANUSIA

Pada awalnya, permulaan manusia berasal dari ayam (Manuk Hulambu Jati) yang bertelur tiga butir. Setelah dieram selama satu tahun belum juga menetas. Kemudian tanah di Benua Atas bergetar dan terdengar suara bergema memanggil mereka agar dapat menetas/keluar dari dalam telur tersebut.

Manuk Hulambu Jati (Debata Asi-asi) dengan suara bergema tersebut berkata : “Kalian bertiga akan Aku keluarkan tetapi apa yang Aku ucapkan saat mengeluarkan kalian semuanya akan terjadi”. Maka mereka yang ada didalam telur tersebut(Debata Natolu) menjawab: ” kami setuju asal kami bisa keluar “. Kemudian Debata Asi-asi melakukan langkah-langkah mengeluarkan mereka yaitu : Debata Asi-asi menyentuh bagian daerah kepala sambil berkata : “setiap manusia nantinya, akan ada yang kematian Suami, Istri dan Anak.

Debata Asi-asi menyentuh bagian mata sambil berkata : “Setiap manusia akan menangis “.Debata Asi-asi menyentuh bagian telinga sambil berkata : “akan ada manusia kelak yang tuli”.Debata Asi-asi menyentuh bagian mulut sambil berkata : “akan ada manusia kelak yang sumbing dan ompong”. Debata Asi-asi menyentuh bagian pipi sambil berkata : “setiap manusia akan merasa gatal”.Debata Asi-asi menyentuh bagian leher sambil berkata : “akan ada manusia menderita penyakit gondok”. Debata asi-asi menyentuh bagian bahu sambil berkata : “manusia kelak bersusah payah mencari hidupnya”.Debata Asi-asi menyentuh bagian dada sambil berkata : “akan ada manusia kelak yang lumpuh”.Debata Asi-asi menyentuh bagian punggung sambil berkata : “akan ada menusia kelak yang bungkuk”.Debata Asi-asi menyentuh bagian tangan sambil berkata : “akan ada manusia kelak yang menderita penyakit”.Debata Asi-asi menyentuh bagian kaki sambil berkata : “keluarlah, keluar dan keluar bagaikan bintang di langit dan pasir di tepi laut, demikianlah banyaknya keturunanmu”. Selanjutnya keluarlah tiga manusia laki-laki dari telur tersebut.

Demikian juga halnya pada saat Manuk Hulambu Jati mengeram tiga potong bambu hingga keluarlah tiga orang wanita dari bambu tersebut, yaitu Siboru Porti Bulan, Boru Malimbin Dabini dan Siboru Anggasana. Debata Asi-asi berkata: “Kelak kamu akan susah payah untuk melahirkan anakmu tapi ingatlah Aku akan hadir pada setiap wanita yang melahirkan”.

3. SURATAN MANUSIA

Raja Mulajadi Nabolon duduk di singgasana Benua Atas bersandar di Kayu Sikkam Mabarbar (Kayu Hariara) dan akarnya berjumlah dua puluh enam pada bumi di Batu Manggar Jadi, dahannya ada delapan, rantingnya tiga puluh dan mempunyai buah dua belas.

Ke delapan dahannya persis mengikuti arah mata angin antara lain :

Dahan ke arah Timur berupa Mas

Dahan ke arah Tenggara berupa Suasa

Dahan ke arah Selatan berupa Perak

Dahan ke arah Barat Daya berupa Batu

Dahan ke arah Barat berupa Tima

Dahan ke arah Barat Laut berupa Tembaga

Dahan ke arah Utara berupa Besi

Dahan ke arah Timur Laut berupa Kayu

Suratan kehidupan manusia dituliskan di dalam pohon kayu tersebut, antara lain :

Suratan manusia sebagai raja besar yang tak kurang suatu apapun tertulis di sebelah Timur.

Suratan manusia sebagai raja biasa tertulis di sebelah Tenggara.

Suratan manusia menjadi orang yang sangat kaya, tertulis di sebelah Selatan.

Suratan manusia menjadi orang kaya biasa tertulis di sebelah Barat Daya.

Suratan manusia menjadi seorang dukun tertulis di sebelah Barat.

Suratan manusia menjadi rumah tangga yang harmonis tertulis di sebelah Barat Laut.

Suratan manusia yang mempunyai banyak suami dan banyak istri tertulis di sebelah Utara.

Suratan manusia menjadi orang miskin tertulis di sebelah Utara.

Suratan manusia para pembantu tertulis di sebelah Timur Laut.

Suratan manusia yang berumur panjang tertulis di Akar.

Manusia yang berumur pendek tertulis di Dahan.

Manusia yang baru punya anak kemudian meninggal tertulis di Kayu.

Manusia yang meninggal saat muda tertulis di Ranting.

Manusia yang meninggal saat remaja tertulis di Pucuk.

Manusia yang meninggal saat belajar remaja tertulis di Daun.

Manusia yang meninggal saat anak-anak tertulis pada Daun yang sudah tua.

Manusia yang meninggal saat belajar berjalan tertulis pada Tangkai Daun.

Manusia yang meninggal saat belajar melangkah tertulis pada Daun yang sudah tua.

Manusia yang meninggal saat belajar berdiri tertulis pada Daun yang hendak lepas.

Manusia yang meninggal saat sudah bisa duduk tertulis pada Tangkai daun yang sudah tua.

Manusia yang meninggal saat merangkak tertulis pada ujung Daun yang sudah tua.

Manusia yang meninggal saat belajar merangkak tertulis pada Daun yang hendak jatuh.

Manusia yang meninggal saat bisa berbicara tertulis pada Daun yang sudah busuk.

Manusia yang meninggal dari kandungan tertulis pada Daun yang sudah jatuh.

Manusia yang di masuki roh tertulis pada Dahan yang bercabang.

Perempuan yang dapat mengobati tertulis pada Ranting yang sudah tua.

Manusia yang sakti tertulis pada Buah yang bagus.

Manusia penakut dan orang bodoh tertulis pada Buah yang tidak bagus.

Manusia pencuri tertulis pada buah yang hendak jatuh.

Demikianlah suratan tangan hidup manusia, pada dasarnya setiap manusia yang lahir ke dunia ini tidak mengetahui kelak apa yang akan di alami.

D. Naga Padoha Ni Aji

Pada suatu hari Manuk-manuk Hulambujati bertelur tiga butir. Hatinya tertegun dan heran, karena telurnya lebih besar dari dirinya. Melihat telur tersebut tidak bisa di erami, kemudian Manuk-manuk Hulambujati menjumpai Leang-leangmandi Untung-untung Nabolon dan menitipkan pesan, Dia berkata : ” E ….. Leangleangmandi Untunguntung Nabolon, harap murah hatimu menyampaikan dahulu pesan ku ini kepada Ompunta Maulajadi Nabolon, Aku tidak tahu bagaimana akan kuperbuat perihal telurku yang tiga ini, kuperam tidak cukup dengan buluku “! Akhirnya Leangleangmandi menyampaikan pesan itu kepada Ompunta Mulajadi Nabolon. Ia berkata : ” Ya Ompung, bagaikan beras yang tidak bercampur dengan antah, yang tidak lupa di pesan yaitu pesan dari Manukmanuk Hulambujati, apa seharusnya dilakukan pada ketiga telurnya itu ?” Ompunta Mulajadi Nabolon berpesan : ” Katakanlah agar telur itu tetap diperami. Aku yang lebih tahu akan hal itu, bawalah dua belas butir beras ini, butiran beras ini harus dimakan setiap bulan. Jika terasa gatal pada paruhnya, patukkan kepada telur itu. ” Kemudian Leang-leangmandi menyampaikan pesan Ompunta Mula Jadi Nabolon kepada Manuk-Manuk Hulambujati. Manuk-Manuk Hulambu Jati segera melaksanakan pesan dari Ompunta Mula Jadi Nabolon. Setelah tiba saatnya paruh Manukmanuk Hulambujati menjadi gatal lalu dipatukkannya kepada tiga butir telur tersebut. Telur itupun berputar dan kemudian keluar dari setiap telur tersebut menyerupai manusia laki-laki. Dari telur pertama keluar Batara Guru Doli, Batara Guru Panungkunan, Batara Guru Pandapotan, yang menjadi kebijakan dari segala kerajaan, memegang timbangan kepada seluruh yang dijadikan, permulaan gantang terajunan, timbangan yang adil, bajak pembelah tali, keatas tiada dapat terungkit, kebawah tak dapat oleng dan kesamping tidak akan miring.Dari telur ketiga, keluar Debata Bala Bulan, Balabulan Matabun, Balabulan Nambun yang rubun dipuncaknya. Datu Paratalatal, Datu Parusulusul, mengendarai kuda sembarani, pisau bermata dua, bertombak dua ujung, permulaan kuasa perdukunan kepada manusia. Dari telur ketiga itu juga keluar Raja Padoha, Naga Padoha Niaji, bertanduk tujuh, berkuasa di bawah tanah, asal mula dari gempa. Debata Bataraguru, Debata Sorisohaliapan, Debata Balabulan, itulah Debata Natolu, yang tiga Pendirian, tiga kuasa.

Kemudian Leang-leangmandi menyampaikan kembali pesan Ompunta Mula Jadi Nabolon kepada Manuk-Manuk Hulambujati. Pesan tersebut kembali dilaksanakan. Setelah habis ke sebelas butir beras itu dimakan, paruh Manukmanuk Hulambujati menjadi gatal, kemudian dipatuknya ketiga bambu tersebut sehingga pecah lalu keluarlah dari tiap buku bambu itu tiga wanita, yang pertama bernama, Siboru Porti Bulan, kedua Siboru Malimbin Dabini, ketiga Siboru Anggarana.

Waktu demi waktu terus berjalan keenam anak dan ketiga wanita tersebut semakin dewasa, hal ini membuat hati Manuk-manuk Hulambujati menjadi gelisah. “Apa yang harus aku perbuat terhadap mereka? ” pikirnya dalam hati. Akibat kegelisahan yang dialaminya Manuk-Manuk Hulambujati kembali menjumpai Leangleangmandi Untung-untung Nabolon, kemudian ia berkata: ” Berangkatlah engkau tolong tanyakan kepada Ompunta Mulajadi Nabolon, apa yang harus aku perbuat terhadap anak-anak yang telah dewasa ini “. Setelah mengerti maksud dari Manuk-manuk Hulambujati, Leangleangmandi Untung-untung Nabolon segera menyampaikannya kepada Ompunta Mulajadi Nabolon. Lalu Ompunta Mulajadi Nabolon berpesan: ” Hai Leangleangmandi katakanlah kepada Manukmanuk Hulambujati, jadikanlah ketiga wanita itu menjadi istri Debata Natolu.” Kemudian pesan itu disampaikan Leangleangmandi kepada Manukmanuk Hulambujati, maka Manukmanuk Hulambujati melaksanakan pesan tersebut. Akhirnya ketiga wanita tersebut menjadi istri dari Debata Batara Guru, Debata Sorisohaliapan dan Debata Balabulan.

Ompunta Mulajadi Nabolon, Manukmanuk Hulambujati berkata: ” Ketiga orang itu telah beristri, tetapi bagaimana tentang Siraja Odapodap, Tuan Dihumijati dan Raja Padoha?” Kemudian pesan itupun disampaikan kepada Ompunta Mulajadi Nabolon oleh Leangleangmandi maka Ompunta Mualajadi Nabolon bersabda kepada Leangleangmandi: ” Katakanlah kepada Manukmanuk Hulambujati bahwa Akulah yang memikirkan akan hal itu, dan harus ditunggu anak dari yang tiga tadi, yang akan menjadi istri mereka kelak”.

Tetapi setelah pesan itu disampaikan Leangleangmandi Untung-untung Nabolon kepada mereka, Siboru Deakparujar berdalih dan menolak keputusan tersebut, Siboru Deakparujar hanya berpegang pada kemauannya sendiri.

Kemudian Siboru Deakparujar meminta kapas tiga gumpal dari Ompunta Mulajadi Nabolon untuk dijadikan benang. Apabila dapat di tenun menjadi kain (ulos) maka ia akan menerima perjodohannya dengan Siraja Odapodap. Waktu terus berjalan, namun pintalan benang Siboru Deakparujar masih tetap sebesar pinang muda. Patutlah demikian karena yang dipintal pada malam hari pagi-pagi ditanggali, yang ditenun pada siang hari ditanggali pula pada malam hari.

Kemudian Mulajadi Nabolon dan Leangleangmandi Untung-untung Nabolon datang, ternyata pintalan benang yang ditenun Siboru Deakparujar, masih tetap sebesar pinang muda. Akibat yang dipintal pada malam hari pagi-pagi ditanggali, yang ditenun pada siang hari ditanggali pula pada malam hari. Kemudian pintalan benang tersebut tercampak ke halaman batangan, terbenam sangat dalam, sampai tidak dapat di tarik dari tempat tersebut.

Hati Siboru Deakparujar gundah gulana lalu minta tolong kepada Ompunta Mulajadi Nabolon, kemudian Ompunta Mulajadi Nabolon berpesan: ” Ambillah tongkat tudutudu tualang nabolon, tusukkan ke dekat pintalan benangmu, lalu tarik dengan hati-hati.” Lalu Siboru Deakparujar melaksanakan pesan tersebut, nyatanya pintalan benang itu semakin dalam terbenam. Walaupun demikian ujung benang masih melekat pada alat pemintalannya. Akhirnya pintalan benang tersebut Jatuh dan menarik Siboru Deakparujar sehingga melayang-layang di Benua Tengah di atas air.

Siboru Deakparujar bertanya-tanya dalam hati, apa gerangan yang terjadi. Lalu ia berdiri diatas tanggul , sambil memanggil : ” Leangleangmandi Untunguntung Nabolon sahutilah aku dahulu, karena aku tidak tahu semuanya ini. Lalu Ompunta Mulajadi Nabolon menyuruh Leang-leangmandi Untung-untung Nabolon menjumpai Siboru Deakparujar. ” Apa yang hendak engkau katakan padaku? ” kata Leang-leangmandi Untung-untung Nabolon. Kemudian Siboru Deakparujar menjawab: ” Tanah yang kutempah itu rubuh, aku tidak tahu mengapa demikian. Kini kuharapkan kemurahan hatimu untuk meminta sekepal tanah kepada Ompunta Mula Jadi Nabolon agar kembali sedia kala.” Kemudian Leang-leangmandi Untung-untung Nabolon kembali ke Benua Atas menyampaikan permintaan Siboru Deakparujar kepada Ompunta Mulajadi Nabolon. Sekepal tanah yang diminta tersebut dikabulkan kemudian di bawa oleh Leang-leangmandi Untung-untung Nabolon selanjutnya diberikan kepada Siboru Deakparujar, lalu ia mengulangi kembali tempahannya dan tanah tempahan tersebut kembali seperti sedia kala.

Kemudian Raja Padoha berkata : Mengapa engkau tinggal disini, Leang-leangmandi Untung-untung Nabolon sudah mundar-mandir menjemputmu untuk kembali ke Benua Ginjang supaya engkau dijodohkan dengan Siraja Odapodap.” Kemudian Siboru Deakparujar menjadi marah dan berkata : ” Riaspun diatas, batangnya di bawah, dipaksapun keatas dicampakkan ke bawah, bagaimanapun saya tidak akan mau dijodohkan dengan Siraja Odapodap. Pekerjaan inilah yang paling penting bagiku.” Lalu Siboru Deakparujar memanggil Leang-leangmandi Untung-untung Nabolon, meminta sirih kepada saudaranya Nan Bauraja dan Narudung Ulubegu masing-masing satu lembar. Lalu Leang-leangmandi Untung-untung Nabolon pergi menjemput sirih tersebut kemudian memberikannya kepada Siboru Deakparujar. Selanjutnya sirih tersebut dimakan oleh Siboru Deakparujar kemudian ia menjadi cantik jelita. Lalu di semburkannya sirih tersebut ke pundak Raja Padoha. Semburan air sirih tersebut tepat ke pundak Raja Padoha. Melihat bibir yang merah serta kilauan gigi Siboru Deakparujar ,Raja Padoha bertanya:” apa gerangan itu tolong berikan padaku.” Siboru Deakparujar lalu menyahut :” Itu adalah minyak wangi memperbaiki jantung, membuat hati sehat dan segar bernafas. Salah satu kelebihan dari putri raja yang menjadi pertanda kesopanan dan prilaku adat.” “Jika demikian maksudnya, harap diberikan juga, agar dapat bersikap sopan santun dan berprilaku adat istiadat” kata Raja Padoha.

“Jika engkau menginginkan itu, satu syarat harus dipenuhi yaitu apa yang saya katakan harus engkau penuhi. Syarat itu adalah bahwa engkau harus kupasung lebih dahulu, agar dapat kuberikan padamu. Jika engkau mengharapkan yang lebih baik untuk diberikan, engkau harus dipasung mulai dari kaki, pinggang sampai dengan tanganmu.”

Sejak tanah yang ditempah oleh Siboru Deakparujar tidak rubuh lagi, hanya terban saja yang terjadi sehingga membuat jurang dalam, tebing curam, lembah-lembah, gunung-gunung yang berbukit-bukit. Setelah tanah tersebut selesai ditempah oleh Siboru Deakparujar dengan dataran rendah yang luas namun masih telanjang. Belum ada tumbuhan dan lain-lainnya, maka Siboru Deakparujar memohon kepada Leangleangmandi Untunguntung Nabolon : ” O … Leangleangmandi Untunguntung Nabolon, selesai sudah tanah itu saya tempa, tetapi tidak tertahankan dinginnya karena tidak ada tempat untuk pemukiman. Karena itu tolonglah minta dahulu kepada Mulajadi Nabolon, tumbuh-tumbuhan pada tanah itu.” kemudian Leangleangmandi Untung-untung Nabolon menyampaikan permintaan tersebut kepada Ompunta Mulajadi Nabolon lalu Ompunta Mulajadi Nabolon menugasi Batara Guru untuk membuat segala jenis benih dari tumbuh-tumbuhan, segala yang terbang dan semua kehidupan bergerak di dalam satu karung. Karung itu ditutup oleh Batara Guru lalu berkata kepada Leangleangmandi Untunguntung Nabolon : ” Nah bawalah ini kepada Siboru Deakparujar, dan katakanlah padanya bukalah karung ini, tetapi lebih dahulu kembangkan tikar disekitarnya dan kamu tidak boleh takut melihat apa saja yang keluar dari dalam karung ini”. Pada suatu hari Siboru Deakparujar berjalan-jalan di atas sisi tanah sambil memandang di sekitarnya melihat keindahan segala sesuatu yang tumbuh. Kemudian terlihat bekas tapak kaki yang serupa dengan tapak kakinya. Lalu ia merenung dan berpikir dalam hatinya : “ siapa gerangan orang yang berlalu dari sini tanpa sepengetahuanku”. Tidak ada seorangpun tempat untuk bertanya kemudian dia hanya diam saja. Melihat bekas tapak kaki tersebut, Siboru Deakparujar berharap agar suatu saat dapat melihat orang yang meninggalkan bekas jejak tapak kaki tersebut. Namun tanpa disangka mereka bertemu, lalu Siraja Odapodap menyapa tunangannya tersebut : “ Rupanya engkau berada disini. Engkau telah lama ditakdirkan menjadi jodohku”. Siboru Deakparujar lalu menyahut :” tidak, jika ada yang cocok, bukan engkau orangnya “. ” Tujuh tahun sebenarnya sudah cukup lama dan membosankan, lebih dari itu sepuluh tahun sudah aku nanti,” ujar Siraja Odapodap. Siboru Deakparujar menjadi masgul, karena ia lebih cantik dari Siraja Odapodap, lalu ia bermohon kepada Leangleangmandi Untung-untung Nabolon : “ Bawalah aku ke Benua Atas, karena aku telah rindu kepada ayahku Batara Guru”. Leangleangmandi Untung-untung Nabolon lalu menjawab : ” aha… aku tidak boleh membawamu ke Benua Atas sebelum bertanya kepada Ompunta Mulajadi Nabolon”. namun permohonan tersebut tetap disampaikan, Kemudian Ompunta Mulajadi Nabolon berseru kepada Leangleangmandi Untung-untung Nabolon : ” Selama Aku memanggilnya untuk kembali ke Benua Atas, hatinya tetap ingin tinggal di Benua Tengah, maka Biarlah dia tetap di Benua Tengah. Apabila engkau membawanya, engkau akan kena hukuman dariKu”. Leangleangmandi Untung-untung Nabolon menyampaikan pesan tersebut kepada Siboru Deakparujar, dia termenung sambil berpikir, rupanya hal ini sudah menjadi nasibku. Siraja Odapodap kemudian berkata : ” jangan engkau bersedih bahwa apa yang telah di takdirkan saatnya pasti akan datang, karena apabila sudah jodoh tidak dapat dielakkan”. Kemudian Siboru Deakparujar lalu menangis dan bermohon kepada Leangleangmandi Untung-untung Nabolon supaya menyampaikan pesan kepada Ompunta Mulajadi Nabolon agar merestui perkawinannya dengan Siraja Odapodap, karena takdir tak dapat terelakkan. Konon Ompunta Mulajadi Nabolon bersabda : ” Biarkanlah ia memberkati dirinya sendiri, bukan karena perintahku maka ia mau, tetapi karena tidak ada jalan lain lagi maka ia berkata demikian. Walaupun begitu bukan berarti bahwa mereka tidak berkembang dengan baik dan sejahtera, akan tetapi ia akan tetap kena hukuman akibat perbuatannya selama ini”. Siboru Deakparujar kemudian bermohon kepada Leangleangmandi Untung-untung Nabolon : “Jika harus dihukum juga, aku tetap mengelak tidak mau kawin dengan Siraja Odapodap, akan tetapi apabila Ompunta Mulajadi Nabolon memberitahukan apa bentuk hukuman tersebut, maka aku akan mengambil sikap dan keputusan untuk mengiyakan”. kemudian Leangleangmandi Untung-untung Nabolon menyampaikan permohonan tersebut kepada Ompunta Mulajadi Nabolon, maka Ompunta Mulajadi Nabolon berkata: ” Engkau akan bersusah payah, dan engkau akan berkeringat untuk mencari makanmu “. Setelah mereka sudah menjadi suami istri di Benua Tengah dan tibalah saatnya Siboru Deakparujar pun hamil, lalu meminta tawar perselisihan dan berkat tuah yang agung serta tawar mulajadi . Leangleangmandi Untung-untung Nabolon kemudian memberikan kepada Siboru Deakparujar dan diselipkan pada kain dan sanggulnya. Kemudian Ompunta Mulajadi Nabolon berkata kepada Leangleangmandi Untung-untung Nabolon : ” Katakanlah kepada Siboru Deakparujar, apabila kandungannya sudah lahir itu akan menjadi sanggul-sanggul untuk tanah yang ditempanya “. Mengetahui hal tersebut Siboru Deakparujar berdiam diri karena malunya. Berselang beberapa hari, Siboru Deakparujar melahirkan kandungannya, namun bentuknya seperti bulatan, tidak berkaki, tidak bertangan dan tidak berkepala. Maka ia menjadi bingung karenanya. Pada suatu hari Siboru Deakparujar hamil kembali, kemudian lahirlah anak yang kembar satu laki-laki dan satu perempuan. Nama anak laki-laki Siraja Ihat Manisia atau tuan Mulana dan menjadi permulaan manusia laki-laki. Nama anak perempuan Siboru Ihat Manisia itulah asal-usul ibu manusia. Setelah anak yang dua itu besar, Siboru Deakparujar memesankan kepada Leangleangmandi Untung-untung Nabolon, agar keluarganya dari Benua Atas datang untuk bergembira serta merestui anaknya yang dua itu. Kemudian datanglah Ompunta Mulajadi Nabolon, Debata Sori, Debata Asiasi, turun dari Benua Atas, langit dari parlangitan, melalui benang urutan Siboru Deakparujar. Mereka tiba di puncak Gunung Pusuk Buhit, dan dari sanalah tempat permulaan manusia yaitu Sianjurmulamula – Sianjurmulamulajadi – Sianjurmulamulatompa, membelakangi jauh dan berhadapan dengan Toba, berpancuran gelang, bertapian jabi-jabi untuk bercuci muka di pagi hari dan untuk bercuci diri di malam hari. Itulah yang dihimpit dua cabang lautan tempat berpijak Dolok Pusuk Buhit, yang menjadi tempat keramat Nalaga yang tidak boleh dilalui dan tidak boleh bercela. Setelah Ompunta Mulajadi Nabolon tiba di tempat Siboru Deakparujar lalu memberkati mereka. Maka sampailah ke dalam hati mereka apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. kemudian diberitahukan juga jalan atau cara apa yang dapat ditempuh oleh manusia untuk berhubungan dengan Ompunta Mulajadi Nabolon di Benua Atas yaitu berupa sajian (sesajen) dengan benda yang sangat berharga (homitan). Barang homitan yang paling berharga untuk berhubungan dengan Ompunta Mulajadi Nabolon adalah Kuda Sihapaspili. Dan sesajen kepada Mulajadi Nabolon, tepat dua takaran, daun kemangi dan sirih kembang. Kepada Debata Sori, jeruk purut dan tuak di dalam sawan beserta daun kemangi, kepala Balabulan dua lepat, bunga-bungaan mekar dan sirih kembang. Ompunta Mulajadi Nabolon bersabda : “Jika kamu sekalian penghuni Benua Tengah hendak berhubungan dan bersekutu dengan kami penghuni Benua Atas, maka segala jenis sesajen yang hendak kamu persembahkan harus disusun rapi dan bersih serta diiringi dengan rasa penyampaian yang tulus dan suci “. Maka itulah permulaan yang menjadi dasar hodadebata diurapi manusia. Setelah genap selesai seluruhnya diatur, Mulajadi Nabolon lalu naik ke Dolok Pusuk Buhit hendak kembali ke Benua Atas, Karena kaki Debata Asiasi timpang-timpang tinggallah ia dibelakang bersama Raja Inggotpaung. Siboru Deakparujar dengan Siraja Odapodap turut juga kembali ke Benua Atas. Setelah kedua anaknya Siraja Ihatmanisia dan Siboru Ihat Manisia dititipkan kepada Debata Asi-asi dan Raja Inggotpaung.

Pada saat mereka hendak naik ke Benua Atas, kedua anaknya tersebut terus menatap ingin turut serta, namun tali telah putus hingga gagal. Tali yang putus tersebut beterbangan ke seluruh penjuru desa yang delapan. Sejak itu hanya Batunanggarjati jalan ke Benua Atas dan Debata Asiasi menjadi penghubung antara Benua Tengah dan Benua Atas berulang-ulang.

Selengkapnya »
12/09/2015 10:36:00 AM | 0 komentar

Monday, November 30, 2015

Kematian Dan Adat Tradisinya Dalam Budaya Batak


Kematian dan adat tradisinya dalam budaya Batak memiliki perlakuan atau upacara serta adat yang berbeda-beda. Setiap orang yang mati dengan umur dan status dari orang yang mati tersebut, akan saling berbeda satu sama lain prosesinya. Media Budaya mencoba menggali informasi sebagai referensi lebih jauh sebagai pengaya terhadap budaya Batak, kali ini mengenai jenis-jenis mati dan prosesinya dalam tradisi Batak.

Kehidupan terdiri dari dua kutub pertentangan, antara “hidup” dan “mati”, yang menjadi paham dasar manusia sejak masa purba sebagai bentuk dualisme keberadaan hidup hingga masa kini (Sumardjo,2002:107). Kematian merupakan akhir dari perjalanan hidup manusia. Maka kematian pada dasarnya adalah hal yang biasa, yang semestinya tidak perlu ditakuti, karena cepat atau lambat akan menjemput kehidupan dari masing-masing manusia.

Dalam tradisi Batak, orang yang mati akan mengalami perlakuan khusus, terangkum dalam sebuah upacara adat kematian. Upacara adat kematian tersebut diklasifikasi berdasar usia dan status si mati.  Beberapa nama atau istilah mati dalam tradisi Batak berikut prosesinya antara lain yaitu :

Mate Di Bortian

Mate Di Bortian berarti meninggal pada saat masih dalam kandungan. Tradisi atau prosesi adat kematian belum berlaku karena langsung dikubur tanpa peti mati. 

Mate Poso-poso

Mate poso-poso berarti meninggal saat masih bayi. Tradisi atau prosesi adat kematian yaitu jenazah ditutupi selembar ulos (kain tenunan khas Batak) yang diberikan oleh orang tuanya.

Mate Dakdanak

Mate dakdanak berarti meninggal saat masih kanak-kanak. Tradisi atau prosesi adat kematian yaitu jenazah ditutupi oleh ulos (kain tenunan khas Batak) yang dilakukan oleh tulang (paman/saudara laki-laki dari ibu).

Mate Bulung

Mate bulung berarti meninggal pada saat remaja atau menjelang dewasa. Tradisi atau prosesi adat kematian sama dengan mate dakdanak, yaitu jenazah ditutupi ulos dari tulang.

Mate Ponggol

Mate ponggol berarti meninggal pada saat berusia dewasa namun belum menikah. Tradisi atau prosesi adat kematian sama dengan mate dakdanak dan mate bulung, yaitu jenazah ditutupi ulos oleh tulang.

Tingkatan prosesi kematian di atas adalah bagi jenazah yang belum berumah tangga. Berikut ini adalah tingkatan tradisi prosesi kematian bagi yang telah berumah tangga atau telah memiliki keturunan : 

Mate Di Paralang-alangan atau Mate Punu

Mate Di Paralang-alangan atau Mate Punu berarti meninggal pada saat sudah berumah tangga (sudah menikah) namun belum memiliki keturunan. 

Mate Mangkar

Mate mangkar berarti meninggal pada saat sudah menikah (berumah tangga) dan meninggalkan beberapa orang anak yang masih kecil-kecil.

Mate Hatungganeon

Mate Hatungganeon berarti meninggal dan sudah memiliki anak-anak, beberapa di antara anaknya sudah ada yang menikah namun belum memiliki cucu. 

Mate Di Paralang-alangan, Mate Mangkar dan Mate Hatungganeon prosesi adatnya lebih sarat dibandingkan dengan 5 tingkatan kematian sebelumnya, namun sudah memberlakukan peranan dalihan na tolu di dalamnya. Biasanya hanya berupa kebaktian atau seremonial tanpa ada unsur musik atau gondang.

Mate Sari Matua

Mate Sari Matua berarti meninggal dengan meninggalkan anak-anaknya dan sudah pula bercucu, namun ada di antara anak-anaknya tersebut yang belum menikah. Prosesi adat Mate Sari Matua biasanya telah melibatkan unsur musik atau gondang di dalamnya, dan dalam pengerjaannya memberlakukan urutan panggilan tulang atau hula-hula ke tingkatan yang lebih tinggi (biasanya pada tingkatan marga tulang dari nenek (marga dari saudara laki-laki nenek) dalam hal pemberian ulos kepada keturunan yang ditinggalkan pada saat manortor di depan peti jenazah yang masih terbuka.

Mate Saur Matua

Mate Saur Matua berarti meninggal dalam keadaan anak-anaknya sudah menikah semua dan sudah memiliki anak (cucu dari orang yang meninggal tersebut).

Mate Saur Matua Bulung

Mate Saur Matua Bulung berarti meninggal dengan meninggalkan anak-anaknya yang telah menikah dan memiliki cucu, bahkan cucunya sudah pula berketurunan (cicit dari orang yang meninggal tersebut)

Dalam budaya Batak, Mate Saur Matua dan Mate Saur Matua Bulung merupakan tingkatan prosesi atau upacara adat yang tertinggi. Hal ini disebabkan dengan asumsi bahwa orang yang meninggal tersebut berstatus tidak memiliki tanggungan lagi. Tingkatan marga tulang atau hula-hula biasanya telah mencapai tingkatan marga tulang atau saudara laki-laki ibu dari kakek orang yang meninggal tersebut (bona ni ari).

Sebagai informasi untuk mengilustrasikan tingkatan-tingkatan tersebut, yang disebut atau dipanggil untuk memberikan ulos kepada keturunan dari yang meninggal tersebut adalah urutan tulang atau hula-hula si laki-laki. Jadi ketika peranan hula-hula dan tulang sudah berlaku pada Sari Matua, Saur Matua dan Saur Matua Bulung, meskipun yang meninggal adalah si perempuan meskipun suaminya masih hidup maupun sudah mati, pada saat manortor atau ketika bunyi musik sudah terdengar sebagai prosesi pemberian ulos (mangulosi) tetaplah dari urutan tulang atau hula-hula si laki-laki (naik ke atas) sedangkan urutan tertinggi dari si perempuan adalah tulang (marga saudara laki-laki ibunya).

Selengkapnya »
11/30/2015 10:59:00 AM | 0 komentar