Hi, guest ! welcome to Yahoo!. | About Us | Contact | Register | Sign In
Showing posts with label Indonesiana. Show all posts
Showing posts with label Indonesiana. Show all posts

Thursday, August 4, 2016

Ada Lomba Tangkap Buaya Hidup di NTT, Hadiahnya Rp 5 Juta


Bungtoms.com -- Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) tengah menggagas lomba menangkap buaya di wilayah Kota Kupang.


Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif NTT Marius Ardu Jelamu mengatakan, lomba ini digelar karena banyak buaya berkeliaran di sekitar lokasi obyek wisata pantai.
Satwa liar itu sangat mengganggu dan meresahkan para wisatawan yang berkunjung maupun nelayan setempat.
"Saya tidak mau kalau perairan kita, khususnya di Pantai Lasiana sampai Teluk Kupang, itu banyak buaya yang berkeliaran. Karena itu, saya menggagas lomba menangkap buaya. Silakan masyarakat yang memiliki keahlian, membentuk tim untuk menangkap buaya-buaya itu," kata Marius, Rabu (3/8/2016) malam.
Penangkapan buaya itu sebenarnya tugas Balai Besar Konversi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Provinsi NTT. Namun, karena dampaknya telah mengganggu sektor pariwisata, Marius berinisiatif menggagas lomba itu.
Menurut Marius, BBKSDA NTT memiliki keterbatasan sarana alat dan personel dan itu menyulitkan mereka untuk menangkap buaya.
Reptil itu, kata Marius, sangat mengganggu anak-anak untuk mandi. Wisatawan pantai juga waswas dan serba hati-hati karena tidak aman.
Setiap orang diperkenankan menangkap buaya dengan catatan tidak menangkap di sarang buaya, tetapi yang berkeliaran di pantai. Buaya yang ditangkap harus dalam keadaan hidup.
"Kita sedang mengatur mekanismenya, tapi ide itu silakan didiskusikan di publik dan mudah-mudahan warga bisa mendukung," kata dia.
Hadiah Rp 5 juta menanti para penangkap buaya. Marius juga mengatur soal asuransi bagi para penangkap buaya.
"Kalau misalnya ada warga yang terluka saat menangkap buaya, maka kita telah bekerja sama dengan asuransi supaya diberikan kompensasi," kata Marius.
Buaya yang berhasil ditangkap dalam keadaan hidup, kemudian diserahkan kepada pihak BBKSDA NTT. (kompas)

Selengkapnya »
8/04/2016 12:28:00 PM | 0 komentar

Thursday, July 21, 2016

"Wonderful Indonesia" Sabet Dua Penghargaan di Sydney


BungToms -- Wonderful Indonesia lagi-lagi sukses memboyong dua penghargaan dari Travel Tourism Exhibition di Sydney, Australia.


Kemenangan ini semakin lengkap setelah sebelumnya Wonderful Indonesia juga menyambar penghargaan The Most Beautiful Diving Destination di Taiwan. Dua penghargaan di Sydney itu terdiri dari kategori ‘Best Innovative Stand’ dan ‘10 sqm & Over.’



“Wonderful Indonesia mendapatkan dua penghargaan dari Travel Tourism Exhibition di Sydney. Kita sukses mengalahkan Malaysia dan Thailand,” kata Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Mancanegara Kementerian Pariwisata, I Gde Pitana dalam siaran pers Biro Hukum dan Komunikasi Publik Kemenpar kepada KompasTravel di Jakarta, Rabu (20/7/2016).



Di Sydney, dua pesaing utama Indonesia, Malaysia dan Thailand dipaksa pulang dengan tangan kosong. Tak ada award yang bisa dibawa pulang ke negaranya. Booth Thailand dan Malaysia selalu sepi.



Sangat kontras bila dibandingkan dengan kepak sayap Wonderful Indonesia yang ikut memboyong penari dari Bandung World Ethnic dan Jember Fashion Carnaval.



Event ini sangat strategis bagi Indonesia, karena pasar Australia adalah pasar utama penyumbang jumlah wisman terbesar. Award ini bisa menjadikan tumpangan untuk mempopulerkan destinasi wisata Indonesia,” ujar Pitana.


Bagi Pitana, kompetisi dan awarding itu punya makna penting baik internal maupun eksternal. Ke dalam, akan meningkatkan kualitas dan kemampuan SDM dalam hospitality. Sementara ke luar, akan mendongkrak kredibilitas Indonesia di dunia internasional. Apalagi award itu diperoleh dengan cara-cara yang fair, betul-betul karena kualitas.



”Kebanggaan dan prestasi itu bisa menularkan virus kompetisi internal kita, destinasi, pelaku bisnis, seniman, pemerhati, dan semua pihak yang concern di pariwisata. Semakin ketat kompetisi, semakin banyak karya yang bisa dipromosikan ke mancanegara," jelasnya.



Ketua Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA), Asnawi Bahar, memperkuat asumsi Pitana. Dengan brand equity yang kuat, Wonderful Indonesia diyakini akan mudah mendapatkan banyak manfaat.



“Indonesia akan makin masuk consideration set para turis yang mau milih destinasi. Terutama bagi wisman yang belum punya awarenesstinggi terhadap Indonesia," ujar Asnawi.



Hal lain yang bisa didapatkan, lanjut Asnawi, country brandingpariwisata Indonesia akan menjadi makin tajam sesuai dengan kategori awards yang diperoleh. “Dampaknya bukan hanya pada jumlah turis dan kunjungan yang akan datang, tapi juga spending-nya ketika berada di Indonesia," tambah Asnawi.


Menteri Pariwisata Arief Yahya menyebut prestasi demi prestasi seperti ini akan semakin memperkuat branding Wonderful Indonesia di mancanegara. Semakin besar brand value pariwisata Indonesia itu, bukan hanya memiliki probabilitas kunjungan lebih banyak, tetapi juga nilai atau harga satuan di destinasi itu semakin tinggi.



"Karena itu reputasi itu penting, dan kemenangan-kemenangan seperti ini menjadi berarti," kata Arief Yahya. (kompas)

Selengkapnya »
7/21/2016 08:41:00 AM | 0 komentar

Saturday, February 6, 2016

5 Keajaiban Papua yang Mungkin Belum Anda Ketahui


Mendengar kata Papua, pasti yang terlintas di benak Anda adalah suku-suku pedalaman. Rupanya, Papua memiliki keajaiban yang belum diketahui banyak orang. Siap-siap terkejut karena selain salju, Papua punya beberapa keajaiban lain yang..banyak dari kita mungkin belum tahu. 
 Keajaiban tersebut ada yang berasal dari alam, buatan manusia, atau pun misteri yang belum terpecahkan. detikTravel pun datang dan menyaksikan keajaiban-keajaiban tersebut dari dekat.
Berada di ujung timur Indonesia, Papua memiliki beragam destinasi menarik untuk dikunjungi. Anda bisa mengarungi Danau Sentani dengan banyak gugusan pulaunya, bercengkrama dengan suku-suku yang masih memegang adat dan tradisi, seperti memakai koteka, atau bermain-main di wilayah perbatasan Indonesia-Papua Nugini di Merauke.
Inilah 5 keajaiban Papua:
1. Salju di negara tropis
Ingin melihat salju di Indonesia? Datanglah ke Gunung Carstenz. Gunung ini merupakan gunung tertinggi di Papua, dengan ketinggian 4.884 mdpl dan menjadi salah satu dari 7 puncak benua atau yang dikenal Seven Summit Continental. Carstenz merupakan rangkaian dari Pegunungan Jaya Wijaya di Taman Nasional Lorentz. Di puncaknya terdapat salju abadi.
detikTravel berkesempatan terbang dengan helikopter di atas puncaknya. Salju berwarna putih pun terlihat jelas di antara bebatuan hitam. Cuaca yang berkabut membuat pilot berhati-hati saat menerbangkan pesawat
Suhu yang dirasakan saat itu pun 0 derajat Celcius. Dada pun terasa sesak karena tidak bisa menarik nafas dalam-dalam. Pemandangan berupa bebatuan abu-abu yang besar-besar, Danau Biru, tidak ada kehidupan, dan awan yang menyelimuti Carstenz pun terlihat jelas.
Jika ingin mendaki Carstenz, Anda harus menyiapkan perbekalan dan fisik untuk mendaki selama 11 hari. Pendakian Carztens dapat dimulai dari Sugapa di kabupaten Puncak Jaya. Dari Sugapa, Anda dapat menyewa porter dengan biaya sekitar Rp 500-1 juta per harinya.
Untuk menapakan kaki di Puncak Carstenz, Anda juga harus bisa teknik tali-menali. Sebabnya, Anda harus menyeberangi jurang setinggi 100 meter dengan cara menggantungkan diri dan merambat di tali di udara untuk berdiri di tempat turunnya salju di Indonesia ini.


(Bukit Sumpula | foto: indalber.com)
2. Pasir putih di atas bukit
Jika biasanya pasir putih identik dengan pantai, maka berbeda di Wamena, sebuah distrik di Kabupaten Jaya Wijaya, Papua. Di sini Anda akan dibuat takjub melihat hamparan pasir putih yang ada di atas bukit. Ajaib!
Bukit tersebut bernama Bukit Sumpula. Cukup mudah untuk datang ke sana. Dari Kota Wamena, hanya memakan waktu sekitar 45 menit saja. Ada 6 tempat di sini yang memiliki hamparan pasir putih. Rerumputan menjadi alas berpijak setibanya di sana. Namun, pasir putih tersebut akan terlihat saat Anda mendaki bukit tersebut. Pasir putih di sini terhampar luas dan sangat halus.
Anda hanya dikenakan biaya sukarela untuk naik ke atas bukitnya. Cukup melelahkan memang untuk mendaki sampai di atas puncaknya. Tapi, dari atas ketinggian, Anda akan melihat pemandangan kontras antara rerumputan hijau, batu berwarna abu-abu, Pegunungan Jaya Wijaya yang berwarna hijau bagaikan pagar raksasa, dan pasir yang berwarna putih.
Memang, Wamena tidak mempunyai pantai. Tapi bukit berpasir putih ini cukup memberitahu tentang anak-anak di Wamena, bagaimana rasanya bermain-main di tepian pantai. Anda akan benar-benar terbius.
(Mumi di kampung Sompaina | foto: viva.co.id)
3. Mumi di pedalaman Indonesia
Tidak perlu jauh-jauh ke Mesir untuk melihat mumi. Di Wamena, terdapat mumi Papua yang rupanya tidak kalah 'seram' dari mumi di Mesir. Warnanya hitam dan lekuk tubuhnya terlihat jelas. Mumi tersebut tidak dalam posisi tidur, melainkan duduk sambil kedua tangan memegang lutut dan kepala yang mendongkak ke atas.
Mumi Papua ini tidak dibalut perban dan jumlahnya sekitar 6 di Wamena, yang paling terkenal adalah di Kampung Sompaima, Distrik Kurulu. Proses pembuatan mumi ini yaitu dijemur dan dikeringkan di gua. Mayat yang dijadikan mumi pun bukan orang sembarangan. Mumi-mumi tersebut adalah para kepala suku atau panglima perang. Umurnya? Sekitar 300 tahun!
Yang lebih mencengangkan lagi, mumi ini bukan sebagai tradisi atau ritual. Para kepala suku atau panglima perang tersebut, berpesan untuk dijadikan mumi agar memberikan kesejahteraan bagi para suku dan masyarakatnya.
Untuk melihat mumi ini, Anda pun diwajibkan untuk membayar uang sekitar Rp 100-150 ribu per rombongan. Uang tersebut pun menjadi pemasukan bagi masyarakat sekitar. Selain itu, masyarakat sekitarnya juga menjual beragam suvenir untuk Anda beli sebagai oleh-oleh. Suvenir etrsebut berupa kalung taring babi hingga noken. Benar-benar mensejahterakan bukan?
(Lukisan-lukisan menyerupai wujud alien di dinding gua Kontilola Foto: Detik.com)


4. Lukisan misterius di Gua Kontilola

Satu lagi keajaiban dari Wamena, Gua Kontilola. Gua ini letaknya sekitar 1 jam dari Bandara Wamena. Untuk memasuki gua ini, Anda harus mendaki tangga-tangga alami dan menjelajahi hutan sekitar 10 menit. Setibanya di mulut gua, terdapat aula besar dengan udara lembab dan bau dari kotoran kelelawar.
Gua ini merupakan gua horizontal. Namun, untuk masuk ke dalamnya Anda harus menyediakan peralatan lengkap seperti senter, sepatu boots, helm, dan pengaman lainnya. Sehingga, Anda hanya bisa sampai di aula besarnya saja jika tidak membawa perlengkapan yang lengkap. Tak perlu kecewa, dari aula besar gua ini Anda dapat melihat suatu keajaiban yang juga menjadi misteri.
Ya, misteri tersebut adalah beberapa lukisan yang ada di dinding gua setinggi 3 meter. Lukisan itu pun dapat Anda lihat jelas dengan mata telanjang. Anehnya, lukisan tersebut tidak menggambarkan rupa orang-orang Papua, melainkan menggambarkan manusia dengan bentuk yang aneh.
Bentuknya memang menyerupai bentuk tubuh manusia. Akan tetapi, jika diperhatikan, kepalanya berbentuk bulat seperti bola dan tidak memiliki rambut. Matanya pun bulat sempurna, tidak seperti manusia pada umumnya. Selain itu, jari tangan yang ada pada lukisan tersebut berjumlah empat. Berbeda dengan manusia yang berjari lima. Hii!
Menurut masyarakat setempat, lukisan ini telah lama ada di dalam gua. Mereka pun percaya bahwa ini adalah peninggalan leluhur. Gua ini memang belum banyak dikenal oleh traveler. Jadi, masih menjadi misteri yang belum terpecahkan.


(Telaga Biru di Wamena | foto: mayakho.wordpress.com)
5. Telaga Biru yang Berwarna Hijau
Satu tempat di Papua yang belum dijamah para traveler adalah Telaga Biru di Distrik Maima, Wamena. Dari Distrik Maima, Anda harus trekking dari Distrik Maima untuk tiba di Telaga Biru.
Telaga ini tersembunyi di balik bukit terjal, dikelilingi tebing hijau yang menghalanginya dari lanskap sekitar. Telaga ini pun dianggap sakral oleh masyarakat setempat. Konon, telaga ini adalah tepat munculnya manusia pertama kali di bumi.
Keajaiban di telaga ini adalah dari warnanya yang hijau toska. Entah darimana asal warna hijau tersebut. Selain itu, larangan untuk berenang di sini pun harus dipatuhi oleh para turis. Menurut masyarakat setempat, dulu ada turis yang berenang dan menemukan Honai (rumah adat Suku Dani) di dalam telaganya. Percaya?
detikTravel

Selengkapnya »
2/06/2016 05:21:00 PM | 0 komentar

Pulau di Bima ini Penuh Dengan Ular. Tak Berbisa


Tersebutlah sebuah pulau kecil di wilayah Kabupaten Bima bagian timur, tepatnya di Kecamatan Wera Desa Pai. Pulau ini terletak dekat sekali dengan daratan Pulau Sumbawa hanya lebih kurang 400-500m.
Pulau Ular demikian Orang Bima menyebutnya, karena mungkin pulau ini hanya dihuni oleh sekelompok ular-ular jinak yang tidak mengganggu penduduk. Yang menarik sebenarnya bukan karena banyaknya ular atau tidak adanya manusia yang mau tinggal di pulau yang kirakira seluas 500 m2 ini, tetapi lebih karena ular-ular ini berbeda dengan umumnya ular yang ada di Daerah Bima. Ular-ular ini mencari makanan di dalam laut dan beristirahat di atas pulau di antara celah-celah bebatuan atau bergelantungan pada tebing-tebing terjal, maka menambah daya tarik pulau ini.

Pulau ini merupakan habitat bagi populasi ular laut dengan keunikan warnanya putih silver dengan kombinasi hitam mengkilap. Ular-Ular ini jinak dan bersahabat dengan wisatawan yang mengunjunginya. Pulau ular dapat dijangkau dengan waktu tempuh sekitar 45 menit perjalanan dari Kota Bima menggunakan transportasi darat.

Ular-ular di Pulau Ular tersebut menurut penduduk setempat merupakan jenis ular laut. Siapapun tahu bahwa ular laut termasuk ular yang sangat beracun. Dilihat dari ciri-ciri fisiknya, ular tersebut memang berbentuk seperti ular laut. ekornya pipih seperti ekor ikan, warnanya putih silver dan hitam mengkilat. Ketika dipegang tidak terasa licin sama sekali sebagaimana layaknya ular-ular di darat. Kulitnya lebih terasa kesat dan bersirip seperti ikan. Walau hidup liar, mereka sangat jinak dan ramah terhadap pengunjung. Ketika dipegang mereka sama sekali tidak menggigit atau melilit.

Mengunjungi obyek wisata ? Pulau Ular ? anda juga disuguhkan dengan keindahan pesona laut Bima. Dari pulau ini Gunung Api Sangiang tampak berdiri kokoh. Bagian puncaknya selalu diselimuti kabut.
Dalam legenda, Pulau ular merupakan jelmaan dari kapal Portugis yang terdampar di perairan Wera. Ular-ular tersebut adalah jelmaan para penumpang dan ABK Kapal. Sedangkan dua pohon Kamboja yang tumbuh di kedua sisi pulau itu merupakan jelmaan dari tiang-tiang kapal portugis.
Meskipun itu adalah legenda, namun Pulau Ular sudah semakin dikenal dunia. Banyak wisatawan lokal maupun asing yang berkunjung ke pulau ini. Pemerintah Daerah harus segera menata pulau ini, membangun fasilitas jalan, fasilitas semacam brugak-brugak di pinggir pantai Desa Pai untuk disewakan kepada pengunjung dan akan menjadi sumber PAD bagi Daerah.
Sumber : Kaskus

Selengkapnya »
2/06/2016 05:21:00 PM | 0 komentar

Makin Pintar dengan Sosial Media 'MakinPintar'


Pendidikan di Indonesia terus menunjukkan kemajuan yang positif dan membanggakan. Inovasi terus-menerus diciptakan demi percepatan pemerataan pendidikan. Salah satunya ditunjukkan oleh Universitas Airlangga yang bekerja sama dengan ‘makinpintar.com' dalam pembuatan sebuah situs portal pendidikan.
‘makinpintar.com' adalah portal kolaborasi akademik nasional yang dibuat dalam rangka mempercepat proses kolaborasi pendidikan di Indonesia. Kondisi Indonesia yang terdiri dari tiga belas ribu pulau, terbentang dari ujung Timur perbatasan Papua Nugini hingga pulau Weh di ujung Barat, tentu membuat proses pemerataan pembangunan nasional mengalami hambatan. Efek dari terhambatnya pemerataan pembangunan ini berdampak dalam dunia pendidikan pula. Padahal, keberhasilan pengelolaan sistem pendidikan dengan segala sarana-prasarananya merupakan salah satu tolok-ukur keberhasilan suatu bangsa. Siswa-siswa di kota besar memiliki akses dan fasilitas lebih berkembang daripada sekolah-sekolah di kota kecil atau bahkan di pedesaan. Perbedaan kualitas sekolah-sekolah ini, secara tidak langsung akan menyebabkan kesenjangan kualitas pendidikan bagi para siswanya.
Untuk mempercepat proses pemerataan pendidikan diperlukan sebuah mekanisme yang tepat, salah satu yang cukup efektif membuat sistem pendidikan Indonesia tumbuh merata adalah dengan memanfaatkan sistem kolaborasi menggunakan jalur internet. Dasar pemikiran inilah yang kemudian menjadi cikal-bakal terciptanya ‘makinpintar.com'. 
(salah satu halaman makinpintar.com)

Melalui format sosial media, ‘makinpintar.com' diharapkan bisa menjadi sarana komunikasi yang mampu menarik pemakai dalam jumlah yang massif, dengan intensitas pemakaian yang panjang. Terciptanya sistem kolaborasi juga akan memungkinkan tersedianya jaringan yang lebih luas serta akses yang kian mudah dan cepat. Misalnya, seorang siswa di Manokwari yang kesulitan mendapat penjelasan tentang Hukum Newton, melalui ‘makinpintar.com' dapat mengakses konten materi tersebut dalam format E-Book atau berupa artikel di ‘makinpintar.com'. Materi ini dapat berupa contoh soal atau bahkan video klip dari seorang siswa berprestasi atau guru dari sekolah unggulan di daerah lain.


 "Situs makinpintar.com ini merupakan awal dari terciptanya kolaborasi dinamis pendidikan antar guru, siswa dan seluruh penggiat pendidikan di Indonesia. Besar harapan kita agar ini bisa menjadi langkah awal untuk kemajuan dunia pendidikan Indonesia", ujar Wakil Rektor 4 Junaidi Khotib, S.Si., M.Kes., Ph.D.
‘makinpintar.com' nantinya juga akan menyediakan fitur-fitur lengkap dalam berkomunikasi (seperti chatting, video conference, dan fitur lainnya). Sehingga di kemudian hari, sekolah-sekolah yang tergabung dalam ‘makinpintar.com' bisa membuat program-program diskusi interaktif, membentuk ‘sister school', berorganisasi dan bertukar informasi secara cepat dan interaktif, baik berupa konten-konten yang berhubungan dengan kurikulum, maupun konten-konten yang berhubungan dengan kegiatan ekstrakurikuler. Dengan sistem ini diharapkan dapat terjadi komunikasi yang hangat antar siswa dengan siswa, siswa dengan guru, juga antar guru serta akademisi. Siswa yang ada di seluruh penjuru negeri bisa bekomunikasi dengan guru di kota-kota besar di Indonesia. Demikian juga dengan siswa yang memiliki keterbatasan dalam mengakses bahan ajar, akan dipermudah dengan hadirnya portal komunikasi ‘makinpintar.com'.
Dari sisi ekonomis, ‘makinpintar.com' nantinya juga akan bekerja sama dengan bebrapa pihak untuk menyediakan fasilitas penunjang pendidikan dengan harga murah dan terjangkau. Misalnya, untuk mengantisipasi harga-harga buku penunjang pendidikan yang cukup mahal, ‘makinpintar.com' akan bekerja sama dengan pihak penerbit untuk men-substitusi buku-buku tersebut dengan format E-Book yang harganya lebih terjangkau, dan dapat diakses dengan mudah di Makinpintar.com.
Selain membuat berbagai macam fitur online, ‘makinpintar.com' juga akan mengadakan banyak aktivitas  offline yang diharapkan dapat bersinergi dengan aktifitas online, seperti ‘makinpintar Awards' sebagai penghargaan untuk sekolah, siswa, dan guru favorit. 
Seiring dengan perkembangan dunia pendidikan modern, hadirnya situs ‘makinpintar.com' diharapkan dapat menjadi pemicu semangat belajar dan mengajar dari semua elemen masyarakat Indonesia. Juga sesuai dengan nama situs ini sendiri, seluruh masyarakat Indonesia, tanpa mengenal latar belakang suku, budaya atau agama, maupun letak geografisnya, akan dapat memiliki kesempatan untuk menjadi makin pintar. 
___
by Bagas D Bawono*
*Salah Satu Founder Makinpintar.com 
Email : bagas_db@yahoo.com

Selengkapnya »
2/06/2016 05:21:00 PM | 0 komentar

Friday, January 29, 2016

Terbesar di Asia Tenggara. Terlengkap di Asia Pasifik


Inilah sebuah taman nasional raksasa yang mungkin belum pernah kita kunjungi. Pun juga, banyak dari kita yang mungkin belum tahu betapa istimewa dan luar biasanya taman nasional yang terletak di kawasan timur Indonesia ini. 
Inilah Taman Nasional Lorentz. Taman nasiona merupakan perwakilan dari ekosistem terlengkap untuk keanekaragaman hayati di Asia Tenggara dan Pasifik. Kawasan ini juga merupakan salah satu diantara tiga kawasan di dunia yang mempunyai gletser di daerah tropis. Membentang dari puncak gunung yang diselimuti salju (5.030 meter dpl), hingga membujur ke perairan pesisir pantai dengan hutan bakau dan batas tepi perairan Laut Arafura.
Baliem Festival (foto by Travelling Nusantara)

Sebanyak 34 tipe vegetasi diantaranya hutan rawa, hutan tepi sungai, hutan sagu, hutan gambut, pantai pasir karang, hutan hujan lahan datar/lereng, hutan hujan pada bukit, hutan kerangas, hutan pegunungan, padang rumput, dan lumut kerak. Jenis-jenis tumbuhan di taman nasional ini antara lain nipah (Nypa fruticans), bakau (Rhizophora apiculata),Pandanus julianettii, Colocasia esculenta, Avicennia marina, Podocarpus pilgeri, dan Nauclea coadunata. 
Jenis-jenis satwa yang sudah diidentifikasi di Taman Nasional Lorentz sebanyak 630 jenis burung (± 70 % dari burung yang ada di Papua) dan 123 jenis mamalia. Jenis burung yang menjadi ciri khas taman nasional ini ada dua jenis kasuari, empat megapoda, 31 jenis dara/merpati, 30 jenis kakatua, 13 jenis burung udang, 29 jenis burung madu, dan 20 jenis endemik diantaranya cendrawasih ekor panjang (Paradigalla caruneulata) dan puyuh salju (Anurophasis monorthonyx).

Satwa mamalia tercatat antara lain babi duri moncong panjang (Zaglossus bruijnii), babi duri moncong pendek (Tachyglossus aculeatus), 4 jenis kuskus, walabi, kucing hutan, dan kanguru pohon. Taman Nasional Lorentz ditetapkan sebagai Situs Warisan Alam Dunia oleh UNESCO dan Warisan Alam ASEAN oleh negara-negara ASEAN. Taman nasional ini memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi dan ditunjang keanekaragaman budaya yang mengagumkan. Diperkirakan kebudayaan tersebut berumur 30.000 tahun dan merupakan tempat kediaman suku Nduga, Dani Barat, Amungme, Sempan dan Asmat. Kemungkinan masih ada lagi masyarakat yang hidup terpencil di hutan belantara ini yang belum mengadakan hubungan dengan manusia modern.
Suku Asmat terkenal dengan keterampilan pahatan patungnya. Menurut kepercayaannya, suku tersebut identik dengan hutan atau pohon. Batang pohon dilambangkan sebagai tubuh manusia, dahan-dahannya sebagai lengan, dan buahnya sebagai kepala manusia. Pohon dianggap sebagai tempat hidup para arwah nenek moyang mereka. Sistem masyarakat Asmat yang menghormati pohon, ternyata berlaku juga untuk sungai, gunung dan lain-lain.
Lorentz ditunjuk sebagai taman nasional  baru pada tahun 1997, sehingga fasilitas/sarana untuk kemudahan pengunjung masih cukup terbatas, dan belum semua obyek dan daya tarik wisata alam di taman nasional ini telah diidentifikasi dan dikembangkan. Namun tetap saja, sangat menarik untuk kita pelajari dan banggakan. 
Dephut.go.id

Selengkapnya »
1/29/2016 05:14:00 PM | 0 komentar

Thursday, January 21, 2016

Makassar di Ujung Selatan Afrika


Macassar Rd. Tulisan itu terpampang pada papan penunjuk jalan di perempatan jalan di Baden Powell Drive, sekitar 40 kilometer dari pusat kota. Berkendaraan tak kurang dari 5 menit mengikuti arah anak panah itu, saya pun sampai di sebuah kompleks perumahan di kaki sebuah bukit kecil. Di salah satu tembok rumah bercat putih terlihat tulisan "Warung Kopi, coffee shop-take-aways & catering". Sayangnya, warung itu tutup. Senin itu, saya tak sedang berada di Indonesia, tapi di Kampung Macassar di Cape Town, Afrika Selatan. Di lereng bukit kecil itu ada sebuah kompleks pemakaman. Itulah tempat pemakaman Syekh Yusuf, penyebar agama Islam yang berasal dari Gowa, Makassar. Karena sosok ini pulalah tempat itu dinamai Kampung Macassar.

Selain makam yang terletak di dalam sebuah bangunan beratap serupa kubah masjid, di tempat itu ada monumen. Di sana tertulis bahwa peletakan batu pertama kompleks pemakaman itu dilakukan oleh Sir Frederic de Waal, Administrator Provinsi Cape yang pertama, pada 19 Desember 1925. Tapi pembangunan dilakukan oleh Hajee Sulaiman Shah Mohammed dan anak-anaknya. Pada dinding luar bangunan makam ada juga sebuah prasasti tentang kunjungan Presiden Soeharto (almarhum) ke tempat itu pada 21 November 1997, menyusul penganugerahan gelar pahlawan nasional Indonesia bagi Syekh Yusuf pada 7 Agustus 1995. Makam ini dianggap sebagai salah satu keramat (tempat suci) bagi muslim di Afrika Selatan, yang jumlahnya mencapai 2 juta orang. Orang yang hendak menunaikan haji biasanya berziarah dulu dan berdoa di makam itu. Tapi jumlah peziarah akan membeludak setiap bulan April, bertepatan dengan liburan Paskah, sehingga kerap disebut sebagai Easter Festive.

Makam Syekh Yusuf al Makassari


Di luar kompleks makam itu, di bagian bawah bukit, ada juga Masjid Nurul Latif. Pada sebuah prasasti batu di luar masjid disebutkan tempat itu sempat direnovasi berkat bantuan Presiden Megawati Soekarnoputri pada 2002. Saya sempat bertemu dengan delapan pemuda berwajah melayu di masjid itu. Mereka baru sehari di tempat itu dan mengaku selalu mengunjungi masjid demi masjid di Afrika Selatan untuk berdakwah. Keberadaan nama Soeharto dan Megawati di Kampung Macassar menggambarkan betapa Syekh Yusuf ini memiliki tempat istimewa di mata Indonesia. Syekh ini memang erat terkait dengan Indonesia.



Tokoh yang memiliki nama lengkap Abidin Tadia Tjoessoep itu lahir di Makassar pada 1626. Karena berjuang menentang penjajah Belanda, ulama keturunan bangsawan itu diasingkan ke Cape Town pada 1964. 

Di kota ini ia justru menjelma menjadi penyebar Islam berpengaruh di kalangan para budak asal Indonesia dan Malaysia. Distrik tempat ia semula diasingkan itulah yang kini menjelma jadi Kampung Macassar. Istilah kampung cukup tempat menggambarkan tempat itu. Hanya ada 35 keluarga di tempat itu, mayoritas merupakan Cape Malay. 

Istilah Cape Malay biasanya digunakan untuk menyebut warga keturunan Melayu, yang jumlahnya mencapai 160 ribu orang di Cape Town. Di kompleks pemakaman Syekh Yusuf itu saya bertemu dengan Zain Philander alias Zianal Abidin. Ia bermoyang orang Padang. Ia pun mengaku pernah diamanati secara lisan oleh beberapa tokoh asal Indonesia untuk menjaga makam Syekh Yusuf. Ia pun lantas mengajak saya ke rumahnya sejauh lima menit berjalan kaki dari makam itu. Rumahnya menyatu dengan penginapan dengan 16 kamar. Pada dinding penginapan itu ia memajang banyak pernik tenang Indonesia. Ada lukisan Sultan Hasanuddin, peta Indonesia, juga hiasan kapal pinisi.

Salah satu sudut Macassar


Berkaitan dengan Syekh Yusuf, ia juga menggantung piagam ihwal penunjukan tokoh itu sebagai pahlawan nasional yang ditandatangani Presiden Soeharto pada 7 Agustus 1995. Juga ada piagam penghargaan dari Presiden Afrika Selatan Tabo Mbeki pada 2005 berupa The Order of Supreme Companions of OR Tambo (Gold). 

"Ini menunjukkan bahwa Syekh merupakan orang yang dihormati di Afrika Selatan dan Indonesia," kata Zain. Pria ini hafal beberapa istilah bahasa Indonesia, seperti apa kabar, terima kasih, jalan-jalan, sate, dan nasi goreng. Ia juga tahu lumayan cukup banyak tentang Indonesia, meski mengaku belum pernah berkunjung. Ia sempat menyekolahkan putrinya, Haajirah Philander-Fanie, di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta, dan lulus dua tahun lalu. "Saya sendiri sangat berharap mengunjungi negara Anda. Isya Allah suatu saat saya akan pergi," katanya. Bersama komunitas Cape Malay saat ini, ia tengah menyiapkan sebuah perpustakaan dan showroom produk Indonesia bernama Istana Balla Lompoa, tak jauh dari Masjid Nurul Latif. Tempat itu dirancang berbentuk rumah tradisional Makassar. Indonesia akan membantu pembangunannya. 

Bupati Gowa akan datang ke kota ini dengan membawa bahan bangunan knocked-down langsung dari Makassar. Tempat itu diharapkan rampung saat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengunjungi tempat itu pada akhir tahun ini. Selain Kampung Macassar, komunitas Cape Malay banyak terdapat di daerah Bokaap, dekat pusat Kota Cape Town. Saya sempat mengunjungi Masjid Auwal, salah satu dari 12 masjid di distrik itu. Inilah masjid pertama di Afrika Selatan yang didirikan oleh Tuan Guru atau Abdullah Kadi Abdus Sallam pada 1794. Tuan Guru adalah pejuang Indonesia kelahiran Tidore yang juga diasingkan Belanda ke Afrika Selatan dan sempat dibui di Robben Island. 

Di penjara itu ia menulis Al-Quran semata mengandalkan hafalannya dan hanya ada enam kesalahan dalam tulisannya itu. Sayang, kini mushaf tulisannya agak rusak dan tengah berusaha diperbaiki. Saya sempat bertemu dengan imam di masjid itu, Muhammad Faadil Soekir, 73 tahun. Ia dengan ramah menyalami saya. "Selalu menyenangkan untuk bertemu teman dari Indonesia," katanya. Ia menyatakan keberadaan masjid dan penyebaran Islam di daerah itu tak lepas dari Tuan Guru. "Saya pun sangat ingin pergi melihat tempat kelahiran Tuan Guru. Tapi masih harus bekerja keras untuk mengumpulkan uang," katanya sambil tersenyum. 

Nurdin Saleh (Tempo - Cape Town)

Selengkapnya »
1/21/2016 11:09:00 AM | 0 komentar