Hi, guest ! welcome to Yahoo!. | About Us | Contact | Register | Sign In
Showing posts with label Sejarah. Show all posts
Showing posts with label Sejarah. Show all posts

Monday, December 28, 2015

Hari Ini 66 Tahun Lalu, Presiden Sukarno Kembali dari Pengasingan


Pulang dari tahanan Belanda, Sukarno disambut meriah di Jakarta. Disambut bak pesta besar rakyat di pengujung Desember 1949.

FOTO lama yang terpampang di bukuIPPHOS, Remastered Edition itu berbicara banyak. Dalam nuansa hitam putih, nampak masyarakat Jakarta tumpah ruah. Sepanjang Bandara Kemayoran-Istana Negara Jakarta, ratusan ribu manusia menyemut. Mereka memekik, tertawa dan ada pula yang menangis. Teriakan “merdeka” bercampur baur dengan pekikan “Hidup Bung Karno”, membentuk suara bergemuruh dalam lautan massa. Demikian deskripsi yang dilukiskan oleh Presiden Sukarno dalam bukuBung Karno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia karya penulis Amerika Serikat, Cindy Adams.
Tepat 66 tahun lalu, Presiden Sukarno, kembali menginjakan kaki di Jakarta. Itu terjadi setelah pada 1946, demi keamanan, ia terpaksa menyingkir dari ibu kota Republik Indonesia (RI) yang sudah mulai dikuasai tentara Belanda. Setelah dua tahun berkantor di Istana Negara Yogyakarta, pada 19 Desember 1948, militer Belanda menangkap sekaligus mengasingkan Presiden Sukarno beserta pejabat-pejabat RI lainnya ke Pulau Sumatera.
Namun diakuinya kedaulatan Republik Indonesia Serikat (RIS) oleh Kerajaan Belanda pada 27 Desember 1949, otomatis membebaskan Sukarno cum suis sekaligus mewajibkan Belanda untuk mengembalikan mereka ke Yogyakarta. Setelah beberapa jam singgah di Yogyakarta, dengan menumpang pesawat KLM (maskapai penerbangan Kerajaan Belanda) yang secara terburu-buru dicat simbol Garuda Indonesia Airways (GIA), Sukarno terbang menuju Jakarta.
“Pesawat itu adalah satu-satunya pesawat dari Garuda Indonesia Airways yang berumur satu hari…” ujar Sukarno
Dalam Kronik Revolusi Indonesia, Pramoedya Ananta Toer dan kawan-kawan melukiskan kedatangan Presiden Sukarno di Jakarta sebagai sebuah pesta rakyat. Sejak subuh, rakyat Jakarta dan sekitarnya telah datang dari berbagai pelosok. Terlebih rencana kedatangan rombongan Presiden Sukarno telah diumumkan sebelumnya lewat Radio Republik Indonesia (RRI).
“Riuh rendah sorak ribuan rakyat yang sejak pagi berjejal-jejal menunggu di Kemayoran,” ujar Pram yang menulis buku tersebut bersama Koesalah Soebagyo Toer dan Ediati Kamil.
Tepat pukul 11.40, pesawat yang ditumpangi Presiden Sukarno beserta rombongan mendarat secara mulus di Bandara Kemayoran, Jakarta. Begitu turun dari pesawat, ia dijemput dengan mobil terbuka (pinjaman dari pengusaha Dasaad) dan dikawal secara ketat oleh sepasukan tentara dan polisi. Sambil berdiri tegak, sepanjang jalan menuju Istana Negara, Sukarno tak henti-hentinya memberikan salam dan melambaikan tangannya kepada ratusan ribu massa yang meneriakan namanya secara bersemangat.
“Rakyat berlari ke depan kendaraan kami. Yang lain terlanggar. Ada lagi yang terdorong. Beberapa diantaranya pingsan. Kami diserbu rakyat. Aku tidak bisa maju setapak pun. Rakyat bergelantungan di sisi kendaraan, kap mobil, di tangga. Rakyat menggapai-gapai kepadaku untuk mencium jariku…,” demikian Sukarno menuturkan.
Melalui kerja keras para prajurit dan polisi yang berupaya membukakan jalan, Sukarno akhirnya bisa tiba di tangga Istana Negara. Sesampai di puncak tangga, ia lantas mengangkat tinggi-tinggi kedua tangannya. Lautan manusia yang tadinya bergemuruh pun sontak terdiam. Sama sekali tak ada yang bergerak.
“Alhamdulillah! Kita merdeka!”
Suara bergemuruh kembali membahana. Kota Jakarta kembali tenggelam dalam suka cita dan pesta.

Selengkapnya »
12/28/2015 01:50:00 PM | 0 komentar

Saturday, December 26, 2015

Meledakkan Sejarah Petasan

TAHUN BARU dan LEBARAN mungkin takkan lengkap tanpa petasan. Begitu pula yang dirasakan bocah kecil Kusno di Mojokerto. Saat itu, menjelang tahun baru atau saat lebaran, dia hanya bisa mengintip, dari lubang udara kecil pada dinding bambu kamarnya, teman-temannya bermain petasan. Hatinya pilu.
“Dari tahun ke tahun aku selalu berharap-harap, tapi tak sekalipun aku bisa melepaskan mercon,” keluhnya.
Betapa girang hatinya ketika seorang kenalan ayahnya memberi hadiah berupa petasan. Itulah hadiah terindah yang pernah diterimanya, dan takkan dilupakan Kusno kecil selamanya. Kusno, bocah kecil itu, adalah Sukarno, proklamator dan presiden pertama Indonesia.
Pengalaman masa kecil Sukarno, seperti dikisahkan S. Kusbiono dalam Bung Karno: Bapak Proklamasi Republik Indonesia, menunjukkan betapa petasan sudah menjadi permainan anak-anak selama Ramadan dan Lebaran. Hingga kini, membakar petasan seolah sudah menjadi tradisi. Bunyinya yang memekakkan telinga justru menjadi daya tarik.
Tradisi membakar petasan, menurut legenda yang tersebar di Cina, sudah dimulai sejak pemerintahan Dinasti Han pada 200 SM, jauh sebelum penemuan bubuk mesiu. Ini berhubungan dengan sosok makluk gunung bernama Nian. Setiap tahun baru Cina, Nian keluar gunung, mengganggu perayaan tahun baru. Nian hendak memakan mereka! Untuk mengusir Nian, penduduk kemudian membuat suara ledakan dari bambu, yang mereka sebut baouzhu. Sejak itu petasan dipakai dalam setiap perayaan maupun festival di Cina, termasuk Imlek atau tahun baru Cina.
Petasan kemudian berkembang dengan penemuan bubuk mesiu pada era Dinasti Sung (960-1279) oleh seorang pendeta bernama Li Tian yang tinggal dekat kota Liu Yang di Provinsi Hunan. Saat itu pula didirikan pabrik petasan yang menjadi dasar pembuatan kembang api, yang memancarkan warna-warni dan pijar-pijar api di angkasa. Sampai sekarang Provinsi Hunan masih dikenal sebagai produsen petasan dunia.
Petasan lalu mengalami perkembangan. Tak lagi menggunakan bambu tapi gulungan kertas. Ia juga merambah Eropa melalui Marcopolo yang membawa beberapa petasan Cina ke Italia pada 1292. Pada masa Renaissance, bangsa Italia mengembangkan kembang api dengan warna-warni yang lebih memikat sebagai bagian dari perayaan seni dan tradisi masyarakat Eropa. Italia dianggap sebagai negara Eropa pertama yang memproduksi petasan dan kembang api.
“Italia memberikan kontribusi yang besar bagi pengembangan petasan modern di dunia,” tulis John Roach dalam National Geographic News, 4 Juli 2003.
Di Indonesia, kuat dugaan petasan dibawa para pedagang Cina di Nusantara. Bahaya petasan membuat penguasa VOC pada 1650 mengeluarkan larangan membakar petasan terutama di bulan-bulan kemarau seperti Desember, Januari, dan Februari. Petasan dianggap memicu kebakaran di kebun-kebun milik tuan tanah dan pemerintah, serta rumah penduduk yang umumnya masih terbuat dari bambu dan atap rumbia. Alasan lain yaitu faktor keamanan, penguasa VOC sulit membedakan bunyi ledakan petasan dengan letusan senjata api.
Ketakutan VOC bisa dipahami karena orang-orang Cina, sebagaimana ditulis Bakdi Soemanto dalam buku Cerita Rakyat dari Surakarta, pernah menggunakan petasan sebagai senjata perlawanan. Ceritanya, pada 30 Juni 1742, orang-orang Cina di Surakarta merasa tak puas dengan perlakuan sewenang-wenang pengausa terhadap orang-orang Cina di Batavia. Mereka melawan. Sri Susuhunan Pakubuwono II, yang saat itu memihak Belanda, mengirimkan pasukan keraton untuk meredam perlawanan itu tapi tak berhasil. Pasalnya, orang-orang Cina menggunakan petasan! Banyak anggota pasukan keraton lari terbirit-birit; mengira bunyi senapan. Kebingungan juga melanda pasukan kompeni.
Larangan serupa juga diberlakukan pemerintah Hindia Belanda dan pemerintah Indonesia setelah merdeka. Tapi kebiasaan membakar petasan tetap saja sulit terbendung, terlebih saat perayaan Tahun Baru, Imlek, dan Lebaran, juga dalam tradisi masyarakat. Dalam pesta-pesta hajat seperti khitanan, perkawinan, dan maulidan orang Betawi, misalnya, petasan meramaikan suasana. Sejarawan Alwi Shahab menduga tradisi membakar petasan itu berasal dari tradisi orang-orang Cina yang bermukim di Jakarta. Orang-orang Cina tempo dulu biasa menggunakan petasan sebagai alat komunikasi untuk mengabarkan adanya pesta atau suatu acara besar. Rentetan bunyi petasan dalam sebuah pesta hajat dapat dijadikan sebagai simbol status sosial seseorang di masyarakat. Ia juga menjadi penanda rasa syukur.
Tapi petasan pernah menjadi persoalan politik yang pelik. Ceritanya, pemerintah Jakarta membikin “pesta petasan” di Jalan Thamrin pada malam Tahun Baru tahun 1971. Gubernur Jakarta Ali Sadikin menyulut petasan sebagai tanda dimulainya “pesta petasan”. Berton-ton mercon dibakar malam itu. Sialnya, korban berjatuhan. Seperti ditulis Tempo, 13 November 1971, 50-60 orang diangkut ke kamar mayat, bangsal-bangsal bedah, dan poliklinik. Seorang warga Amerika juga menjadi korban dan dilarikan ke rumah sakit.
Presiden Soeharto kemudian turun tangan, apalagi Idul Fitri akan segera tiba. Dalam Sidang Kabinet Paripurna 12 Oktober 1971, presiden mengeluarkan serangkaian larangan dan instruksi khusus soal petasan. Hanya petasan jenis "cabe rawit" dan "lombok merah" yang diperbolehkan; itu pun harus bikinan dalam negeri –dengan alasan menghemat devisa negara. Menteri Dalam Negeri Amir Machmud lalu mengirimkan kawat kepada gubernur seluruh Indonesia, antara lain tentang ukuran mercon yang diizinkan: “Tidak boleh lebih panjang dari 8 cm, tidak boleh lebih lebar dari garis tengah 1 cm, dan isinya tidak boleh berat dari 10 gram.” Amir Machmud juga tak lagi mengeluarkan izin impor mercon. Kepala Polisi RI Komjen Polisi Drs Moh. Hasan menginstruksikan semua pejabat polisi tertinggi di setiap propinsi untuk menertibkan pemasangan dan pembuatan mercon.
Tempo juga melaporkan bagaimana para pemimpin agama sudah kewalahan melarang petasan. Bahkan Hamka hingga menteri agama pernah mencarikan ayat maupun hadist yang mencegah orang membakar mercon. Imron Rosjadi SH, ketua IV NU, pernah pula melarang orang Islam menyulut mercon dalam sebuah khotbah dua tahun sebelumnya di Masjid Istiqlal, “tapi orang-orang melototkan matanya pada saya.” Karena itulah, pada 22 Oktober 1971, bersama Jenderal Maraden Panggabean selaku Panglima ABRI, Machmud berseru: "Pemasangan petasan bukanlah suatu keharusan agama, pemasangan petasan hanyalah suatu penghamburan uang yang tak berguna," tanpa mengutip ayat Alquran atau kitab suci lainnya. Seruan itu disiarkan oleh RRI dan pers ibukota.
Polisi merazia penjual dan pemilik petasan, memusnahkan banyak petasan, tapi petasan impor tetap saja masuk lewat pelabuhan. Produsen dan penjual petasan juga diam-diam menjualnya. Setiap tahun, sekalipun ada larangan, razia, korban juga selalu berjatuhan, petasan masih mewarnai suasana perayaan di Indonesia, hingga kini.
Zaman sekarang tidaklah sama seperti Sukarno kecil yang kekurangan permainan. Ada banyak cara untuk menunjukkan status atau rasa syukur. Lalu, masihkah pendar dan suara petasan dibutuhkan?

Selengkapnya »
12/26/2015 11:27:00 AM | 0 komentar

Wednesday, December 23, 2015

Benarkah Usia Kota Makassar 408 Tahun?


Hari jadi kota Makassar disepakati saat kerajaan Gowa Tallo menyatakan Islam sebagai agama kerajaan. Tidak memiliki hubungan dengan pembentukan kota secara modern.

SENIN, 9 November 2015, lapangan Karebosi Makassar sudah padat sejak pagi. Beberapa pejabat pemerintah terlihat menggunakan pakaian adat. Ada gubernur Sulawesi Selatan, walikota Makassar, hingga pelajar.
Hari itu seribuan orang, berkumpul dalam rangka peringatan hari jadi Kota Makassar yang ke-408 tahun. Usia kota ini didasarkan pada peristiwa salat Jumat bersama di masjid Tallo, pada 9 November1607, di masa pemerintahan Raja Gowa ke XIV, I Mangngarangi Daeng Manrabia Sultan Alauddin Tumenaga ri Gaukanna.
Kesepakatan ini, dirumuskan dalam Peraturan Daerah Kota Makassar Nomor 1 Tahun 2000, tentang Penetapan Hari Jadi Kota Makassar. Sebelumnya hingga tahun 1999, Hari Jadi kota ini disepakati pada 1 April 1906 yang diberlakukan oleh Gubernur Jenderal Idenburg, setelah penaklukan penguasa-penguasa lokal, dan menjadikan Makassar sebagai gemeente (daerah otonom) yang berhak mengatur dan memerintah diri sendiri.
Pemberlakuan daerah otonom ini didasarkan pada Undang-undang Decentralisatiewettahun 1903 juncto Algemenee Matregel van Bestuur tahun 1903. Dimana selain Makassar, status gemeente ini juga diberlakukan untuk Batavia (sekarang Jakarta), Medan, Semarang, dan Surabaya.
Tahun 1906 pula dibentuk Dewan Kota (gemeenteraad) yang beranggotakan 13 orang, masing-masing terdiri delapan orang Belanda, tiga orang pribumi dan dua orang perwakilan Timur Asing. Dewan ini dipimpin oleh Kepala Pemerintahan Daerah Afdeling Makassar (Het Hoofd van Plaatselijk Bestuur van de Afdeling Makassar). Dan tahun 1911, dewan kota diperbesar dengan penambahan dua orang Belanda.
Pada 1918, Makassar akhirnya memperoleh walikota (Burgemeester) pertamanya dan sekaligus bertindak sebagai ketua dewan kota. Dua puluh tahun kemudian di tahun 1938, status kota berubah menjadi Kotapraja (Stadsgemeente) dan menambahkan dua orang pribumi kedalam anggota dewan kota yang menjadi 17 orang.
Pemerintah kolonial juga mengeluarkan Bouw en Woonverordening voor de Gemeente(aturan yang digunakan untuk mengatur pendirian bangunan secara tak langsung dalam mekanisme zonasi tempat tinggal). Aturan ini kemudian disempurnakan pada 1942 dan 1952.
Perkembangan kota inilah yang kemudian dikatakan, sejarawan Universitas Hasanuddin, Dias Pradadimara sebagai awal mula perkembangan kota Makassar secara modern. “Ingat, perkembangan awal kota Makassar yang kita kenal saat ini bertumbuh di wilayah sekitar Benteng Rotterdam akhir abad 17,” katanya.
Untuk itu, kata Dias, menarik garis sejarah pembentukan kota seperti saat ini, maka pengaruh kolonial sangatlah penting. “Kita tidak boleh mengatakan bahwa itu adalah tinggalan masa penjajah. Sikap anti barat, tentu tidaklah beralasan,” katanya.
Lalu kemudian apa makna peristiwa 9 November yang dirayakan sebagai hari jadi kota? “Itu adalah serangkaian peristiwa-peristiwa simbolik yang terjadi pada masa kejayaan kerajaan Gowa Tallo. Dan ingat, pusat kerajaan pada masa itu ada Kabupaten Gowa saat ini. Itu tidak ada hubungan dengan kota yang kita kenal sekarang,” kata Dias. “Kalau pemerintah tetap menggunakan peristiwa simbolik pada 9 November, saya kira ini akan mengganggu data sejarah masa depan.”
Alasan yang sama dikemukakan sejarawan Universitas Negeri Makassar, Taufik Ahmad. Menurut dia, penentuan hari jadi kota, dilakukan secara politik, maka sebaiknya dipandang juga secara politik pembentukan. “Saya kira kita tak bicara soal entitas etnis Makassar. Jadi cikal bakal kota tentu dimulai pada pembentukan kota secara modern, ya tahun 1906 itu,” katanya.
Sementara itu, menurut Sejarawan Universitas Hasanuddin, Edward Poelinggomang penetapan 9 November merupakan peristiwa atau momentum kebesaran dimana berkumpul banyak orang dari berbagai etnis yang melakukan salat bersama. “Saya kira itu momentum untuk melihat betapa kosmopoltannya Makassar masa lalu,” katanya.
Selamat hari jadi Makassar ke-408 tahun (9 Nopember 2015). Ataukah selamat hari jadi Makassar ke-109 tahun (1 April 1906).
Eko Rusdianto

Selengkapnya »
12/23/2015 02:14:00 PM | 0 komentar

Monday, September 21, 2015

Sejarah Asal Mula Kesenian Reog Ponorogo


Kesenian Reog Ponorogo cabang dari tarian tradisonal yang berasal dari Jawa Timur. Tarian ini yang diperkirakan sudah ada sekitar abad ke-15, tepatnya ketika masa terakhir dari kerajaan Majapahit. Pada awalnya, tarian ini merupakan sindirian atas ketidakmampuan dari Bhre Kertabhumi dalam memimpin Majapahit kala itu. Lalu, bagaimana sebenarnya asal mula dari kesenian Reog Ponorogo ini? Berikut adalah ulasan lengkap mengenai asal mula serta perkembangan dari Reog Ponorogo ini. 

Ada lima versi mengenai asal mula kesenian Reog Ponorogo ini. Adapun salah satu cerita yang paling terkenal dari kelima cerita tersebut adalah ketika salah satu abdi yang bernama Ki Ageng Kutu berniat untuk melakukan pemberontakan kepada pimpinan Majapahit yang pada saat itu dijabat oleh Bhre Kertabhumi. Kejadian yang terjadi pada abad ke-15 tersebut dilatarbelakangi oleh murkanya Ki Ageng Kutu kepada istri sang Raja yang berasal dari Tiongkok. Hal tersebut dikarenakan dirinya merasa istri sang raja mempunyai pengaruh yang kuat terhadap raja. Selain itu, dirinya juga merasa bahwa raja hanya diam saja terhadap tindakan korupsi yang dilakukan oleh pemerintahan Majapahit kala itu. Pada saat itu, diramalkan bahwa Majapahit akan segera berakhir dalam waktu cepat atau lambat.

Murka yang dirasakan oleh Ki Ageng Kutu ini semakin besar seiring berjalannya waktu. ketidaknyamanan yang dirasakan membuatnya memutuskan untuk meninggalkan posisinya sebagai abdi kerajaan dan mulai membuka sebuah sasana silat. Di sasana tersebut dirinya mengajari anak-anak mengenai ilmu bela diri, ilmu kekebalan serta ilmu kesempurnaan. Dengan melakukan hal tersebut, dirinya berharap anak-anak muda itu dapat menjadi bibit-bibit unggul jika Kerajaan Majapahit kebali bangkit. Seiring berjalannya waktu, Ki Ageng Kutu baru menyadari bahwa pasukan yang dibentuknya tersebut masih terlalu kecil untuk menggulingkan Bhre Kertabhumi dari posisinya sebagai raja, hal itulah yang kemudian mengilhaminya untuk menciptakan sebuah tarian yang diberi nama Reog. Nah, pertunjukan Reog inilah yang menjadi cara Ki Ageng Kutu untuk menambah kekuatan masyarakat lokal guna menggulingkan raja yang tengah berkuasa. 

Properti yang selalu digunakan untuk pertunjukan Reog Ponorogo ini tetap sama dengan awal pertama kesenian ini muncul.yakni penggunaan topeng yang mempunyai kepada seperti harimau atau singa yang diberi nama “Singa Barong”. Bagian atas dari Singa Barong ini terdapat banyak bulu-bulu merak yang bentuknya menyerupai kipas. Singa Barong ini dibuat oleh Ki Ageng Kutu tersebut menggambarkan “raja hutan” atau seorang yang berkuasa. Topeng itu menggambarkan karakter Kerthabumi. Adapun arti dari bulu-bulu merak yang terdapat di atasnya juga menggambarkan sesuatu, yakni teman-teman Kerthabumu yang berada dari Tiongkok serta yang “ada di dalam kepalanya”, mengatur semua gerakan yang diperbuat oleh Kerthabumi. Di kesenian tersebut juga ada beberapa orang yang memainkan Jatilan, yaitu sekelompok penari gemblak yang menaiki kendaraan kuda sebagai simbol dari pasukan bersenjata dari Kerajaan Majapahit. Di dalam kelompok Jatilan ini tampak kontras dengan adanya warok yang menggunakan topeng berwarna merah. 

Popularitas Reog semakin meningkat dari hari ke hari. Hal itu menimbulkan perasaan tidak senang di hati Bhre Kerthabumi. Ia merasa tidak senang karena sadar bahwa Reog itu merupakan cibiran secara tidak langsung terhadapnya yang menjabat sebagai raja. Tidak membutuhkan waktu yang lama, Bhre Kerthabumi langsung menyerang perguruan yang dibentuk Ki Ageng Kutu dan berhasil mengakhiri pemberontakan yang akan dilakukan oleh warok. Namun, hal itu tidak menghalangi aksi dari murid perguruan Ki Ageng Kutu. Mereka tetap melakukan pementasan Reog secara diam-diam karena masyarakat sudah terlanjur mencintai kesenian ini. Itulah sebabnya mereka kemudian membuat cerita baru serta karakter baru yang berasal dari cerita Rakyat Ponorogo seperti Sri Genthayu, Kelono Sewandono, dan Dewi Songgolangit.

Cerita mengenai kesenian Reog Ponorogo yang berkembang di masyarakat sama dengan cerita yang dipentaskan dalam tarian Reog Ponorogo itu sendiri. Cerita tersebut berkisah mengenai seorang putri yang mempunyai paras sangat cantik bernama Dewi Sanggalangit. Ia merupakan putri dari raja yang amat terkenal di daerah Kediri. Karena kecantikan itulah membuat banyak pangeran serta raja yang berniat untuk meminangnya. Akan tetapi, Dewi Sanggalangit belum berminat untuk menikah, hal tersebut membuat sang raja bertanya-tanya. Ia langsung mendatangi Sanggalangit untuk menanyakan mengapa selalu menolak pinangan yang datang. Sanggalangit hanya mengatakan bahwa ada satu syarat yang dirinya sendiri belum tahu. Demi mengetahui syarat tersebut ia kemudian melakukan semedi dan bertanya kepada dewa supaya mendapatkan jawaban terbaik. 

Setelah empat hari melakukan semedi, Sanggalangit akhirnya menghadap sang raja dan memberi tahu persyaratan yang sudah didapatkannya. Dia mengatakan bahwa dirinya menginginkan calon suami yang bisa menciptakan sebuah tontonan menarik yang di dalamnya terdapat hewan berkepala dua dan 140 ekor kuda kembar. Banyak calon peminang Sanggalangit yang menyerah setelah mendengar syarat tersebut. Akan tetapi, ada dua orang yang masih berani untuk melanjutkan perjuangannya mendapatkan cinta Sanggalangit yakni Singabarong dari Kerajaan Lodaya dan Kelanaswandan dari Kerajaan Bandarangin.

Kelanaswandana mampu untuk mengumpulkan semua persyaratan dari Sanggalangit. Namun, dirinya tidak bisa mendapatkan hewan berkepala dua. Ketika dirinya hendak mencari hewan tersebut, ia memerintahkan patihnya untuk menyelidiki Singabarong. Hal tersebut dikarenakan Singabarong dikenal sebagai raja yang tidak kenal ampun dan akan melakukan apa saja untuk menang. Ternyata benar saja, Singabarong memang berniat untuk menyabotase Kelanaswanda. Hal itu membuat Kelanaswandana segera menyerang kerajaan Singabarong dan mengajaknya bertempur satu lawan satu.

Mereka berdua akhirnya melakukan pertempuran. Ketika Singabarong belum bersiap-siap, Kelanaswandana segera mengeluarkan kesaktiannya. Hal itu menyebabkan burung merak yang sedan asyik mematuki kepalanya menempel dan membuat Singabarong menjadi berkepala dua. Dirinya mengamuk, kemudian Singabarong menghunuskan kerisnya ke arah Kelanaswandana. Namun Kelanaswanda berhasil menghindar dan membalasnya dengan pecutan cambuk Samandiman. Pecutan dari cambuk Samandiman itu ternyata memiliki kesaktian yang membuat Singabarong terpental sehingga berubah menjadi hewan yang berkepala dua. Dengan demikian, membuat Kelanaswanda berhasil untuk memenuhi persyaratan yang diajukan oleh Sanggalanggit. Ketika Kelanaswandana sampai di Wengker, seluruh masyarakat yang ada di sana pun bersorak gembira melihat pertunjukan yang disuguhkan. Terlebih lagi ketika mereka melihat adanya hewan aneh yang berkepala dua. Pada akhirnya, Dewi Sanggalangit dan Kelanaswandana menikah. Pernikahan tersebut diabadikan sebagai sejarah penting lahirnya kesenian Reog Ponorogo yang menjadi salah satu kesenian tradisional asli Indonesia.

Selengkapnya »
9/21/2015 08:50:00 PM | 0 komentar

Asal Mula Sejarah Berdirinya Gedung Pancasila di Jakarta


Gedung Pancasila berdiri sekitar tahun 1830 di Jakarta dan didesain oleh J. Tromp. Awalnya, tujuan pembangunan gedung tersebut adalah untuk dijadikan rumah bagi Hertog Bernhard serta tempat tinggal komandan tentara Kerajaan Belanda. Gedung yang terletak di Jl. Pejambon No. 6 Jakarta Pusat ini juga akan digunakan sebagai tempat pertemuan oleh Volksraad (Dewan Rakyat). Dewan tersebut diprakarsai oleh pemerintah Hindia-Belanda bersama dengan Gubernur Jendral J. P. van Limburg Stirum dan Thomas Bastiaan Pleyte yang menjadi menteri urusan koloni Belanda ketika itu. Selain itu, ada juga sumber yang mengungkapkan bahwa gedung tersebut merupakan tempat dari Raad van Indie. Lalu, bagaimanakah sejarah awal berdirinya Gedung Pancasila ini dan apa fungsinya? Untuk mengusir rasa penasaran, kami akan menyajikan ulasan lengkapnya untuk pembaca.

Sejarah Berdirinya Gedung Pancasila 
Pada zaman dahulu, Gedung Pancasila ini bernama Gedung  Volksraad. Gedung ini sendiri dibangun sekitar tahun 1830-an ketika itu masih dalam masa penjajahan kolonial Belanda. Kala itu, di daerah Jakarta terutama di Taman Pejambon dan Lapangan Banteng banyak berdiri gedung pemerintahan. Gedung Pancasila menjadi salah satu gedung yang dibangun juga kala itu tepatnya di Jalan Pejambon nomor 6. Pada awalnya, gedung ini dibangun untuk dijadikan sebagai rumah tinggal bagi komandan tentara kerajaan Belanda. Saat itu, ia juga merangkap jabatan sebagai Letnan Gubernur Jendral. 

Sebelum Gedung Pancasila atau Gedung Volksraad ini dibangun, komandan tentara kerajaan Belanda tersebut tinggal di tempat yang sekarang menjadi gereja Katredal. Namun, pada 5 Desember 1828 rumah tersebut dijual ke yayasan gereja Katolik dengan harga 20.000 gulden. Setelah terjual, rumah itu akhirnya dibongkar oleh pihak gereja dan dibangunlah sebuah gereja yang megah. Namun, karena sebab yang belum diketahui, pada 9 April 1880 gedung tersebut roboh. Akhirnya, dibangunlah gereja katredal untuk menggantikan gereja yang roboh tersebut. Sepuluh tahun kemudian, gereja ini diresmikan. Dijualnya rumah tersebut membuat sang komandan membutuhkan rumah baru. Dengan alasan tersebut, maka diputuskanlah untuk mendirikan sebuah rumah untuknya di atas taman yang nantinya dikenal dengan nama Taman Hertog. Nama taman tersebut diambil dari nama seorang Panglima Belanda periode 1848-1851 yang bernama Hertog van Saksen Weimar. Taman tersebut nantinya akan kembali berganti nama menjadi taman Pejambon. 

Gedung ini menjadi tempat kediaman komandan Belanda sebelum dirinya dipindah tugaskan ke Bandung pada tahun 1916. Karena dinilai cukup memadai maka gedung ini pada akhirnya dialih fungsikan menjadi gedung sidang bagi Dewan Rakyat. Akhirnya, pada Mei tahun 1918 Gedung Volksraad ini diresmikan oleh Gubernur Jendral Limburg Stirum. Apabila kita melihat dalam katalog pameran acara peringatan hari ulang tahun ke -300 Batavia maka akan ditemukan sebuah catatan bahwa Volksraad ini juga pernah dijadikan sebagai tempat pertemuan anggota Dewan Hindia-Belanda (Raad van Indie). Selanjutnya, pemerintah Hindia-Belanda juga membangun gedung baru untuk Raad van Indie yang terletak tepat di sebelah barat gedung Volksraad yaitu di jalan Pejambon no. 2.

Ketika itu, jumlah seluruh anggota Volksraad ada 60 orang. 30 orang merupakan wakil rakyat Indonesia yang 19 di antaranya dipilih secara langsung. Selain itu, ada juga 25 orang yang berkebangsaan Belanda, 4 orang perwakilan masyarakat golongan keturunan Tionghoa dan satu orang sisanya adalah perwakilan keturunan Arab. Setiap tahunnya, di gedung ini selalu diadakan dua kali sidang. Sidang pertama selalu berlangsung pada 15 Mei sedangkan sidang keduanya dilakukan pada hari Selasa di minggu ketiga bulan Oktober. Untuk waktu yang dibutuhkan bagi sidang tersebut untuk berjalan adalah empat setengah bulan. Dalam jangka waktu 14 tahun sejak dibuatnya tahun 1927, Volksraad hanya bisa mengajukan 6 rancangan, dan hanya ada 3 rancangan yang akan diterima oleh pemerintah Belanda kala itu. Menurut tiga anggota Volksraad sepanjang berdirinya Volksraad tersebut hampir tidak ada hasil yang mereka bisa capai. 

Babak baru sejarah berdirinya Gedung Pancasila memasuki babak baru ketika Cho Sang-in dibuat sebagai badan yang bertugas untuk memberikan masukan-masukan serta pertimbangan kepada para pemerintah. Selain itu, mereka juga harus menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh pemerintah terkait dengan soal politik. Total jumlah anggota dari badan ini adalah 43 orang, 23 orang diantaranya adalah orang pilihan, sedangkan 18 lagi adalah utusan dari setiap keresidenan dan Batavia serta ada 2 orang lain yang merupakan utusan dari Yogyakarta dan Surakarta. 

Kembali dipergunakannya gedung tersebut yang dijadikan sebagai tempat sidang bagi badan pertimbangan yang dibuat oleh Jepang membuat nama gedung tersebut lebih dikenal sebagai Gedung Cho Sangi In. Pada tanggal 16 hingga 20 Oktoer 1943, dibentuklah 4 Komisi yang bertugas untuk menjawab pertanyaan dari Saikou Shikikan untuk memenangkan perang Pasifik.

Babak akhir sejarah berdirinya gedung Pancasila terjadi ketika Jepang mengalami kekalahan dalam perang Pasifik. Kekalahan tersebut memaksa mereka akhirnya harus membentuk Dokuritsu Junbi Chosakai (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia atau BPUPKI). Sidang-sidang yang dilakukan oleh BPUPKI ini sering berlangsung di Gedung Volksraad. Pada tanggal 1 Juni 1945, kinerja dari BPUPKI ini menuai kritikan dari Soekarno. Ia menganggap BPUKI tidak ada niatan untuk merancang kemerdekaan Indonesia. Sedang mendapatkan kritikan tersebut, barulah BPUPKI mulai bekerja kerasa dan pada akhirnya mereka melakukan sidang mengenai dasar Negera Indonesia. Karena dalam rapat tersebut menghasilkan bentuk awal dari Pancasila, maka gedung tersebut berubah menjadi Gedung Pancasila.

Selengkapnya »
9/21/2015 08:41:00 PM | 0 komentar

Menguak Sejarah di Balik Terciptanya Mie Instan


Hampir semua orang pernah mencicipi kelezatan mie instan. Ya, tidak dapat dielakkan lagi bahwa mie instan terkadang menjadi salah satu pilihan makanan untuk dikonsumsi karena proses pembuatannya yang cepat. Terlebih lagi untuk anak kos yang malas membeli makanan di luar, biasanya mereka sudah menyediakan stok mie instan untuk dikonsumsi. 

Cara pengolahan mie instan cukup praktis hanya perlu menambahkan air panas dan memasukkan bumbu-bumbu yang sudah tersedia di dalamnya maka dalam waktu beberapa menit, mie instan siap disantap. Namun, tahukah anda bagaimana sejarah di balik terciptanya mie instan ini? Untuk anda yang penasaran, berikut ini adalah ulasan mengenai sejarah terciptanya Mie Instan.

Mie instan pertama kali diciptakan oleh Mamofuku Ando. Ia merupakan pria berkebangsaan Jepang yang lahir di Taiwan pada tahun 1911. Dirinya pertama kali membuat mie instan pada tahun 1958. Usahanya tersebut dapat dikatakan sukses dan berhasil yang membuat ia mendirikan sebuah perusahaan Nissin Foods. Chicken Ramen rasa ayam menjadi produksi pertama dari perusahaannya tersebut. Kemudian pada tahun 1971, usaha tersebut semakin berkembang dan berhasil untuk memproduksi mie dalam gelas yang diberi merk Cup Noodle.

Sejarah terciptanya mie instan dimulai ketika Ando berusia 45 tahun tepatnya pada tahun 1956. Ketika itu, Amerika Serikat tengah gencar-gencarnya menyumbangkan gandum ke seluruh wilayah Jepang karena negara itu tengah dilanda masalah pangan. Hal tersebut menyebabkan harga terigu yang ada di pasaran menjadi murah. Untuk itu, pemerintah Jepang mengimbau seluruh rakyatnya agar mengkonsumsi roti gandum dan terigu sebagai pengganti nasi. 

Di Jepang sendiri, banyak sekali warganya yang suka menyantap mie. Melihat banyaknya orang yang melahap mie di dekat Pasar Harikyu di Osaka, Jepang kemudian membuka pikiran Ando untuk membuat sebuah usaha. Ia mulai berfikir mengapa tidak membuat mie dari bahan terigu? Terlebih lagi harga terigu pada saat itu sangat murah di pasaran. Ide cemerlang pun di dapatkan Ando, ia tidak ingin membuat mie yang sudah banyak di pasaran. Melainkan membuat mie dengan bentuk lain yang lebih enak, lebih cepat diolah, lebih efisien serta gampang didapatkan dimana saja. 

Untuk mewujudkan keinginannya tersebut, ia kemudian membeli sebuah mesin pembuat mie dan melakukan eksperimen membuat mie instan di beranda rumahnya. Awalnya, adonana dari mie yang sudah berbentuk mie itu digoreng agar awet, gurih dan cepat diolah. Kemudian, dirinya memikirkan rasa untuk kuah mie tersebut. Maka dipilihlah kuah ayam, karena selain rasanya yang netral aromanya juga tidak amis. Setelah membuat eksperimen tersebut, pada sore harinya ia membawa sekeranjang contoh mie-nya ke pasar. Di luar dugaan, ternyata seluruh mie buatannya habis tersebut pada hari itu juga. 

Mie buatannya semakin terkenal pada pertengahan tahun 1958. Ando sudah mulai kewalahan untuk menangani pesanan. Hal itu dikarenakan rumahnya yang kecil hingga tak mampu lagi menampung banyaknya pesanan. Untuk itu, Ando mulai memindahkan usahanya tersebut ke sebuah gudang murah yang kosong di Osaka. Di tempat itulah Ando dan keluarganya menjalankan bisnis mie instan. Sejak saat itulah, banyak perusahaan serta toko-toko besar yang berebut untuk menjadi penyalur dari mie instan buatannya. 

Pada bulan Desember 1958, Ando memberi nama pada perusahaannya tersebut. Maka dipilihlah nama Nissin Food Industries menjadi nama dari perusahaan mie instannya tersebut. Produk mie instan semakin digandrungi di Negara Jepang. 

Kesuksesan Ando terus berlanjut, ia kemali membuka pabrik keduanya pada tahun 1960. Sedangkan pada tahun 1961, lahirlah pabrik ketiga dan keempat yang tersebut di beberapa wilayah Jepang. Meskipun usahanya tersebut dapat dikatakan sukses, namun Ando tidak pernah berhenti untuk bereksperimen dalam memperbaiki mutu serta cita rasa mie instan buatannya. Ia selalu melibatkan keluarga, teman, serta masyarakat sekitar untuk mencicipi mie instan baru hasil olahannya. Cara tersebut ia lakukan agar dapat mengetahui selera pasar.

Selain melakukan eksperimen, demi memperbaiki mutu serta kualitas mie instannya, Ando bahkan melakukan perjalanan ke luar negeri. Hal tersebut dilakukan untuk memperkenalkan serta menjajaki selera Eropa terhadap mie instan. Untuk mempelajari hal tersebut, maka dirinya melakukan perjalanan keliling Eropa dan Amerika Serikat pada tahun 1966.

Di Eropa tersebut, Ando melihat orang makan mie dengan menggunakan garpu, tanpa kuah dan menggunakan piring sebagai alas makanya. Di sana menyeruput kuah mie dianggap suatu hal yang tidak sopan. Padahal di negaranya, orang Jepang biasa menyeruput kuah mie yang masih panas berasap. Hal itu bertujuan untuk menambah nafsu makan serta semangat dan menghormati tuan rumah. Selain itu juga, Ando mengamati adanya bahan kaldu yang bisa dilarutkan dengan air panas tanpa harus memasaknya terlebih dahulu. Ia juga baru tahu bahwa ada cup/cangkir kertas sekali pakai dan kertas alumunium yang dapat digunakan sebagai penutup yang kedap udara. 

Dari situlah maka Ando mendapatkan ilham untuk membuat mie instan dalam wadah yang berbahan styrofoam yang kemudian menggunakan lapisan alumunium sebagai penutupnya. Mie instan tersebut tidak perlu dimasak, melainkan hanya perlu di seduh saja. supaya tidak hancur saat di distribusikan, kontur mienya pun dibuat lebih tebal. Di dalam kemasan tersebut ditambahkan pula garpu yang digunakan untuk menyantapnya. 

Ide tersebut ternyata dapat mendatangkan kesuksesan untuk Ando. Pada tahun 1970 ia berhasil memasarkan mie instan dengan kemasan yang efisien dan praktis. Ia tidak hanya memasarkan produknya di Asia saja melainkan juha ke wilayah Amerika Serikat dan beberapa negara Eropa lainnya. Mereka menyambut baik impor makanan inovatif yang dilakukan Ando tersebut. bahkan ada beberapa pengusaha Eropa yang menjulukinya sebagai “The Inovator of The Year”.

Mamofuku Ando berada di puncak keberhasilannya pada tahun 1998, saat itu ia genap berusia 77 tahun. Dirinya membangun serta meresmikan Foodeum Tower di Shinjuku, Tokyo. Gedung tersebut sangat legendaris hingga saat ini dan disebut juga sebagai “Istana Mie”. Hal tersebut dikarenakan di dalam tempat tersebut banyak sekali restoran mie, tempat disko, tempat pelatihan pembuatan mie, serta museum mie serta alat-alat untuk membuat mie.

Itulah sejarah serta tokoh di balik terciptanya mie instan. Semoga artikel ini dapat menginsipirasi pembaca untuk dapat menciptakan hal-hal baru. Terima kasih telah membaca.

Selengkapnya »
9/21/2015 08:32:00 PM | 0 komentar

Sunday, September 20, 2015

Jalan Tarung Karaeng Karunrung


Kisah perlawanan rakyat Gowa mempertahankan Benteng Somba Opu dari gempuran pasukan kompeni.

KARAENG Karunrung, penasihat sekaligus Mangkubumi Kerajaan Gowa, menentang keputusan Sultan Hasanuddin, Raja Gowa XVII (memerintah 1653-1669) yang menandatangani perjanjian damai Bongaya dengan Belanda pada 16 November 1667. Karunrung memilih terus berjuang.
Karunrung yang bermukim di istana megah di Bontala, mempersiapkan diri. Pada 21 April 1668 pecahlah kembali perang. Pasukannya dengan cerdik menembus beberapa blokade pasukan dan menuju benteng Jumpandang –sekarang Fort Rotterdam– yang telah dikuasi Belanda (baca: Di Balik Fort Rotterdam Makassar). Dalam catatan hariannya, Speelman, komandan pasukan Belanda, tak menampik kehebatan dan kemampuan perang orang Makassar. “Pertempuran pertama sangat sengit dan banyak orang-orang Belanda mati dan luka-luka.”
Aksi-aksi penyerangan Karunrung membuat pasukan Belanda dan sekutunya Arung Palakka dari Kerajaan Bone, kelimpungan. Menurut Guru Besar Universitas Hasanuddin, Mattulada dalam Menyusuri Jejak Kehadiran Makassar dalam Sejarah, Arung Palakka pun menderita luka-luka.
Sementara benteng-benteng yang dalam perjanjian Bongaya harus dihancurkan, malah diperkuat kembali oleh Karunrung. Serangan kedua pada 5 Agustus 1668, pasukan Makassar membuat gerakan pancingan yang menyusup ke Fort Rotterdam. Namun, Arung Palakka meyergapnya. Pasukan Makassar mundur teratur, dan terus dikejar pasukan Arung Palakka.
Arung Palakka yang merasa sudah memukul mundur pasukan Karunrung, tiba-tiba di suatu titik dikepung oleh pasukan Makassar yang muncul dari persembunyian. Keadaan berbalik. Pasukan Arung Palakka terdesak. Kejadian ini terekam dalam catatan dan arsip pemerintah Belanda: “Arung Palakka dan pasukannya zouden in de pan gehakt zijn(akan musnah tergunting) andai kata tidak cepat dibantu oleh pasukan Belanda dan Ternate.”
Berikutnya, serangan serempak terjadi pada 12 Agustus 1668. Namun, karena terburu nafsu dan perhitungan tidak begitu tepat, serangan itu tak mencapai sasaran. Akibatnya, 27 pucuk meriam jatuh ke tangan Belanda.
Di balik Fort Rotterdam, kamp pertahanan Belanda keadaan begitu menyedihkan. Setiap hari tujuh hingga delapan pasukan meninggal. Lima orang dokter meninggal dunia, 15 orang pandai besi meninggal. Dalam tempo empat minggu 139 orang mati. Bahkan, Speelman sendiri sakit dan harus cuti sebulan.
Menyerang Somba Opu
Dalam keadaan genting itu, Belanda diam-diam memberangkat 108 pasukan yang sakit ke Jepana. Namun, dalam perjalanan 100 orang meninggal termasuk komandan benteng Van der Straen. Tetapi, Speelman melalui Kapten Dupon, meskipun dalam keadaan kepayahaan, tetap menghimpun kkekuatan untuk menggali parit-parit menuju benteng Somba Opu, tempat bermukim Sultan Hasanuddin.
Speelman merencanakan penyerangan secara penuh ke benteng Somba Opu sembari menunggu bantuan dari Batavia. Pada April 1669, meriam-meriam bersakala ledak besar diarahkan ke Somba Opu. Saat bantuan mulai berdatangan, pada 15 Juni 1669, Speelman mengibarkan bendera merah untuk melakukan serangan total. Perang pun pecah. Pasukan pertahanan dari Somba Opu menyambutnya dengan gegap gempita. Sebanyak 30.000 peluru dimuntahkan Belanda ke jantung Somba Opu.
Perang yang berlangsung selama tiga hari itu akhirnya dimenangkan Speelman. Dengan bantuan sekutu Belanda dari pasukan-pasukan Ambon, bendera perang Speelman dipancangkan di dinding Somba Opu. Tapi bendera kemenangan bukanlah akhir segalanya, dalam benteng perlawanan tak padam. Perkelahian antara orang per orang terjadi dengan sengitnya. Setapak demi setapak tanah dalam benteng Somba Opu dipertahankan hingga tetes darah terakhir.
Sepuluh hari kemudian, pada 24 Juni 1669 Speelman barhasil mengambilalih secara penuh Somba Opu. Sebanyak 270 meriam besar dan kecil dirampas. Setelah itu, Somba Opu diratakan dengan tanah, ribuan pond mesiu meledakkan istana, mayat-mayat bergelimpangan bersama ledakan dan api menjilat kemana-mana. “Diambil alihnya Somba Opu oleh Speelman menjadi titik utama keruntuhan Kerajaan Gowa,” kata Sejarawan Universitas Hasanuddin Makassar, Edwar Poelinggomang.
Padahal menurut Edwar, senjata pasukan Kerajaan Gowa merupakan yang tercanggih di masanya. Ada meriam putar yang sangat mahal. Dan tentu saja beberapa senjata yang diperoleh dari jalur niaga bebas. “Pasukan Makassar (Kerajaan Gowa) saat itu, tak memiliki strategi yang mumpuni. Pertempuran dilakukan harus saling berhadapan. Yang bersumbunyi dianggap pengecut, maka tak heran ada banyak pasukan yang tewas,” katanya.
Akhirnya, Karunrung mengakui kekalahan. Perjanjian damai abadi diadakan di Batavia pada 20 Desember 1669. Delegasi dari Gowa antara lain I Mappasomba mewakili Sultan Hasanuddin dengan 140 pengikutnya, dan Karunrung diwakili putranya.

Selengkapnya »
9/20/2015 08:10:00 AM | 0 komentar

Di Balik Fort Rotterdam Makassar


Benteng berusia ratusan tahun ini masih berdiri kokoh, seakan menegaskan bahwa dirinya telah berhasil melewati berbagai zaman dan peradaban.

SENJA mulai merayap di kota Makassar. Tak jauh dari pelabuhan, beberapa muda-mudi asyik bercengkrama di atas sebuah tembok besar. Belaian lembut angin laut memanjakan mereka yang sesekali berfoto-ria. Beberapa pedagang ramai berjualan di taman yang terletak berhadapan dengan tembok benteng.
Tembok besar yang tersusun dari bebatuan padas itu berdiri memanjang, mengelilingi areal seluas tiga hektare lebih. Di salah satu sisi, tepat di atas sebuah gapura yang jadi pintu masuk, terdapat tulisan “Fort Rotterdam”.
Benteng Fort Rotterdam, sering disebut Benteng Ujung Pandang –ada juga yang menyebutnya Benteng Penyu dan Kota Towaya– lagi berbenah. Di dalamnya, selain pengunjung dan pegawai Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Makassar (BP3M), banyak kuli bangunan. Mereka sedang mengerjakan revitalisasi bangunan-bangunan besar di dalam kompleks benteng. “Kalau rencana pemerintah provinsi, ini (rampung) sampai 2015. Revitalisasinya bukan hanya lingkungan dalamnya, tapi juga lingkungan di luar benteng,” ujar Muhamad Natsir, pegawai BP3M yang ditemui Majalah Historia Online.
Bangunan-bangunan besar itu merupakan peninggalan Belanda. Jumlahnya ada 15 buah –tapi menurut Natsir ada 16. Selain bangunan, di dalam kompleks benteng juga terdapat taman yang luas. Fort Rotterdam merupakan saksi bisu perkembangan Makassar. Peranannya sangat penting. Benteng ini merupakan satu dari beberapa benteng yang dibangun setelah ketegangan Makassar-VOC (kongsi dagang Belanda) meningkat.
Para pedagang Belanda kala itu tertarik dengan pertumbuhan pesat Makassar sejak akhir abad ke-16. Perwakilan dagang dari berbagai negara ada di sana. Jalinan niaga, diplomatik, dan militernya juga sangat luas. Mau tak mau, “Dutch East India Company yang mengetahui hal itu harus memutus Makassaragar monopoli cengkeh dan pala mereka di Maluku berjalan efektif,” tulis Anthony Reid dalam “The Fall of Mighty Makassar”, dimuat dalam antologi Sulawesi Indonesia karya Kal Muller (editor).
VOC menyerang perahu-perahu dagang Makassar di perairan Maluku dekat Ambon. Penguasa Makassar memprotes perwakilan VOC di sana tapi tak diindahkan. VOC malah mendesak Sultan Alauddin agar tak menjual beras ke orang Portugis di Malaka. Seorang utusan VOC dari Maluku tiba di Makassar tak lama kemudian. Pesannya kepada raja Makassar: raja diharapkan melarang orang Makassar berniaga di Maluku. Sultan Alauddin pun marah. “Negeri saya terbuka untuk semua bangsa dan tidak ada perlakuan istimewa untuk Tuan, sebagaimana juga untuk orang Portugis,” kata sultan sebagaimana disitir Edward Poelinggomang dalam Makassar Abad XIX: Studi tentang Kebijakan Perdagangan Maritim.
Tak terima atas jawaban sultan, VOC melakukan serangan yang kemudian dikenal sebagai Peristiwa Enckhuyzen –merujuk kapal yang dinahkodai Dirck de Vries dan berlabuh di Pelabuhan Makassar– pada 28 April 1615. Ketika acara malam ramah-tamah antara para awak kapal dan para pembesar serta bangsawan Makassar di kapal itu, tanpa diduga pihak VOC melucuti semua persenjataan para undangan. Perlawanan terjadi. Korban jiwa berjatuhan. Syahbandar Makassar Encik Husen dan dua anggota keluarga raja ditawan lalu dibawa ke Banten.
Makassar lalu menutup perwakilan VOC di sana. Mereka juga menggiatkan pembangunan benteng di pesisir-pesisir kota. Yang pertama adalah Benteng Tallo di perbatasan utara (selatan muara Sungai Tallo) dan Benteng Panakkukang di perbatasan selatan (selatan muara Sungai Jeneberang). Menyusul kemudian Benteng Ujung Pandang, Barokbaso, Barombong, Garasi, Mariso, dan Ujung Tanah –hanya Benteng Ujung Pandang yang kini masih berdiri kokoh. Di dalam benteng-benteng inilah perdagangan berlangsung.
Semasa pemerintahan Sultan Hasanuddin, “Benteng Ujung Pandang pernah dijadikan sebagai pusat persiapan perang dan upacara membasuh panji-panji Kerajaan Gowa dengan darah untuk menghadapi VOC,” tulis leaflet keluaran Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Makassar.
Ketika Perang Makassar pecah (1666-1667) dan akhirnya VOC berhasil memaksakan penandatanganan Perjanjian Bongaya yang merugikan Makassar, Benteng Ujung Pandang lepas dari tangan Makassar. Pasal 11 perjanjian itu menyatakan, Makassar harus menyerahkan Benteng Ujung Pandang berikut perkampungan dan lingkungannya kepada VOC.
Di tangan Laksamana Cornelis Speelman, pemimpin ekspedisi Makassar yang kemudian jadi gubernur jenderal, benteng yang dibangun kali pertama pada 1545 ini diganti namanya menjadi Fort Rotterdam –kota kelahiran Speelman. Perbaikan dilakukan di sana-sini. Speelman juga mengubah benteng dan kawasan sekitarnya menjadi kota baru. Cakupannya meliputi benteng pertahanan, kota dagang yang dinamakan Vlaardingen di utara benteng, dan perkampungan di sekitar Vlaardingen.
Penguatan benteng juga dilakukan. Yang paling mencolok, penggunaan batu padas berbentuk balok –sebelumnya tembok benteng hanya menggunakan bahan gundukan tanah, lalu batu bata– dan pembangunan lima bastion atau sudut pertahanan (Amboina, Bacan, Bone, Buton, Mandarsyah). Tiap bastion berterap tiga. Tangga menjadi alat untuk naik ke atasnya. Jenis tangganya terbagi dua: yang berjenjang untuk personel dengan senjata ringan, sementara yang datar untuk meriam dan senjata berat. “Itu kan sebetulnya fungsi-fungsi dalam kaitannya dengan pertahanan,” ujar Natsir.
Di depan pintu masuk sebuah bangunan di pojok Bastion Bacan terdapat sebuah papan petunjuk bertuliskan “Ruang Tahanan P. Diponegoro”. Di tempat inilah konon Pangeran Diponegoro dulu ditahan. Setelah dibuang ke Manado, Diponegoro dipindahkan ke Makassar. “Berdasarkan arsip, waktu di Makassar dia ditahan di Fort Rotterdam. Tapi itu hanya visualnya. Kita buatkan biar lebih mudah. Tempat pastinya di mana, tak ada yang tahu,” ujar Natsir.
VOC, kemudian juga pemerintah Hindia Belanda, juga membangun gedung-gedung bergaya gothik yang masih berdiri hingga kini. Satu di antaranya lalu dipakai sebagai kantor gementee (kotapraja) Makassar. Gedung itu sekarang sudah berubah atap depannya.
Fungsi Benteng Ujung Pandang sebagai pusat komando pertahanan, perdagangan, pemerintahan, dan permukiman terus berlanjut hingga kekuasaan Hindia Belanda berakhir. Setelah itu, benteng itu menjadi Kantor Pusat Penelitian Pertanian dan Bahasa di masa Jepang, markas tentara KNIL pascaproklamasi hingga 1950, lalu permukiman hingga 1969. Baru tahun 1970 benteng itu diserahkan kepada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan guna dipelihara. Empat tahun kemudian, panggung pertunjukan seni dibangun dan Benteng Ujung Pandang ditetapkan sebagai Pusat Budaya Sulawesi Selatan sekaligus tempat wisata budaya.
Di dalam benteng, terdapat Museum Lagaligo yang diresmikan tahun 1970. Sebelumnya, pemerintah Hindia Belanda pernah mendirikan museum serupa pada 1938, dengan mendirikan Celebes Museum. Letaknya di bekas kediaman Cornelis Speelman. Kemudian ditutup psda saat Jepang masuk.
Fort Rotterdam masih kokoh berdiri hingga kini. Tak lagi berfungsi sebagai pusat pertahanan, politik, niaga, tapi sebagai “pusat sejarah” kota Makassar. Fort Rotterdam merupakan bukti visual yang masih tersisa dari dinamika sebuah peradaban.
Revitalisasi, termasuk mengembalikan kanal di luar benteng yang sempat hilang, dimaksudkan untuk tetap menjaga kelestarian Fort Rotterdam beserta kisah-kisah di baliknya. “Versi catatan sejarahnya, ada peta lama tahun 1800-an yang kita pegang, ada data tentang kanal,” ujar Natsir. “Jadi kita mengembalikannya berdasarkan catatan riil yang ada pada saat ditemukan.”
Ratusan tahun sudah usia Fort Rotterdam. Keanggunannya masih terjaga. Tak berlebihan bila wartawan New York Times Barbara Crossette melukiskannya sebagai, “the best preserved Dutch Fort in Asia.”

Selengkapnya »
9/20/2015 07:46:00 AM | 0 komentar

Asal Usul Gelar Andi di Sulawesi Selatan


Gelar Andi di depan nama orang Sulawesi Selatan diciptakan Belanda untuk menandai kaum bangsawan yang terpelajar.

PADA 1929, Andi Mattalatta –di kemudian hari menjabat Panglima Kodam XIV Hasanuddin (1957-1959)– melanjutkan pendidikannya di Openbare Schakelschool Makassar. Di depan namanya dibubuhkan kata Andi.
Mattalatta mengetahui penjelasan mengenai nama Andi sebagai penanda untuk membedakan keturunan bangsawan dari orang biasa, dari Muhayang Daeng Mangawing, kepala sekolah di Gouvernament Inlandsche School Barru. Penjelasan lain dari Ince Nurdin, tokoh bangsawan di Makassar dan mantan guru OSVIA (Opleiding School Voor Inlandsche Ambtenaren). Menurutnya, awal muasal kata Andi dikenalkan oleh B.F. Matthes, seorang misionaris Belanda, pendiri sekolah OSVIA dan di kemudian hari dikenal sebagai pelopor penulisan epik I La Galigo bersama Colliq Pujie pada 1918.
“Matthes hendak menulis Standen Stelsel di Zuid Celebes seperti yang sudah ada di Jawa. Maka, sebagai awal usahanya itu, mulailah dia memberikan titel Andi kepada semua golongan bangsawan yang berada dalam jangkauan Departement O & E (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan),” kata Ince Nurdin, dikutip Mattalatta dalamMeniti Siri dan Harga Diri: Catatan dan Kenangan. Terjemahan bebas standen stelseladalah asal-usul; dalam bahasa Bugis disebut assaleng, dan kabattuang dalam istilah Makassar.
Setelah menguasai Makassar, pemerintah kolonial Belanda mengintervensi kerajaan-kerajaan di Sulawesi Selatan. Dan ketika sistem pemerintahan kolonial berjalan maka dibutuhkan tenaga-tenaga ahli yang memiliki kemampuan baca tulis –singkatnya kaum terpelajar. Untuk itu didirikanlah sekolah-sekolah Belanda. Di Makassar sebagai tempat kedudukan pemerintahan kolonial dibangun sekolah lanjutan seperti OSVIA, MULO (Meerder Uitbreiding Lager Onderwijs), AMS (Algemene Middelbare School), Normaal School, dan HK (Holland Indlands Kwekschool).
Sementara di wilayah distrik, dibangun sekolah Gubernemen atau Sekolah Desa dan Volks-School untuk sekolah lanjutan tiga tahun. Dan untuk pendidikan di tingkat Afdeling didirikan sekolah seperti HIS dan Schakel School.
Menurut Mattulada dalam Sejarah, Masyarakat dan Kebudayaan Sulawesi Selatan, jika ingin mengikuti sekolah dari tingkat HIS atau sekolah pamongpraja yang lazim disebut Sekolah Raja seperti OSVIA, maka setiap siswa harus menyertakan stamboom (daftar silsilah keturunan) dan lembar pernyataan kesetiaan pada pemerintah Hindia Belanda. “Sekolah-sekolah ini mencetak pegawai untuk pejabat-pejabat pemerintahan dan pegawai administrasi untuk perusahaan-perusahaan,” tulis Mattulada.
Anak-anak bangsawan yang telah menamatkan sekolah memperoleh gelar “Andi” di depan nama. Mattulada mencatat penggunaan gelar “Andi” ini dimulai sekitar tahun 1930-an oleh para kepala swapraja dan keluarga bangsawan untuk memudahkan identifikasi keluarga raja.
Sebelum pemerintah kolonial berkuasa, seorang bangsawan atau anak-anak raja tak pernah menyematkan kata “Andi” di depan nama. Melainkan La ataupun I untuk laki-laki dan We untuk perempuan. Sementara untuk gelar kebangsawanan digunakan Opu, Daeng, Karaeng, Arung, Bau’, atau Puang, sesuai daerah dan wilayahnya. Dan tak pernah ada panggilan Andi.
Namun, adakah arti kata dari Andi? “Sebenarnya, Andi bukanlah titel tingkatan derajat kebangsawanan. Andi itu kata panggilan atau sapaan dari seseorang yang lebih muda usianya kepada yang lebih tua. Terjemahan bebasnya adalah adinda,” kata Mattalatta.

Selengkapnya »
9/20/2015 07:41:00 AM | 0 komentar

Tuesday, September 15, 2015

Sejarah Awal Mula Hari Raya Idul Adha - Hari Raya Qurban


Setiap tanggal 10 Dzulhijjah dalam hitungan tahun Masehi setiap umat muslim di seluruh dunia merayakan Hari Raya Idul Adha. Banyak juga yang menyebutnya dengan Hari Raya Haji karena pada tanggal tersebut umat islam sedang melaksankan ibadah haji utama dengan wuquf di padang Arafah. Selain itu pada tanggal ini juga disebut sebagai Hari Raya Qurban karena pada saat itu umat islam menyembelih qurban dan kemudian dibagi-bagikan kepada yang berhak menerimanya. Namun, bagaimanakah sebenarnya sejarah Hari Raya Idul Adha atau Hari Raya Qurban ini? Berikut ini adalah ulasannya.

Awal mula dari Qurban ini adalah ketika Nabi Ibrahim as mengalami mimpi yang terjadi secara berturut-turut. Dalam mimpi tersebut, Nabi Ibrahim mendapatkan perintah dari Allah SWT untuk menyembelih putera kesayangannya, Ismail. Ismail merupakan putera semata wayang dari Nabi Ibrahim yang sangat disayangi serta ditunggu selama bertahun-tahun untuk mendapatkannya. Hati Ibrahim sangat gundah gulana memikirkan mimpi yang telah dialaminya tersebut. Ismail adalah sosok anak yang penurut, patuh kepada orangtua dan perintah Allah. Selain itu, Ismail juga merupakan anak yang ceria dan memiliki pemikiran yang cerdas.

Saat itu, Ismail sudah diangkat menjadi seorang nabi dan berumur sekitar 13 tahun. Nabi Ibrahim tidak dapat berbuat apa-apa karena itu merupakan perintah dari Allah SWT. Lalu, datanglah ia menemui Ismail untuk menyampaikan perintah Allah bahwa Ia harus menyembelih anaknya tersebut. Akan tetapi di luar dugaan, ternyata Ismail justru mengamini perintah dalam mimpi ayahnya tersebut. Dirinya tidak merasa takut atau marah kepada ayah kandungnya. Hal tersebut dikarenakan mimpi itu merupakan wahyu dari Allah SWT.

Mendengar jawaban dari anaknya tersebut membuat Ibrahim terkejut. Ia tidak menyangka anak kesayangannya itu begitu ikhlas untuk menerima perintah dari Allah SWT. Akan tetapi, perintah tersebut bukanlah hal yang mudah bagi Ibrahim. Itu dikarenakan setan terus menggoda dirinya agar membatalkan perintah itu. Namun, usaha yang dilakukan oleh setan itu gagal, ia tidak berhasil menggoda Ibrahim. Begitu pula yang terjadi ketika setan menggoda Ismail, mereka juga mengalami kegagalan. Tidak ingin menyerah, setan kemudian menggoda isteri Nabi Ibrahim akan tetapi usaha tersebut pun tetap tidak berhasil.

Pada hari H, yakni tanggal 10 Dzulhijjah, Nabi Ibrahim dan puteranya pergi ke tanah lapang untuk menjalankan perintah Allah tersebut. Agar Ismail tidak merasakan sakit ketika disembelih, Ibrahim mempersiapkan pedang yang diasah dengan sangat tajam. Dalam perjalanan menuju tempat penyembelihan, setan terus menggoda Ibrahim dan Ismail untuk membatalkan perintah Allah tersebut. Setan menggoda nabi Ismail dengan mengatakan bahwa nabi Ibrahim hanya membawa ia untuk dibunuh. Namun, mengingat nabi Ismail sudah diangkat menjadi nabi, ia tidak gentar dan berkata bahwa dirinya siap untuk melakukan perintah Allah SWT. 

Iblis tidak kehabisan akal untuk menggoda keduanya. Namun, tiba-tiba nabi Ibrahim dan Ismail mengambil beberapa kerikil di tanah dan melemparkannya ke arah iblis dengan mengucapkan “Bismillahi Allahu Akbar”. Prosesi inilah yang kemudian dikenal sebagai prosesi lempar jumrah. 

Di luar dugaan, ternyata Nabi Ismail sudah benar-benar siap untuk disembelih oleh ayahnya. Ia merasa siap karena itu merupakan perintah dari Allah SWT. Bahkan Ismail meminta ayahnya untuk menutup wajahnya agar nabi Ibrahim tidak merasa iba ataupun ragu untuk melaksanakan perintah dari Allah SWT. Kemudian, Ismail juga meminta nabi Ibrahim untuk menajamkan pedangnya serta memberikan beberapa wasiat jika ia telah meninggal nantinya. Karena mendengarkan perkataan serta permintaan nabi Ismail tersebut, nabi Ibrahim mengatakan bahwa nabi Ismail adalah kawan terbaik dalam melaksanakan perintah dari Allah SWT. 

Namun, ketika nabi Ibrahim mulai menggoreskan pedangnya, pedang tersebut selalu terpental. Ismail kemudian berkata bahwa dirinya ingin tali pengikat yang ada di tangan dan kakinya dilepas. Hal itu dilakukan agar malaikat dapat menyaksikan bahwa ia taat kepada Allah SWT. Peristiwa yang terjadi selanjutny adalah peristiwa tradisional yang menjadi sejarah hari raya Idul Adha (hari Raya Qurban) yaitu ketika nabi Ismail ditukar dengan seekor domba oleh Allah SWT. 

Ada satu riwayat yang menyebutkan bahwa Malaikat Jibril-lah yang membawa domba serta menukarnya dengan Nabi Ismail. Pada saat itu, ditulisan bahwa semesta beserta isinya mengucapkan takbir demi mengagungkan kebesaran Allah SWT atas kesabaran yang dimiliki oleh Ismail dan Ibrahim dalam menjalankan perintah Allah yang berat tersebut. Perintah tersebut sangatlah berat, karena di satu sisi nabi Ibrahim ingin menyembelih nabi Ismail putera semata wayangnya demi menuruti perintah Allah, sementara Allah memerintahkan agar pedang tersebut tidak menyembelihnya. 

Allah SWT memiliki kuasa yang sangat besar. Ismail yang sudah siap untuk disembelih atas kuasa dari Allah SWT digantilah Ismail dengan domba besar, sehat lagi bersih. Mulai saat itulah, setiap tahunnya umat muslim di seluruh dunia diperintahkan untuk menyembelih Qurban oleh Allah SWT. Qurban tersebut dapat berupa domba, sapi, kerbau, ataupun unta. Serta waktu penyembelihannya dilakukan pada setiap tanggal 10 Dzulhijjah.

Karena keikhlasan serta pengorbanan yang dilakukan oleh nabi Ibrahim as yang rela melakukan perintah Allah untuk menyembelih Ismail maka Nabi Ibrahim berhasil meraih predikat Khaliullah (Kekasih Allah). Semua pengorban yang dilakukan nabi Ibrahim tersebut hanya demi mencapai kecintannya kepada Allah SWT.

Itulah kronologi awal mula Hari Raya Qurban. Peristiwa ini yang melatarbelakangi mengapa kita harus menyembelih hewan qurban ketika peringatan hari Raya Idul Adha. Semoga artikel ini menambah pengetahuan pembaca. Terimakasih sudah membaca.

Selengkapnya »
9/15/2015 09:27:00 PM | 0 komentar

Sejarah Peristiwa G30S/PKI


Gerakan 30 September atau sering disingkat G30S/PKI merupakan peristiwa sejarah yang begitu membekas di hati bangsa Indonesia. Bagaimana tidak, sebanyak tujuh perwira tinggi militer Indonesia tewas mengenaskan setelah diculik dan dibunuh. Mereka hilang pada selepas malam tanggal 30 September 1965 dan ditemukan tewas pagi harinya. Sejarah tersebut juga dikenal dengan nama Gerakan 30 September atau disingkat Gestapu (Gerakan September Tiga Puluh) dan Gestok (Gerakan Satu Oktober).

Pelaku diduga merupakan anggota Partai Komunis Indonesia (PKI) kala itu. Namun, benar atau tidaknya dugaan tersebut masih menjadi bahan perdebatan hingga saat ini. Sebelum terjadinya peristiwa G30S/PKI, Partai Komunis Indonesia (PKI) tercatat sebagai Partai Komunikasi yang paling besar di dunia tanpa menghitung partai komunis yang ada di Uni Soviet maupun Tiongkok. Pada tahun 1965 tercatat 3,5 juta orang menjadi anggota partai ini. Jumlah tersebut belum termasuk 3 juta jiwa yang menjadi pergerakan pemuda. Partai ini mempunyai pengaruh yang cukup besar sehingga membuat anggotanya terus bertambah hingga mencapai 20 juta anggota termasuk pendukungnya. 

PKI dituding menjadi dalang di balik pergerakan 30 September tersebut. Kecurigaan tersebut dimulai ketika palemen dibubarkan pada bulan Juli 1959. Saat itu, Presiden menentapkan bahwa konstitusi ada di bawah dekrit presiden. PKI berada di belakang Presiden dan memberikan dukungan penuh. Soekarno memperkenalkan sistem baru di pemerintahannya yakni Demokrasi Terpimpin. Hal tersebut disambut dengan gembira oleh anggota PKI yang merasa akan mampu menciptakan konsepsi NASAKOM (Nasionalis, Agama, dan Komunis). Akan tetapi, pada masa demokrasi terpimpin ini kolaborasi pemimpin PKI dan kaum-kaum borju gagal menekan pergerakan independen dari petani serta buruh di Indonesia. Akibatnya, hal tersebut menyebabkan banyak masalah yang tidak terselesaikan di bidang politik serta ekonomi.

Peristiwa G30S/PKI sendiri dimulai pada tanggal 1 Oktober pagi. Kelompok pasukan ini mulai bergerak dari Lapangan Udara Halim Perdana Kusuma menuju daerah selatan Jakarta untuk menculik 7 jendral yang merupakan staf tentara. Ada tiga target yang mereka bunuh di rumahnya yaitu Ahmad Yani, M.T. Haryono dan D.I. Panjaitan. Sedangkan tiga target lainnya yakni Soeprapto, S. Parman, dan Sutoyo ditangkap hidup-hidup. Sedangkan, Jendral Abdul Harris Nasution yang menjadi target utama mereka berhasil meloloskan diri karena melompati dinding yang berbatasan dengan taman kedutaan besar Iraq. 

Tidak mendapatkan target utamanya, mereka akhirnya menangkap ajudan A.H. Nasution, Pierre Tendean. Sedangkan anak gadisnya yang berusia lima tahun, Ade Irma Suryani Nasution tertembak oleh regu sergap dan tewas pada 6 Oktober. Selain ajudan dan anak A.H. Nasution, regu penculik juga menembak serta membunuh seorang polisi yang menjaga rumah tersebut, Karel Satsuit Tubun. Tidak hanya sampai di situ, mereka juga  melakukan penyerangan kepada keponakan dari Pandjaitan, Albert Naiborhu. 

Setelah melakukan penculikan dan pembunuhan, pelaku aksi ini membawa mayat serta jendral yang masih hidup ke Lubang Buaya. Lalu, mereka semua dibunuh dan mayatnya dimasukkan ke sumur yang berada di dekat markas tersebut. 

Pagi harinya sekitar 2.000 pasukan diturunkan untuk menduduki temapy yang sekarang dikenal dengan nama Lapangan Merdeka, sebuah taman yang ada di Monas. Meskipun demikian, pasukan tersebut tidak bisa menguasai bagian timur dari area itu, karena merupakan daerah markas KOSTRAD yang dipimpin oleh Soeharto. Pada pukul 7 pagi, RRI menyiarkan pesan yang berasal dari Untung Syamsuri, komandan Cakrabiwa, regimen penjaga Presiden, bahwa gerakan 30 September telah berhasil mengambil alih beberapa lokasi strategis di Jakarta dengan bantuan anggota militer lainnya.

Mereka mengklaim bahwa gerakan tersebut didukung oleh Central Intelligence of America (CIA) yang bertujuan untuk menurunkan Soekarno dari posisinya.

Namun, pada akhirnya kudeta yang mereka lakukan ini mengalami kegagalan. Hal tersebut dikarenakan mereka melewatkan peranan Soeharto yang mereka kira akan tinggal diam dalam masalah tersebut. Padahal Soeharto diberitahu oleh tetangganya tentang berita menghilangnya para jendral serta penembakan yang terjadi pukul 5.30 pagi. Ia kemudian segera bergerak ke markas KOSTRAD dan berusaha menghubungi anggota angkatan laut dan polisi. Akan tetapi, dirinya tidak berhasil melakukan kontak dengan angkatan udara. Akhirnya, Soeharto mengambil alih komando angkatan darat. 

Selain itu, yang menyebababkan kudeta ini gagal adalah kurang matangnya perencanaan yang mereka lakukan. Soeharto juga berhasil membujuk kedua batalion pasukan kudeta untuk menyerah dimulai dari pasukan Brawijaya yang masuk ke area markas KOSTRAD dan disusul pasukan Diponegoro yang kabur kembali ke Halim. 

G30S/PKI itu baru berakhir pada pukul 7 malam. Soeharto yang memimpin pasukan berhasil mengambil alih kembali kontrol atas semua fasilitas yang sebelumnya direbut oleh Gerakan 30 September tersebut. Ketika sudah berkumpul bersama Nasution, pukul 9 malam Soeharto mengumumkan bahwa ia sekarang mengambil alih tentara dan akan berusaha menghancurkan pasukan kontra-revolusioner serta menyelamatkan Soekarno. Setelah itu, dirinya melayangkan ultimatum lagi ditujukan kepada pasukan yang berada di Halim. Tidak berpa lama kemudian, Soekarno meninggalkan Halim dan tiba di Istana Presiden yang berada di Bogor. Pada tanggal 3 Oktober, mayat dari ke-7 jendral yang dibunuh dan dibuang di Lubang Buaya akhirnya temukan. Kemudian, pada tanggal 5 Oktober jasad mereka dikuburkan secara layak.

Selengkapnya »
9/15/2015 08:44:00 AM | 0 komentar