Hi, guest ! welcome to Yahoo!. | About Us | Contact | Register | Sign In
Showing posts with label Sains & Teknologi. Show all posts
Showing posts with label Sains & Teknologi. Show all posts

Thursday, January 7, 2016

Kulkas Tercanggih Samsung Pakai Android, Dijual Rp 69 Juta



Samsung baru saja memperkenalkan kulkas tercanggihnya di arena Consumer Electronics Show (CES) 2016 yang sedang berlangsung di Las Vegas. Desainnya mewah dan yang langsung menarik perhatian adalah, ada layar resolusi HD ukuran jumbo di pintunya.

Seperti dikutip dari Tech Times, layar itu berukuran 21,5 inch dan seperti diberitakan sebelumnya, berbasis sistem operasi Android. Sepertinya baru kali ini ada kulkas yang punya teknologi semacam itu. 

Bukan sekadar pajangan, si layar bisa menampilkan foto atau video dan bisa dihubungkan dengan smartphone untuk menampilkan pesan. Bisa pula digunakan untuk menayangkan musik dan film dari televisi Samsung. Ada speaker di kulkas ini untuk menyemburkan suara.





Bukan itu saja, kulkas bernama Family Hub Refrigerator ini memiliki tiga kamera di dalamnya. Sehingga meskipun pintu ditutup, bagian dalam tetap bisa terlihat dari luar untuk mengetahui isinya. Kamera itu juga bisa diakses melalui smartphone dari mana saja sehingga pengguna tahu apakah ada stok yang berkurang.

"Jika misalnya Anda sudah di toko dan lupa apa yang Anda butuhkan untuk bahan makanan, Anda akan langsung bisa melihat apa yang ada di dalam kulkas dengan aplikasi Samsung Smart Home," kata Samsung.

Satu lagi, pengguna juga bisa langsung melakukan belanja online dari kulkas tersebut. Misalnya belanja bahan makanan. Samsung bekerja sama dengan MasterCard untuk melakukannya dan baru akan tersedia di Amerika Serikat. 

Dengan segala teknologinya itu dan desain premium, tentu harganya tidak murah. Samsung berencana menjualnya di angka USD 5.000 atau kisaran Rp 69 juta. Berminat?

Selengkapnya »
1/07/2016 02:52:00 PM | 0 komentar

Monday, January 4, 2016

Sejarah Baru, PLTS Terbesar dari Kupang


Presiden Joko Widodo, meresmikan Independent Power Producer Pembangkit Listrik Tenaga Surya (IPP PLTS) berkapasitas 5 Mega Watt peak (MWp) di Desa Oelpah, Kupang-NTT.
IPP PLTS merupakan PLTS terbesar dalam sejarah Indonesia, Seperti tertulis dilaman Facebook Page Presiden Joko Widodo (www.facebook.com/presidenID/), proyek ini merupakan kombinasi antara konsep energi dan ramah lingkungan, diakui juga PLTS seperti ini nantinya akan terus dikembangkan terutama di pulau-pulau yang sulit terjangkau oleh pembangkit listrik dari sumber fosil.
PLTS dengan total investasi USD 11,2 juta ini dilengkapi dengan sistem PLTS Grid-Connected yang memungkinkan pembangkit tenaga surya ini bekerja secara paralel dan terhubung langsung dengan jaringan listrik utama sehingga tidak menggunakan sistem baterai karena listrik yang dihasilkan langsung dialirkan ke jaringan listrik eksisting pada siang hari. Sistem ini terdiri dari rangkaian panel modul surya, sistem inverter, sistem proteksi elektrik, dan perangkat interkoneksi jaringan.
Sementara menurut situs resmi Kantor Staf Presiden (http://ksp.go.id/), dalam dua minggu uji coba PLTS yang mulai dibangun sejak Januari 2015 ini berhasil memasok listrik sebesar 4 MWp, sedangkan di musim hujan seperti sekarang PLTS ini tetap mampu menyalurkan listrik sebesar 27% dari kapasitas normal.

Selengkapnya »
1/04/2016 11:37:00 PM | 0 komentar

Saturday, September 26, 2015

Sejarah Sapi di Indonesia


Kisah Indonesia dari eksportir menjadi importir daging sapi. Keseriusan menanganinya hanya terjadi di masa lalu.
PADA 1917 pemerintah Hindia Belanda mengimpor sapi Ongole secara besar-besaran dari India. Untuk menghasilkan sapi unggul, pada 1936 pemerintah Hindia Belanda mengharuskan semua sapi jantan Jawa dikebiri, sedangkan sapi betinanya harus dikawinsilangkan dengan sapi Ongole yang telah diimpor. Dari kebijakan ini setidaknya telah banyak diperoleh sapi-sapi unggul hasil persilangan di berbagai daerah.
Upaya mengembangbiakkan sapi juga dilakukan sejak awal dekade 1950-an. Kisahnya dimulai ketika Presiden Sukarno menggarap tahapan pembangunan bernama Rencana Kesejahteraan Istimewa pada 1950. Saat itu ahli ternak asal Denmark Prof. B. Seit tengah memperkenalkan metode inseminasi buatan kepada para dokter hewan di Indonesia. Fakultas Hewan dan Lembaga Penelitian Peternakan (FKH LPP) Bogor, tempat Seit bekerja, lantas diserahi tugas pemerintah untuk mendirikan stasiun Inseminasi Buatan di beberapa wilayah sentra peternakan sapi susu.
Para dokter hewan yang dilatih Seit lantas berpencar di berbagai daerah di Jawa dan Bali untuk mendirikan stasiun inseminasi buatan. Ada yang berangkat ke Ungaran dan Kedu di Jawa Tengah, Pakong dan Grati di Jawa Timur, Cikole di Jawa Barat, dan Baturati di Bali. Pun FKH LPP Bogor sendiri difungsikan sebagai stasiun untuk melayani daerah Bogor dan sekitarnya. Para dokter hewan itu bertugas melakukan inseminasi.
“Di stasiun-stasiun itu para dokter hewan telah melatih beberapa orang manteri hewan dan penyuluh untuk pekerjaan tangan di dalam pembuahan buatan,” tutur Seit dalam pidato pengukuhan guru besarnya berjudul Pembuahan Buatan dan Kemungkinannya di Indonesia di Universitas Indonesia pada 1957.
Sayangnya program ini tak intensif dilakukan. Pelayanan inseminasi buatan sifatnya hilang timbul. Akibatnya masyarakat tak cukup menaruh kepercayaan. Program Rencana Kesejahteraan Istimewa juga hanya bertahan dua tahun. Namun demikian balai-balai inseminasi buatan yang didirikan telah berjasa membantu mengembangbiakkan sapi, meskipun baru sebatas sapi penghasil susu.
Pemerintah Orde Baru menganggap program inseminasi buatan sebagai langkah strategis untuk mendongkrak perkembangbiakan sapi peternakan rakyat. Keberhasilan ekspor telah memicu pemerintah untuk menyediakan lebih banyak sapi yang siap dipasok ke luar negeri. Maka pemerintah mencoba untuk menggalakkan inseminasi buatan di berbagai daerah.
Evaluasi pelaksanaan inseminasi buatan dilakukan pada 1970. Pemerintah menyimpulkan, semen (sperma) cair perlu diganti dengan semen beku yang lebih awet dipakai dan dibawa ke berbagai lokasi inseminasi. Bak gayung bersambut, pemerintah Selandia Baru, pada 1973, berbaik hati memberikan sumbangan semen beku secara cuma-cuma kepada pemerintah Indonesia.
Tak bisa dipungkiri, inseminasi buatan telah berhasil mendongkrak perkembangbiakan sapi dalam negeri sejak dekade 1960. Menurut catatan Badan Pusat Statistik, ekspor sapi potong pada tahun 1968 sebanyak 34.541 ekor. Jumlah ini naik menjadi 72.490 ekor pada tahun 1970.
Untuk menyebarluaskan sapi-sapi jenis unggul dan sapi-sapi hasil persilangan, pemerintah menerbitkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 1967 Tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Peternakan Dan Kesehatan Hewan. Di dalamnya termaktub upaya pemerintah untuk menyebarkan ternak secara merata di seluruh wilayah Indonesia. Istilahnya “pewilayahan ternak”.
Usaha mengimpor sapi unggulan kembali dilakukan ketika Presiden Soeharto dengan mendatangkan sapi-sapi unggul dari luar negeri, terutama dari Australia. Di Tapos, sapi-sapi itu hendak dikawinkan dengan sapi-sapi lokal Indonesia sehingga didapat bibit berjenis sapi unggul.
“Maka saya datangkan sapi-sapi unggul dari luar negeri untuk dikembangkan dan disilangkan dengan sapi-sapi yang ada di Indonesia seperti: Persilangan antara sapi Brahman Australia dengan jenis Anggus, hasil silangannya diberi nama ‘Brangus’. Sapi Santra Gertrudis disilangkan dengan sapi Madura, menghasilkan jenis sapi ‘Matralis’. Begitu juga dengan kambing Suffolk Australia disilangkan dengan Gibas menghasilkan ‘Safbas’ dan kambing Dorset Merino Australia disilangkan dengan Gibas menjadi ‘Dorbas’,” tuturnya dalam biografinya, Soeharto: Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya.
Tahun 1978 adalah tahun terakhir Indonesia mampu mengekspor sapi potong. Jumlahnya hanya 400 ekor saja. Sejak saat itu peternakan rakyat lebih banyak memasok kebutuhan daging dalam negeri saja. Bahkan keran impor daging dari Australia mulai dibuka.
Tapos tampaknya menginspirasi pengusaha ternak untuk melakukan impor bibit. Tercatat mulai tahun 1990, Indonesia mulai melakukan impor sapi bakalan. Menurut ahli peternakan dari Universitas Padjajaran, Sri Rahayu, impor sapi bakalan mulai dilakukan sejak tahun 1990 sejumlah 8.061 ekor. Dua belas tahun kemudian angka ini melonjak drastis hingga 429.615.
Karena terseret krisis ekonomi, pemerintah pernah mengurangi impor sapi bakalan pada periode 1997 – 2001. Hasilnya, sapi-sapi lokal terkuras oleh permintaan sehingga dalam waktu yang pendek, populasi sapi menurun drastis. Seperti tak punya pilihan lain, pada 2002 Indonesia kembali meningkatkan impor sapi bakalan guna memenuhi kebutuhan konsumsi daging sapi.
Indonesia sangat bergantung dengan impor daging asal Australia. Australia merupakan sumber dari 90,06 persen impor sapi hidup dan 46,70 persen impor daging sapi dan jeroan. Selandia Baru merupakan sumber impor 32,52 persen daging sapi dan jeroan. Negara-negara lain yang termasuk eksportir daging sapi ke Indonesia, dengan jumlah yang lebih kecil, adalah Amerika Serikat dan Kanada.

Selengkapnya »
9/26/2015 12:41:00 PM | 0 komentar