Hi, guest ! welcome to Yahoo!. | About Us | Contact | Register | Sign In
Showing posts with label Karya Anak Bangsa. Show all posts
Showing posts with label Karya Anak Bangsa. Show all posts

Saturday, February 6, 2016

Robot Terapi Stroke karya Mahasiswa Jogja


Selama ini, terapi bagi penderita stroke masih menggunakan bantuan mesin pendukung, yaitu Continuous Passive Motion (CPM). Sayangnya, alat tersebut tidak praktis, karena selain tidak sesuai dengan ukuran tubuh orang Indonesia, harganya masih mahal karena alat tersebut masih harus di datangkan dari luar negeri.
Namun, kini pasien usai stroke akan bisa diterapi menggunakan teknologi buatan anak bangsa. Alat yang diberi nama Indonesia Rehabilitation Robot for Foot atau dikenal dengan I-Rebot ini, dikembangkan oleh tim mahasiswa dari Universitas Gadjah Mada (UGM), di antaranya Yulisyah Putri Daulay (Teknik Industri), Ragil Sulistiyo (Teknik Mesin), Muhammad Nabil Satria Faradis (Teknik Mesin), Hamzah Muhammad Hafiq (Kedokteran Umum), dan Rizka Islami Ratnasari (Teknik Industri). 

Selama ini, terapi bagi penderita stroke masih menggunakan bantuan mesin pendukung, yaitu Continuous Passive Motion (CPM). Sayangnya, alat tersebut tidak praktis, karena selain tidak sesuai dengan ukuran tubuh orang Indonesia, harganya masih mahal karena alat tersebut masih harus di datangkan dari luar negeri.
Namun, kini pasien usai stroke akan bisa diterapi menggunakan teknologi buatan anak bangsa. Alat yang diberi nama Indonesia Rehabilitation Robot for Foot atau dikenal dengan I-Rebot ini, dikembangkan oleh tim mahasiswa dari Universitas Gadjah Mada (UGM), di antaranya Yulisyah Putri Daulay (Teknik Industri), Ragil Sulistiyo (Teknik Mesin), Muhammad Nabil Satria Faradis (Teknik Mesin), Hamzah Muhammad Hafiq (Kedokteran Umum), dan Rizka Islami Ratnasari (Teknik Industri). 

Sementara itu, Nabil menjelaskan bahwa I-Rebot juga memiliki keunggulan lain seperti berat lebih ringan, bentuk yang praktis dan ergonomis. Di samping itu, I-Rebot dapat dibawa ke mana saja karena bersifat portabel.
Sampai saat ini tim baru mengembangkan satu jenis robot untuk fisioterapi bagian engkel kaki. Robot ini akan membantu fisioterapi dengan menggerakkan engkel kaki ke arah kanan-kiri, atas-bawah, dan miring.
“Saat ini, I-Rebot tengah kami ajukan untuk mendapat paten dari HKI. Ke depan kami akan kembangkan juga robot untuk terapi bagian tubuh lainnya," tutur Nabil.
viva.co.id

Selengkapnya »
2/06/2016 05:21:00 PM | 0 komentar

Friday, January 22, 2016

Ini Pesawat N219, Karya Anak Bangsa yang Siap Menghubungkan Nusantara



Pesawat N219 karya PT Dirgantara Indonesia (PTDI) dan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) resmi diperkenalkan kepada publik secara utuh. Kehadiran N219 sebagai bukti bangkitnya kembali industri pesawat terbang nasional.


Penampilan perdana pesawat terbang berkapasitas 19 penumpang ini disaksikan langsung Menko Polhukam Luhut Binsar Panjaitan dan sejumlah pejabat negara lainnya di hanggar N219 PT Dirgantara Indonesia (DI), Jalan Pajajaran, Kota Bandung, Jawa Barat, Kamis (10/11/2015).



Pesawat angkut ringan dengan dua mesin turboprop ini dapat beroperasi di daerah penerbangan perintis. Semua pihak patut bangga lantaran N219 dirancang bangun oleh putra putri Indonesia.



"N219 Menjadi tonggak sejarah. Setelah N250 menjadi kebangkitan teknologi nasional, sekarang N219 sebagai pertanda kebangkitan kembali teknologi penerbangan nasional," kata Kepala LAPAN Thomas Djamaluddin saat memberikan sambutan.


Dia menyebutkan N219 bertujuan untuk membangun kemandirian industri pesawat terbang. Selain itu guna membangun sumber daya manusia yang kuat serta menguasai teknologi penerbangan mulai dari rancang bangun, proses sertifikasi, hingga produksi. 


"N219 Simbol kemandirian teknologi. Ini bukti kita mampu membuat teknologi tinggi," ucap Thomas.



Selain untuk penumpang, pesawat ini cocok digunakan dalam patroli maritim. N219 memiliki kabin terluas di kelasnya sehingga bisa mengevakuasi orang berkondisi sakit atau perlu pertolongan darurat.



Acara seremoni roll out atau N219 keluar hanggar untuk pertama kali disaksikan langsung Menko Polhukam Luhut Binsar Panjaitan, MenPANRB Yuddy Chrisnandi, KSAU Marsekal TNI Agus Supriatna, Kapolri Jenderal Badrodin Haiti, dan Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan, dan juga Dirut PT DI Budi Santoso. 


detik

Selengkapnya »
1/22/2016 11:40:00 AM | 0 komentar

Panser 'Badak' Karya Pindad Sukses Uji Tembak



Panser Kanon 90 mm, 'Badak', buatan PT Pindad (Persero) menjalani serangkaian proses sertifikasi oleh Dinas Penelitian dan Pengembangan (Dislitbang) TNI AD. 


Selama pengujian pada 10-12 Desember, yang berlangsung di Pusat Pendidikan Infanteri (Pusdikif), Cipatat, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, aksi 'Badak' sangat memuaskan. Panser canggih tersebut sukses melakoni uji tembak.



"Kami bersyukur uji penembakan dinilai Dislitbang TNI AD berhasil baik," kata Direktur Utama Pindad Silmy Karim dalam keterangan tertulisnya, Minggu (13/12/2015).




Panser Kanon 90 mm, 'Badak', buatan PT Pindad (Persero). Foto: Dok. Pindad


Kendaraan tempur karya anak bangsa ini dimodifikasi dengan mesin diesel 6 silinder berkekuatan 340 tenaga kuda. Selain itu, monocoque body 'Badak' dapat menahan tembakan amunisi 12,7 mm dan menyemat teknologi double wishbone independent suspension agar stabil saat memuntahkan amunisi kaliber besar 90 mm.


Menurut Silmy, rangkaian uji 'Badak' merupakan bagian dari proses sertifikasi untuk memastikan performa panser racikan Pindad ini sesuai Ketentuan Standardisasi Umum (KSU) TNI AD. 



Kegiatan tersebut berlangsung lancar berkat dukungan Kepala Staf Angkatan Darat (KASAD), Kementerian Pertahanan RI, Asisten Logistik KASAD, Dislitbang TNI AD, rekan-rekan dari Gudang Pusat Amunisi Bojong Koneng dan Pusdikif di Cipatat.



"Kami berharap dengan kerja sama baik ini maka 'Badak' dapat segera memperkuat jajaran alutsista TNI AD tahun depan (2016)," ucap Silmy.



Panser 'Made In Bandung' tersebut melakoni materi uji tembak seperti 'zeroing' atau proses penentuan arah senjata untuk masuk ke titik tengah sasaran dan penembakan arah jam 12 yakni turret serta kendaraan mengarah ke target. 



Lalu penembakan arah jam 6 atau turret mengarah ke arah target dan badan kendaraan berbalik 180 derajat. Serta penembakan arah jam 3 yaitu turret mengarah ke arah target dan badan kendaraan menghadap ke kanan 90 derajat. 



Seluruh penembakan mengenai target sasaran berukuran 4x4 m dengan jarak sekitar 1 kilometer dan kondisi kendaraan stabil serta terkendali. 



Panser Kanon 90 mm, 'Badak', buatan PT Pindad (Persero). Foto: Dok. Pindad


Uji tembak dilaksanakan guna mengukur akurasi tembakan senjata utama yakni turret 90 mm. Pindad menjalin kerja sama dengan perusahaan pertahanan Belgia, CMI Defence.


Regional Director for Asia and Indonesia, Patrick Ledig, dari CMI Defence turut menyampaikan apresiasi kepada Pindad. 



"Para staf ahli kami yang ikut hadir dari Belgia bekerja sama dengan Dislitbang TNI AD telah memastikan selama proses uji tembak itu kondisi kendaraan atau platform 'Badak' terlihat stabil," ujar Patrick.



Pindad mulai memperkenalkan purwarupa 'Badak' dalam kegiatan pameran IndoDefence 2014 di Jakarta. Pada fase produksi massal nanti sekitar 25 hingga 30 panser 'Badak' bisa dilahirkan setiap tahunnya dari pabrik Pindad di Kota Bandung.



Panser Kanon 90 mm, 'Badak', buatan PT Pindad (Persero). Dok: Pindad

Setelah uji tembak, beberapa mata pengujian lain seperti uji laboratorium dan uji jelajah eksternal akan dilaksanakan bersama Dislitbang AD. 


Hasil pengujian yang maksimal tentunya diharapkan agar 'Badak' dapat menjadi salah satu produk unggulan Pindad di masa depan dan menjadi kebanggaan TNI dan bangsa Indonesia.

detik

Selengkapnya »
1/22/2016 11:40:00 AM | 0 komentar

Tuesday, January 19, 2016

Game – Game Android Karya Anak Bangsa


Android merupakan salah satu operating system yang tumbuh pesat sejak pertama kali diliris pada November 2007. Hingga kini jumlah pengguna Android sudah mencapai lebih dari 1 miliar di dunia. Hal tersebut mendorong geliat developer di Indonesia untuk terjun ke dalam dunia Android salah satunya adalah bidang game. Game-game tersebut antara lain:
  1. Infinite sky
  2. Dazzle – Dagelan Puzzle
  3. Tebak Gambar 
  4. Ninja Fishing
  5. Shuriken Strike: Ninja Master

Selengkapnya »
1/19/2016 09:15:00 PM | 0 komentar

Kapal Tak Berawak Berbasis Wifi, Aset Alutsista Untuk Negeri


Pada wisuda Sekolah Tinggi Teknologi Angkatan Laut  (STTAL) yang bertempat di Gedung Mulyadi Bumimoro Kobangdikal, Surabaya pada Jumat(15/01) ada kegiatan menarik lain yaitu memamerkan hasil teknologi para mahasiswanya.
Mereka membuat kapal penyusup tanpa awak yang memanfaatkan teknologi nirkabel wifi.
Meskipun bukan penemuan baru namun karya para prajurit TNI AL ini mendapat apresiasi khusus. Semangat kemandirian dan kreativitas dapat mengurangi ketergantungan pada alutsista impor.
"Harus terus diupayakan kemandirian alutsista kita. Salah satunya dengan pengembangan teknologi dalam negeri. Kami bangga dengan karya mahasiswa TNI AL di sini," ujar Kepala Staf Angkatan Laut (KASAL) Laksamana TNI Ade Supandi usai meninjau hasil karya terbaik lulusan STTAL.
Kapal tanpa awak ini diciptakan lebih dulu oleh angkatan sebelumnya yang diketuai Kapten Laut Ali Khairudin, prajurit mahasiswa S1 Teknik Elektro kemudian kapal itu dikembangkan tahun ini. "Kapal ini untuk operasi militer maupun nonmiliter. Bisa untuk patroli maritim," kata Ali.
Kapal yang mengadopsi teknologi dengan sistem komputerisasi dan wifi itu dikendalikan dengan remote. Kapal itu mampu menjangkau hingga kejauhan lebih dari 40 km dengan kecepatan sekitar 21 knot dan ukuran kapal hampir seukuran sekoci.
Meski belum diujicobakan di laut lepas, namun karya anak bangsa tersebut sukses diujicobakan di waduk di lingkungan TNI AL di Bumimoro. Kapal tanpa awak itu sukses menjalankan tugas dengan jarak tempuh awal 3 kilometer.
"Kami mengadopsi teknologi KRI Diponegoro yang dikenal paling canggih," tambah Ali.
Meski tanpa awak, kapal itu bisa bergerak dan menyapu lokasi sesuai tujuan dan sasaran. Ada sistem kamera dalam pesawat itu sehingga terus terpantau.
Tidak saja keberadaan kapal, namun sasaran musuh juga mampu diketahui oleh kecanggihan teknologi intai kapal tanpa awak ini. Di geladak kapal itu juga saat ini dikombinasikan senjata yang bisa dibawa beroperasi. Semacam meriam juga dilengkapi di kapal ini.
Namun para pembuat kapal tanpa awak itu mengakui masih perlu penyempurnaan lebih jauh. Terutama menyangkut waktu operasional kapal yang masih terbatas pada musim kemarau. Kalau hujan belum bisa, merusak sistem karena belum diantisipasi. Waterproof terutama belum kedap air. Selain itu masih perlu dukungan sistem satelit. Bukan wifi yang terbatas jangakuannya. Namun semua data navigasi secara umum pada kapal tanpa awak ini sudah yang terbaik. Diharapkan, karya anak bangsa itu terus dikembangkan demi kemandirian alutsista.
 Sumber: tribunnews.com

Selengkapnya »
1/19/2016 12:17:00 PM | 0 komentar

Monday, January 18, 2016

Keren! PT PAL Perkenalkan Kapal Perang 'Perusak' Pertama made in RI



Hari ini, PT PAL Indonesia (Persero) memperkenalkan 2 jenis kapal perang yakni Strategic Sealift Vessel (SSV) pesanan militer Filipina dan kapal Guided Missile Frigate/Perusak Kawal Rudal (PKR) pesanan TNI AL.

Untuk PKR, kapal ini merupakan varian kapal perang canggih yang khusus difungsikan untuk pertempuran, berbeda dengan SSV yang hanya untuksupporting perang dan non perang. PKR juga dikenal sebagai kapal perang tercanggih dikelasnya karena dilengkapi rudal dan torpedo.

"Hari ini, kita juga launching kapal Perusak Kawal Rudal (PKR). PKR ini adalah kapal light frigate pertama yang dibangun di Indonesia," kata Direktur Utama PAL, Firmansyah Arifin, Senin (18/1/2016).

PAL sendiri menggandeng produsen kapal perang asal Belanda, Damen. Damen dan PAL bekerjasama mengembangkan dan memproduksi 2 unit kapal jenis light frigate pesanan TNI AL ini.

Untuk merakit dan memproduksi kapal PKR, terdapat 7 modul atau bagian kapal yang harus disatukan.

Untuk PKR ke-1, sebanyak 5 modul dibuat di PAL dan 2 modul dibuat di Damen. Sedangkan PKR ke-2, sebanyak 6 modul akan dibuat di PAL dan 1 modul dibuat di Damen. Selanjutnya, modul itu disatukan menjadi kapal perang utuh pada galangan kapal milik PAL di Surabaya.

"Kapal ke-3 dan seterusnya semua modul sudah bisa dibuat di Indonesia," sebutnya.

Karena PKR merupakan kapal canggih dan kelas frigate pertama diproduksi di Indonesia, PAL memperoleh proses transfer of technology dari Damen.

Badan Usaha Milik negara (BUMN) bidang perkapalan ini juga telah mengirimkan 70 insinyur ke Damen, Belanda untuk terlibat dalam proses pembelajaran pengembangan PKR secara mandiri.

"Mereka (Damen) ke Indonesia untuk mendukung alih teknologi karena kapal langsung dibangun di Indonesia. Proses pembangunan ada kerja sama alih teknologi dengan supervisor dari mereka. Di sisi lain, ada 70 orang PAL yang berangkat ke Damen untuk belajar di sana," sebutnya.


Pada peluncuran kali ini, pembangunan PKR ke-1 telah tuntas 85%. Proses selanjutnya adalah finishinghingga pengujian. Firmansyah mengaku, proses pengembangan dan perakitan light figate ini relatif lebih rumit dan sulit daripada kapal SSV.

Alhasil, PAL dan Damen membutuhkan waktu 4 tahun untuk melahirkan 1 unit PKR.

"Light frigate pembangunannya butuh 4 tahun. Dia kemampuan tempurnya beda sama SSV. SSV bukan kapal tempur tapi supporting tempur sehingga bisa (pembangunan) 2 tahun," ujarnya.

detik

Selengkapnya »
1/18/2016 01:28:00 PM | 0 komentar

Saturday, January 9, 2016

Balon Internet Helion Karya Anak bangsa Siap Mengudara

 

Di tengah euforia menyambut uji coba teknis balon Google alias Project Loon di awal kuartal pertama 2016 ini, Menkominfo Rudiantara ternyata tidak tinggal diam. Ia juga menyiapkan balon serupa karya anak bangsa bernama Loon WiFi.


Balon internet atau Loon Wifi ini namanya Helion, buatan startup INSITEK asal Bandung pimpinan anak muda yang bernama Hagorly M Hutasuhut, mahasiswa Indonesia yang pernah mengenyam pendidikan di Institut Teknologi Bandung dan University College London.

"Ini yang saya ceritakan bahwa sejak pertengahan 2015, saya sudah in contact dengan teman-teman yang mengembangkan balon yang saya istilahkan Loon Wifi. Ini sebelum saya mengambil putusan tentang Google Loon," ungkap Rudiantara.

"Ini yang saya ceritakan bahwa sejak pertengahan 2015, saya sudah in contact dengan teman-teman yang mengembangkan balon yang saya istilahkan Loon Wifi. Ini sebelum saya mengambil putusan tentang Google Loon," ungkap Rudiantara 


Selengkapnya »
1/09/2016 02:34:00 PM | 0 komentar

Wednesday, January 6, 2016

Aplikasi Dokter Hewan UGM Bantu Pecinta Binatang


Mahasiswa Universitas Gajah Mada (UGM) menciptakan sebuah aplikasi menarik penghubung dokter hewan dengan masyarakat yang membutuhkan konsultasi binatang peliharaan. Aplikasi yang diberi nama dokterhewanku.com diharapkan bisa mengurai permasalahan yang kerap dialami masyarakat pemilik hewan peliharaan.
Aplikasi tersebut dirancang tiga mahasiswa fakultas kedokteran hewan dan teknik UGM yaitu Muhammad Nuriy Nuha Naufal, Ibnu Mahmudin dari Fakultas Kedokteran Hewan, serta Nanang Makfi Mubarok (FT). Aplikasi dokterhewanku.com, kata Nury, dibuat karena melihat banyaknya permasalahan yang kerap dialami pemilik hewan peliharaan. Menurut dia, aplikasi yang dibuat bersama dua rekannya tersebut bisa menjadi opsi ruang pertemuan tak terbatas bagi dokter hewan dan pemilik hewan peliharaan.
"Sering kali pemilik hewan peliharaan kesulitan ketika ingin berkonsultasi pada dokter hewan. Melalui aplikasi ini kami ingin mempermudah pertemuan melalui smartphone atau desktop," terangnya.
Naufal yang juga telah dilantik sebagai dokter hewan menambahkan saat ini sudah ada 100 pengguna aplikasi yang terdaftar dalam aplikasi dokterhewanku.com. Seluruhnya bisa melempar pertanyaan tentang hal apa pun seputar hewan peliharaan dan permasalahannya.
"Siapa pun yang ingin berkonsultasi bisa langsung mengakses dan akan mendapatkan jawaban dari dokter hewan yang sedang online. Tapi kami tak bisa memberikan resep dan obat sifatnya hanya saran dan masukan berdasar ilmu kedokteran hewan," ungkapnya lagi.
Apabila ada permasalahan pengakses yang membutuhkan tindaklanjut, dokter hewan yang aktif dalam aplikasi akan segera memberikan rujukan klinik hewan terdekat agar lekas mendapatkan penanganan. "Harapan kami, semakin cepat mendapatkan saran maka pemilik hewan akan semakin cepat memberikan reaksi," pungkasnya.


Selengkapnya »
1/06/2016 03:17:00 PM | 0 komentar

Tuesday, January 5, 2016

Tolongi.in, Aplikasi Karya Anak Bangsa untuk Tolong Menolong



Geliat pelaku industri teknologi semakin terlihat di penjuru dunia, tak terkecuali Indonesia. Tolong.in menjadi salah satu wujud nyata geliatstartup di Indonesia.


Aplikasi berbasis fitur GPS di perangkat mobile ini memadukan platform chattingdan mesin pencarian, memudahkan mencari bantuan di sekitar lokasi pengguna sesuai dengan kebutuhan.



Melalui aplikasi ini, pengguna dapat langsung berkomunikasi dengan penyedia layanan atau yang disebut Tolong.in sebagai penolong melalui fitur chat atau panggilan telepon langsung yang tersedia pada aplikasi.



Aplikasi ini mengusung bisnis model Hyperlocal marketplace dengan konsep Online-to-Offline (O2O). Bisnis model dan konsep sederhana ini mengajak penyedia layanan untuk terjun ke ranah online tanpa meninggalkan nilai dari konsep offline.


Aplikasi Tolong.in sudah dapat dinikmati pengguna dalam versi beta. Tim Tolong.in menyebut, ingin terfokus untuk bekerjasama dengan user supply, memungkinkan pengguna yang memiliki produk atau jasa menawarkannya kepada pencari pertolongan yang membutuhkan.



Kehadiran aplikasi ini juga diharapkan dapat menjadi jembatan bagi masyarakat di seluruh wilayah Indonesia, untuk dapat menyalurkan dan menawarkan kemampuan dan kreatif mereka, serta bersaing di pasar yang lebih luas.



Tolong.In menargetkan dapat merangkul pengguna dalam jumlah besar, dan dapat mengidentifikasi kota dengan pendaftar terbanyak. Target ini akan menjadi bahan pertimbangan Tolong.In dalam menentukan strategi selanjutnya.



Saat ini, Tolong.in sedang menjadi pertimbangan oleh pemerintah kota Bandung, dan tidak menutup kemungkinan untuk bekerjasama dengan pemerintah di kota lain di Indonesia. Tolong.in juga berharap, dapat mengoptimalkan peran warga agar dapat berkontribusi positif pada kota tempat tinggalnya.

Selengkapnya »
1/05/2016 07:28:00 PM | 0 komentar

Monday, January 4, 2016

Sepeda Tenaga Surya Trendi dari Bandung


Cukup banyak para peneliti, penemu, dan mahasiswa di Indonesia membuat sepeda bertenaga surya. Hanya saja, desain sepedanya belum mengedepankan aspek produk industri.
Inilah yang menginspirasi Giasa Lutfiah membuat sepeda tenaga surya sebagai tugas akhir perkuliahannya di Program Studi Desain Produk Industri, Institut Teknologi dan Sains Bandung, Deltamas, Bekasi. Menurutnya, sepeda bertenaga surya ini dirancang tidak saja dengan mempertimbangkan aspek lingkungan, tapi juga dari sisi kenyamanan pengendaranya. Pemilihan bahan, rancang bangun berikut kelayakan produksi dilakukan sesuai dengan kebutuhan itu.
“Aspek-aspek tersebut sangat penting guna mendapatkan sebuah produk yang fungsional, bagus penampilannya, sekaligus bernilai ekonomi,” tutur Giasa Lutfiah saat memperkenalkan hasil karyanya di Sinar Mas Land Plaza, Jakarta .
Energy Bike karya Gisha Lutfiah (foto Jadiberita.com)
Dengan mekanisme kerja yang tidak menggunakan pedal serta rantai, sepeda yang dikembangkan Giasa ini lebih menyerupai autopad (otopet). Energi penggeraknya berasal dari batere yang terhubung ke motor yang terletak di as roda belakang.
Penempatan baterei di bagian bawah, sekaligus berfungsi sebagai pijakan kaki pengendara membuat penampilan sepeda bernuansa warna putih dan hijau ini tetap cantik dan lebih ramping. Saat batere habis, penggunanya mengoperasikan layaknya otoped.
Inspirasi awal Giasa datang dari kegemarannya bersepeda, dan melihat jika sepeda dapat menjadi wahana transpotasi alternatif bagi para mahasiswa ITSB seperti dirinya.
Giasha Luthfiah (foto : JPNN)
Berdasarkan hasil survei dan penyebaran kuesioner, para mahasiswa ITSB rata-rata membutuhkan waktu hingga sekitar dua jam dari tempat tinggal mereka ke kampus, dengan jarak tempuh sekitar 40 km. Jarak tersebut cukup jauh bila harus ditempuh dengan sepeda konvensional, namun menjadi masalah saat harus ditempuh memakai mobil atau sepeda  motor.
“Kemudian dikaitkan dengan upaya menggunakan energi terbarukan yang ramah lingkungan,” urainya tentang latar belakang perancangan sepeda yang dinamakannya Energy Bike.
Panel surya yang menjadi sumber utama energi berada di bagian depan. Uji coba yang dilakukan mencatat sepeda ini mampu mencapai kecepatan hingga 20 km/jam dengan beban hingga seberat 100 kg, atau setara seorang dewasa yang membawa serta seorang anak kecil. Artinya, dalam penggunaan maksimal, sepeda ini bisa dikendarai selama sekitar dua jam menempuh jarak sejauh 40 km sebelum dua buah batere berdaya 20 volt yang ada disana harus kembali diisi ulang.
Caranya dengan membiarkan panel surya yang ada terjemur di bawah sinar matahari hingga 5 jam. Tak kurang setahun lamanya Giasa melakukan riset hingga menemukan konsep desain, yang diikuti perancangan produk hingga produksi dan uji coba prototipe.
Giasa ingin pengembangan dapat terus berlanjut, baik dari sisi teknologi panel surya terkini yang lebih efisien, dan tentu saja eksplorasi desain yang lebih baik lagi.
“Kali ini desain masih harus berkompromi dengan bentuk panel surya yang digunakan. Ke depan kami berencana agar panel yang dipakai justru menyesuaikan dengan desain sepeda, sehingga Energy Bike dapat diproduksi secara massal,” ucap Giasa.

Selengkapnya »
1/04/2016 07:06:00 PM | 0 komentar

Presiden Lepas LAPAN-A2 Satelit Karya Anak Bangsa


Presiden Joko Widodo melepas pengiriman satelit ekuatorial pertama Indonesia LAPAN-A2/LAPAN-ORARI ke tempat peluncuran satelit di Pusat Teknologi Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional di Rancabungur, Kabupaten Bogor, Kamis.

"Penelitian konkrit seperti ini yabg sangat dibutuhkan," kata Presiden pada acara pelepasan pengiriman LAPAN A2 ke tempat peluncuran satelit di India.

Dia didampingi oleh Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi M Nasir, Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Thomas Djamaludin dan Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar.

Thomas Djamaluddin mengatakan LAPAN-A2 merupakan satelit karya anak bangsa, dan merupakan penerus dari pendahulunya, LAPAN A1, yang pembuatannya dilakukan di Jerman. 

"LAPAN A2 sebesar 80 persen eksperimen dan 20 persen operasional," katanya.

Ia menjelaskan bahwa LAPAN mengembangkan satelit sejak 2003 dengan mempelajarinya dari Jerman dan berhasil membuat satelit LAPAN A1. Sepulang dari Jerman, LAPAN A2 diproduksi.

Satelit LAPAN-A2 akan diorbitkan dekat equator dengan inklinasi enam derajat pada ketinggian 630 kilometer dari permukaan Bumi.

Satelit dengan bobot 78 kilogram yang akan mengorbit dekat ekuatorial dan melintasi Indonesia 14 kali sehari itu akan memantau permukaan Bumi, identifikasi kapal laut dan komunikasi radio amatir (ORARI). 

Selengkapnya »
1/04/2016 06:47:00 PM | 0 komentar

Panser Karya Anak Bangsa yang Lebih Baik dari Panser Korea


PT.Pindad (Persero) telah mengembangkan dan memproduksi panser roda 6 bernama Anoa 6X6. Panser yang laris manis ini telah dipakai oleh TNI untuk misi di dalam dan luar negeri.
Tak berhenti sampai di situ, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) bidang pertahanan ini, mengembangkan panser dengan senjata berat jenis canon. Panser ini diberi nama ‘Badak’.
Beda dengan Anoa yang lebih diperuntukan untuk angkut personil dan dilengkapi senjata ringan, Panser ‘Badak’ dilengkapi senjata berat jenis canon 90 mm di atas turret.  Konsep Panser badak mirip dengan tank namun bedanya ada di roda. Badannya seperti tank, tapi ini roda ban. Tapi basic-nya memang panser.
Untuk pengembangan turret atau canon, Pindad menggandeng perusahaan pertahanan dari Belgia yakni CMI Defence. CMI dinilai memiliki kemampuan kelas dunia dalam memproduksi turret.
Saat di medan tempur, Panser Badak bisa menahan tembakan dengan amunisi 12,7 mm. Saat ini, Panser Badak sedang melalui proses uji untuk memperoleh sertifikasi dari Dinas Penelitian dan Pengembangan TNI Angkatan Darat.
Rencananya, produksi massal dilakukan pada triwulan I-2016 setelah lolos sertifikasi.  Nama ‘Badak’ sendiri diberikan secara langsung oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) saar meninjau pameran persenjataan internasional 2014 (Indo-Defence) di JIExpo, Kemayoran, Jakarta. Pemberian nama itu dilakukan atas permintaan PT Pindad.
Berdasarkan spesifikasi yang dimiliki, panser ini dibuat khusus untuk pertempuran, beda dengan Panser Anoa yang memang dibuat untuk mengangkut pasukan. Atas alasan itu, panser ini dipasangi sistem persenjataan jenis canon berdiameter 90 milimeter.
Panser ini memuat tiga orang kru, termasuk sopir. Sesuai namanya, panser ini dipakai untuk bertahan maupun penyerangan. PT Pindad mengklaim panser ini unggul dari panser Tarantula yg produk Korea, Kenapa? Kelebihannya pada manuvernya yang lebih tinggi. Harganya sesuai dengan budget TNI dan bentuknya sesuai dengan karakteristik Asia. Harganya di bawah Tarantula.
Panser ini memiliki berat hingga 14 ton dan untuk mendukung laku kendaraan didukung dengan mesin diesel dari Renault, yaitu Diesel Inline 6 silinder Tubo Charger Intercooler berkapasitas 10.800 cc yang mampu menghasilkan tenaga sebesar 340 horsepower.
Meski berbadan besar dan dilengkapi persenjataan berat, panser ini mampu mencapai kecepatan puncak hingga 90 kilometer per jam. Tak hanya memiliki kecepatan puncak yang cukup cepat, Badak diakui memiliki kemampuan manuver yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan Panser Tarantula buatan Korea Selatan.
Sistem transmisi dari Badak sendiri menggunakan transmisi otomatis 6-percepatan. Memiliki dimensi panjang 6 meter, lebar 2.5 meter dan tinggi 2,9 meter, Badak Pindad memiliki kemampuan jelajah yang cukup luas sekitar 600 kilometer. Untuk urusan kenyamanan dan kemampuan menghadapi medan yang ekstrem, PT Pindad menyematkan Independent Double Wisbone tanpa Spring ke Badak. Hal ini ditunjang dengan ban Runflat 1100-R22,5 yang mampu berjalan dalam keadaan tanpa angin hingga sejauh 80 kilometer pada kecepatan tertentu. Keren kan?
Dari berbagai sumber

Selengkapnya »
1/04/2016 02:48:00 PM | 0 komentar

Berkat Alat ini Garis Batas Laut Indonesia akan Aman dari Penyusup


Indonesia sebagai negara maritim yang memiliki luas wilayah laut mencapai 3.544.743,9 km2, membuat para penjaga perbatasan bekerja keras untuk tetap menghalau penyusup maupun pihak-pihak yang secara ilegal masuk ke batas wilayah Indonesia. Selama ini tugas tersebut dilakukan oleh Tentara Nasional Indonesia (TNI) khususnya Angkatan Laut (AL) Republik Indonesia atau polisi laut dengan patroli berdasarkan satelit. Namun cara tersebut dianggap tidak responsif karena masih terdapat jeda waktu reaksi dari petugas.
Permasalahan lain juga dapat terjadi sebaliknya. Ternyata kasus penangkapan nelayan Indonesia di batas wilayah negara lain juga banyak terjadi karena ketidak tahuan tentang perbatasan. Sehingga hal tersebut terkadang sering menyebabkan hubungan antara Indonesia dengan negara tetangga tidak harmonis
Solusi yang coba ditawarkan oleh anak-anak muda Indonesia adalah dengan menciptakan teknologi pendeteksi batas maritim yang terpasang di masing-masing kapal milik nelayan. Anak-anak muda tersebut adalah I Made Sapta Hadi dan Bagas Lail Ramadhan, mahasiswa Jurusan Teknik Geodesi serta Imaddudin A Majid, Jurusan Teknik Elektro. Mahasiswa-mahasiswa dari Universitas Gadjah Mada (UGM) tersebut berhasil mengembangkan inovasi teknologi untuk mencegah terjadinya pelanggaran batas maritim Indonesia.
Sapta mengatakan pengembangan alat ini diawali dari keprihatinan mereka terhadap maraknya kasus pelanggaran batas maritime di wilayah perbatasan yang berujung pada penangkapan nelayan Indonesia oleh Negara tetangga. Salah satu penyebab terjadinya pelanggaran batas tersebut dikarenakan ketidaktahuan para nelayan terkait letak garis batas yang tepat. “Apalagi di tengah laut garis batasnya tidak terlihat secara nyata,” terangnya, Senin (30/11).
Di bawah bimbingan I Made Andi Arsana,Ph.D, dosen Teknik Geodesi UGM yang juga pakar di bidang batas maritim, Sapta dan kawan-kawan membuat sebuah alarm yang terintegrasi dengan Global Positioning System (GPS). Alarm yang sudah terintegrasi dengan GPS kemudian diinputkan koordinat dari batas maritim yang sudah disepakati Indonesia dengan negara tetangga.
Swates (Suwanten Wates)
Swates (Suwanten Wates)
Alat bernama Swates (Suwanten Wates) yang berarti Suara Perbatasan tersebut diklaim mudah dalam untuk dioperasikan. Swates bekerja dengan memberikan peringatan dini berupa bunyi alarm ketika alat tersebut di dekatkan ke arah perbatasan. Sehingga saat nelayan berlayar mendekati wilayah perbatasan secara otomatis alat akan langsung mengeluarkan bunyi memberikan peringatan dini agar tidak melewati batas maritim.
“Alat ini telah diuji dan mampu memberikan peringatan dini dengan ketelitian posisi mencapai 2,5 meter dari garis batas yag didefinisikan,”jelasnya.
Bagas menambahkan saat ini mereka tengah mengembangkan Swates menjadi lebih inovatif lagi. Harapannya alat ini dapat diproduksi secara masal sehingga dapat digunakan oleh banyak nelayan Indonesia di wilayah perbatasan. “Semoga nantinya tidak ada lagi nelayan yang melanggar batas maritim dan ditangkap Negara tetangga,” harapnya.
Hadirnya Swates tidak hanya mampu mencegah terjadinya pelanggaran batas maritim di Indonesia khususnya yang dilakukan oleh nelayan di wilayah perbatasan.
ugm.ac.id

Selengkapnya »
1/04/2016 12:46:00 PM | 0 komentar